By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: 1 Juta Lebih Sarjana Jadi Pengangguran, Ini Solusi untuk Generasi Muda Lebih Siap Kerja
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » 1 Juta Lebih Sarjana Jadi Pengangguran, Ini Solusi untuk Generasi Muda Lebih Siap Kerja

Terkini

1 Juta Lebih Sarjana Jadi Pengangguran, Ini Solusi untuk Generasi Muda Lebih Siap Kerja

Jack
By
Jack
12 months ago
Share
5 Min Read
Gen Z
SHARE

INVERSI.ID – Fenomena pengangguran sarjana Indonesia semakin memprihatinkan. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2025 mencatat ada 1.010.652 lulusan universitas yang masih menganggur. Jumlah ini mencerminkan perlunya perbaikan serius dalam kebijakan ketenagakerjaan dan penyiapan keterampilan kerja generasi muda yang relevan dengan kebutuhan industri.

Contents
Perlu Pusat Pelatihan dan Sistem Pembelajaran Sepanjang HayatEvaluasi Kampus, SMK, dan Ekspansi Industri ProduktifButuh Sinergi Lintas Kementerian dan Platform Digital TerpaduData Pengangguran: Sarjana di Urutan KeempatSaatnya Transformasi Pendidikan dan Ketenagakerjaan

Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti tingginya angka pengangguran yang bergelar sarjana kini telah mencapai lebih dari satu juta orang. Ia pun meminta pemerintah untuk mengambil langkah cepat dengan melibatkan lintas kementerian untuk memfasilitasi lulusan pendidikan tinggi dalam mendapatkan pekerjaan yang layak.

“Lebih dari sejuta sarjana yang menganggur menandakan sistem pendidikan kita belum terhubung dengan kebutuhan dunia kerja. Ini tantangan besar bagi arah pembangunan ekonomi nasional kita,” kata Puan saat ditemui di Jakarta pada Jumat (11/7).

Perlu Pusat Pelatihan dan Sistem Pembelajaran Sepanjang Hayat

Sebagai solusi awal, Puan mendorong pembentukan Pusat Pengembangan Keterampilan Nasional (National Skill Centers) di berbagai wilayah strategis Indonesia. Pusat ini bisa menjadi tempat pelatihan ulang (reskilling) dan pelatihan lanjutan (upskilling) bagi para pencari kerja agar siap bersaing di industri yang terus berkembang.

“Kita butuh pusat pelatihan berbasis industri yang tanggap terhadap kebutuhan zaman, mulai dari teknologi digital, pertanian modern, logistik, hingga energi terbarukan. Negara harus hadir menciptakan sistem pembelajaran seumur hidup,” tegas mantan Menko PMK itu.

Menurut Puan, fakta jutaan sarjana menganggur tidak bisa dianggap remeh. Kondisi ini menunjukkan lemahnya sistem pendidikan dan kebijakan ketenagakerjaan Indonesia secara struktural.

Evaluasi Kampus, SMK, dan Ekspansi Industri Produktif

Selain memperkuat pusat pelatihan, Puan meminta pemerintah mengevaluasi arah pendidikan tinggi dan SMK. Ia menekankan bahwa kampus dan sekolah kejuruan harus lebih adaptif terhadap perkembangan kebutuhan pasar kerja lima hingga sepuluh tahun ke depan.

“Kampus dan SMK harus menjadi bagian dari ekosistem produktif nasional, bukan sekadar pabrik gelar akademik,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyarankan adanya kebijakan ekspansi pada industri padat karya bernilai tambah, sektor hijau, dan ekonomi digital. Menurut Puan, insentif fiskal sebaiknya diarahkan untuk memperluas lapangan kerja formal, bukan hanya menumbuhkan sektor informal.

Baca Juga :

Jadwal Tayang Drama Korea The 8 Show, Full Episode 1-8
5 Rekomendasi Buku tentang Kartini, Sang Pejuang Emansipasi Wanita

“Regulasi harus mendukung lahirnya ruang kerja baru, berkualitas, dan berkelanjutan,” sambungnya.

Butuh Sinergi Lintas Kementerian dan Platform Digital Terpadu

Puan juga mendorong dibentuknya platform digital terpadu lintas kementerian. Platform ini diharapkan bisa memetakan secara dinamis kebutuhan tenaga kerja sektoral, menghubungkan pencari kerja dengan pelatihan yang tepat, dan menyediakan informasi proyeksi lapangan kerja masa depan berbasis data.

“Selama kementerian dan lembaga masih bekerja dalam sekat masing-masing, masalah pengangguran tidak akan pernah selesai. Kita butuh orkestrasi, bukan solusi parsial,” tegas Puan.

Ia menilai platform tersebut harus melibatkan kementerian terkait, antara lain Kementerian Ketenagakerjaan, Bappenas, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.

Data Pengangguran: Sarjana di Urutan Keempat

Menurut data BPS yang dikutip Kementerian Ketenagakerjaan, total pengangguran di Indonesia per Februari 2025 mencapai 7,28 juta orang atau 4,76 persen dari total angkatan kerja.

Jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, jumlah pengangguran terbanyak berasal dari lulusan SD dan SMP sebanyak 2,42 juta orang. Diikuti lulusan SMA sebanyak 2,04 juta orang, SMK sebanyak 1,63 juta orang, dan sarjana sebanyak 1,01 juta orang. Sementara itu, lulusan diploma menyumbang angka pengangguran sebesar 177 ribu orang.

Meski tidak berada di peringkat teratas, angka pengangguran sarjana Indonesia cukup memprihatinkan karena mencerminkan tidak optimalnya pendidikan tinggi sebagai jembatan menuju dunia kerja.

Saatnya Transformasi Pendidikan dan Ketenagakerjaan

Lonjakan angka pengangguran sarjana Indonesia menjadi sinyal kuat bagi pemerintah untuk segera melakukan transformasi di sektor pendidikan, ketenagakerjaan, dan investasi industri. Tanpa kebijakan terintegrasi, generasi muda berisiko kehilangan masa depan produktifnya.

Peningkatan keterampilan kerja generasi muda melalui pelatihan berbasis industri, pembelajaran seumur hidup, dan ekosistem digital yang inklusif menjadi kunci utama. Langkah korektif harus dimulai sekarang, agar bonus demografi benar-benar menjadi peluang emas, bukan sekadar beban ekonomi.***

You Might Also Like

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat
Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur
TAGGED:Generasi mudaPengangguranSarjana
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Kanker Semakin Mengancam Generasi Muda, Waspadai Gaya Hidup Tidak Sehat
Next Article Bukan Sekadar Viral, Ini Alasan Anak Muda Jatuh Cinta pada Padel
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

15 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

17 hours ago
Pildun 2026Terkini

Belgia Terancam Pulang Lagi, Iran Bikin Kejutan! Grup G Piala Dunia Makin Brutal

2 days ago
Pildun 2026Terkini

Cape Verde Tinggal Selangkah Ukir Sejarah ke Babak Gugur Piala Dunia

2 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index