JAKARTA – Sebuah angka yang mengejutkan datang dari survei terbaru Indikator Politik Indonesia pada Januari 2026, yakni tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mendekati 80%, tepatnya, 79,9%. Yang lebih menarik, kelompok yang menunjukkan kepuasan tertinggi adalah Generasi Z.
Fenomena ini memicu pertanyaan, mengapa generasi yang sering dianggap kritis dan melek informasi ini justru menjadi pendukung paling solid bagi pemerintah? Dalam wawancara di you tube “Titik Imbang” yang tayang Rabu, 18 Februari 2026, Profesor Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator Politik, menyatakan ada dua faktor kunci yang saling berkelindan, yaitu efek partisan yang kuat dan paradoks teknologi yang membentuk cara mereka berpikir.
Dalam ilmu politik, “efek partisan” adalah sebuah fenomena di mana seseorang akan cenderung mendukung dan menilai positif semua kebijakan yang dikeluarkan oleh tokoh atau partai politik yang mereka dukung, terlepas dari kualitas kebijakan tersebut.
“Data menunjukkan bahwa loyalitas ini menjadi pendorong utama kepuasan Gen Z. Pada Pemilu 2024, Gen Z menjadi salah satu basis pendukung terbesar Prabowo Subianto. Menurut data Indikator Politik, 71% dari Gen Z memberikan suaranya untuk Prabowo di Pemilu 2024,” ujar Burhanuddin.
Keterikatan emosional yang terbentuk selama kampanye ini tampaknya berlanjut pasca-pemilu. Ketika mereka yang telah memilih Prabowo ditanya tentang kinerjanya, jawaban mereka cenderung positif sebagai bentuk justifikasi dan afirmasi atas pilihan mereka sebelumnya.
“Apapun yang dilakukan Pak Prabowo buat kaum partisan, meskipun secara rasional kurang memuaskan, mereka merasakan puas. Nah, itu yang disebut dengan istilah efek partisan,” tambahnya dalam wawancara tersebut.
Hal ini terlihat jelas dalam evaluasi mereka terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meskipun banyak dari Gen Z bukan merupakan penerima manfaat langsung dari program ini, mereka tetap menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi. Kepuasan ini tidak lahir dari evaluasi rasional atas efektivitas program, melainkan dari loyalitas partisan terhadap presiden yang mereka pilih.
Faktor kedua yang lebih fundamental adalah dampak teknologi terhadap cara Gen Z mengonsumsi informasi dan berpikir. Profesor Burhanuddin, dalam wawancara dan juga dalam artikelnya di jurnal Cambridge University Press, “Complacent Democrats”, mengemukakan sebuah hipotesis yang menarik.
“Generasi Gen Z ini lain ceritanya… kualitas numerik, kualitas comprehension-nya, kualitas apapun lebih rendah dibanding generasi milenial,” ungkapnya. Ia mengutip penelitian pakar neuroscience yang mengaitkan fenomena ini dengan masifnya penggunaan teknologi, dari video berdurasi pendek seperti TikTok hingga ketergantungan pada kecerdasan buatan (AI).
Keterpaparan konstan terhadap konten yang serba cepat, visual, dan berorientasi pada hiburan—seperti kampanye “gemoy” yang viral di TikTok—berpotensi membentuk cara berpikir yang lebih simple dan kurang kritis. Platform ini terbukti menjadi alat kampanye yang sangat efektif pada pemilu 2024.
“Tingginya tingkat kepuasan Gen Z terhadap kinerja Presiden Prabowo bukanlah sebuah anomali. Ini adalah cerminan dari pergeseran lanskap politik dan informasi di era digital. Kepuasan mereka lebih didorong oleh loyalitas partisan yang kuat dan dibentuk oleh ekosistem media yang mengutamakan kecepatan dan sentimen di atas analisis kritis,” tutup Burhanuddin.