Inversi Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh peserta didik SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda). Dua siswi kelas XII, Fathiya Galuh Iswardani (kelas XII-1) dan Fatimah Khalila (kelas XII-3), berhasil meraih medali perak (silver medal) dalam ajang Indonesia International Applied Science Olympiad (I2ASPO).
Kompetisi riset internasional berbasis daring tersebut diikuti oleh pelajar dari berbagai negara dan menantang peserta untuk menghadirkan solusi sains terapan yang berdampak bagi masyarakat luas. Dalam ajang tersebut, Fathiya dan Fatimah mengusung karya ilmiah berjudul “PEARL: A Chitosan-Biochar Composite Hydrogel as an Eco-Friendly Absorbent for Textile Dye Removal”.
Penelitian ini berangkat dari kepedulian mereka terhadap persoalan pencemaran lingkungan akibat limbah industri tekstil, khususnya limbah zat warna yang masih menjadi masalah serius di berbagai daerah.
Melalui penelitian tersebut, keduanya menawarkan solusi ramah lingkungan berupa hidrogel berbasis kitosan dan biochar yang berfungsi sebagai penyerap zat warna tekstil. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengolahan limbah yang lebih aman, efektif, dan berkelanjutan dibandingkan metode konvensional yang berpotensi mencemari lingkungan.
“Penelitian ini memang kami rancang untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Kami ingin memberikan kontribusi, bukan sekadar membuat karya untuk keperluan lomba,” ujar Fathiya Galuh Iswardani saat ditemui usai pengumuman hasil kompetisi.
Namun, perjalanan menuju pencapaian tersebut tidak berlangsung mudah. Pada tahap awal penelitian, Fathiya dan Fatimah sempat mengembangkan konsep yang lebih kompleks, yakni mengombinasikan hidrogel dengan konsorsium mikroba agar limbah tidak hanya terserap, tetapi juga dapat terurai secara biologis. Sayangnya, konsep tersebut harus ditinggalkan akibat faktor eksternal yang menyebabkan mikroba tidak dapat bertahan hidup.
Kegagalan tersebut berdampak besar terhadap proses penelitian. Selain menguras tenaga dan biaya, waktu yang tersisa untuk menyelesaikan riset juga sangat terbatas, yakni hanya sekitar satu hingga dua minggu menjelang batas akhir pengumpulan karya.
“Kami sempat merasa sangat terpuruk selama dua hari. Rasanya semua usaha yang sudah dilakukan seperti sia-sia,” ungkap Fatimah Khalila. Meski demikian, keduanya tidak menyerah. Mereka kemudian mengevaluasi ulang konsep penelitian dan menyusun strategi baru yang lebih realistis serta memungkinkan untuk diselesaikan dalam waktu singkat.
Tantangan berikutnya muncul saat hari presentasi. Pada waktu yang bersamaan, Fathiya dan Fatimah harus mengikuti kegiatan FISA, sehingga presentasi penelitian terpaksa dilakukan dalam kondisi yang jauh dari ideal. Mereka bahkan harus mempresentasikan karya ilmiah dari dalam bus saat jam istirahat makan siang, hanya menggunakan satu perangkat, dengan berbagai kendala teknis yang tidak terduga.
“Kami menyadari presentasi kami tidak maksimal. Banyak hal yang di luar rencana. Mungkin itu juga yang membuat kami belum bisa meraih medali emas,” ujar keduanya. Meski demikian, mereka tetap bersyukur atas pencapaian yang diraih dan mengaku bangga dapat membawa pulang medali perak di ajang internasional.
Secara keseluruhan, proses penelitian memakan waktu sekitar satu setengah bulan, mulai dari eksplorasi ide, pengurusan izin penggunaan Laboratorium Mikrobiologi Universitas Airlangga (Unair), hingga pelaksanaan eksperimen akhir. Keduanya mengaku fase persiapan menjadi bagian paling berkesan karena diwarnai diskusi intensif, pertukaran ide, serta semangat untuk menghasilkan karya terbaik.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan penuh orang tua dan pihak sekolah. Sejak awal, inisiatif penelitian mereka mendapat sambutan positif, baik dalam bentuk perizinan, pendampingan akademik, maupun dukungan moral.
Guru pembimbing, Eka Haris Prastiwi, menyampaikan apresiasinya atas ketekunan dan kedewasaan sikap yang ditunjukkan oleh Fathiya dan Fatimah selama proses penelitian. Menurutnya, pencapaian ini bukan semata-mata tentang perolehan medali, melainkan tentang proses pembelajaran yang bernilai tinggi.
“Mereka menunjukkan ketangguhan luar biasa. Setelah mengalami kegagalan besar di awal, mereka tidak berhenti, tetapi justru berani mengevaluasi dan mengubah strategi. Ini merupakan karakter peneliti sejati yang perlu terus dikembangkan di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Ia juga menilai pengalaman ini membuktikan bahwa pembelajaran berbasis riset dan proyek mampu membentuk pola pikir kritis, kolaboratif, dan solutif pada peserta didik. Eka berharap prestasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi siswa Smamda lainnya untuk berani mencoba dan tidak takut menghadapi kegagalan.
Bagi Fathiya dan Fatimah, capaian ini memiliki makna tersendiri karena menjadi kemenangan pertama mereka di ajang penelitian internasional, setelah sebelumnya sempat mengalami kegagalan dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).
“Rasanya sangat lega dan membahagiakan. Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya,” ujar mereka. Keduanya pun berpesan kepada rekan-rekan siswa yang memiliki minat di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) agar tidak ragu mengikuti kompetisi riset.
“Pengalaman penelitian seperti ini akan sangat berguna di dunia perkuliahan dan dunia kerja nanti. Ini adalah bekal yang sangat berharga,” pungkas mereka.