INVERSI.ID – Survei kinerja gubernur terbaru yang dilakukan Lembaga Survei Muda Bicara ID mengungkap fakta menarik mengenai pandangan generasi muda terhadap kepemimpinan daerah di Indonesia. Survei yang dirilis pada Kuartal II tahun 2025 ini memperlihatkan bahwa tingkat ketidakpuasan anak muda terhadap kinerja gubernur masih tergolong tinggi, meskipun beberapa kepala daerah tetap mendapatkan apresiasi positif.
Berdasarkan hasil survei kinerja gubernur tersebut, mayoritas anak muda mengaku belum puas dengan arah kebijakan dan program kerja pemimpin daerah mereka. Dari total 400 responden yang tersebar di berbagai provinsi, sebanyak 51 persen menyatakan tidak puas atau sangat tidak puas dengan kinerja gubernur di wilayah masing-masing. Sementara itu, hanya 49 persen yang mengaku puas atau sangat puas.
Temuan survei kinerja gubernur ini menunjukkan bahwa generasi muda menaruh ekspektasi besar terhadap kepala daerah. Mereka berharap pemimpin daerah mampu merancang kebijakan yang pro-generasi muda, responsif terhadap kebutuhan zaman, dan berdampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.
Dalam keterangan resminya, Muda Bicara ID menyebut bahwa angka ketidakpuasan yang cukup tinggi pada hasil survei kinerja gubernur menjadi sinyal bahwa anak muda menginginkan perubahan signifikan di tingkat daerah. “Angka ketidakpuasan ini menandakan bahwa anak muda menaruh harapan tinggi terhadap kepemimpinan daerah, namun merasa banyak hal belum menjawab kebutuhan mereka,” tulis laporan resmi lembaga tersebut.
Meski secara umum tingkat kepuasan rendah, survei kinerja gubernur ini juga menampilkan daftar gubernur yang dinilai memiliki kinerja terbaik. Penilaian tersebut didasarkan pada berbagai faktor, termasuk kebijakan yang dianggap progresif, keterlibatan langsung dengan masyarakat, hingga kemampuan merespons isu-isu terkini.
Lima Gubernur dengan Kinerja Terbaik Versi Anak Muda
Di peringkat teratas hasil survei kinerja gubernur, nama Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta, muncul dengan perolehan 30,67 persen suara. Ia dinilai sukses menjalankan program yang berpihak pada anak muda, mulai dari peningkatan fasilitas publik hingga inisiatif di bidang ekonomi kreatif dan teknologi. Popularitasnya di kalangan generasi muda tidak lepas dari gaya kepemimpinan yang dianggap terbuka terhadap kritik dan ide baru.
Posisi kedua survei kinerja gubernur ditempati Sri Sultan Hamengku Buwono X dari Daerah Istimewa Yogyakarta dengan 24,44 persen. Sri Sultan dianggap mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan kemajuan daerah, sehingga Yogyakarta tetap menjadi magnet bagi anak muda di bidang pendidikan dan pariwisata.
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, berada di posisi ketiga dengan 18,67 persen suara. Ia dikenal dengan berbagai program pembangunan infrastruktur dan pengembangan UMKM. Namun, uniknya, Dedi juga masuk daftar gubernur dengan kinerja terburuk menurut 11,30 persen responden, menjadikannya sosok yang polarizing.
Di peringkat keempat, ada Muzakir Manaf atau Mualem, Gubernur Aceh, yang memperoleh 17,78 persen suara hasil survei kinerja gubernur. Sosoknya diapresiasi atas upayanya mendorong pembangunan ekonomi lokal dan peningkatan kualitas pendidikan di Aceh.
Sementara itu, di posisi kelima, terdapat Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara, dengan perolehan 8,44 persen suara. Meski wilayahnya relatif kecil, Sherly dinilai berhasil meningkatkan infrastruktur dan akses layanan publik di Maluku Utara.
Daftar Lima Besar Gubernur Terbaik Versi Anak Muda:
- Pramono Anung (Gubernur DKI Jakarta) – 30,67%
- Sri Sultan Hamengku Buwono X (Gubernur DIY) – 24,44%
- Dedi Mulyadi (Gubernur Jawa Barat) – 18,67%
- Muzakir Manaf atau Mualem (Gubernur Aceh) – 17,78%
- Sherly Tjoanda (Gubernur Maluku Utara) – 8,44%
Fenomena Gubernur Polarizing
Fenomena unik muncul dari nama Dedi Mulyadi. Meski berada di tiga besar gubernur terbaik versi anak muda, ia juga dipilih oleh sebagian responden sebagai gubernur dengan kinerja terburuk. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan tajam dalam persepsi publik, yang kemungkinan dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan dan prioritas kebijakan yang ia jalankan.
Menurut pengamat politik daerah, hal ini tidak selalu negatif. Seorang pemimpin yang tegas dan berani mengambil keputusan sering kali memicu pro dan kontra di masyarakat. Namun, di era keterbukaan informasi seperti sekarang, kemampuan menjelaskan kebijakan secara transparan menjadi kunci untuk membangun kepercayaan publik.
Makna di Balik Angka
Jika melihat hasil survei ini secara keseluruhan, terlihat bahwa kepuasan anak muda terhadap gubernur belum merata di seluruh Indonesia. Hanya beberapa kepala daerah yang mampu menciptakan kebijakan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan generasi muda. Sebagian lainnya dinilai kurang inovatif dan masih terjebak dalam pola kepemimpinan konvensional.
Ketidakpuasan ini bisa menjadi alarm bagi para gubernur untuk mengevaluasi program kerja mereka. Generasi muda saat ini dikenal kritis, melek teknologi, dan cepat bereaksi terhadap kebijakan yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Oleh karena itu, pemimpin daerah perlu lebih proaktif melibatkan anak muda dalam proses pengambilan keputusan.
Rekomendasi untuk Pemimpin Daerah
Hasil survei ini memberikan sejumlah pelajaran bagi gubernur dan pejabat publik lainnya. Pertama, pentingnya membangun komunikasi dua arah dengan masyarakat, khususnya generasi muda. Kedua, perlunya inovasi dalam program kerja, terutama di bidang yang dekat dengan kehidupan anak muda seperti pendidikan, lapangan kerja, teknologi, dan ruang kreativitas. Ketiga, pemimpin daerah harus mampu menyeimbangkan pencapaian pembangunan fisik dengan pembangunan sumber daya manusia.
Selain itu, keterbukaan terhadap kritik dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman menjadi faktor yang membedakan pemimpin yang dihargai publik dengan yang kehilangan kepercayaan masyarakat.
Survei kinerja gubernur yang dilakukan Muda Bicara ID mengungkapkan bahwa tingkat ketidakpuasan anak muda terhadap kepemimpinan daerah masih tinggi. Meski ada sejumlah nama gubernur yang mendapatkan apresiasi besar, sebagian lainnya dinilai belum mampu menjawab tantangan zaman dan kebutuhan generasi muda.
Dengan meningkatnya kesadaran politik di kalangan anak muda, gubernur di seluruh Indonesia diharapkan mampu bertransformasi menjadi pemimpin yang tidak hanya responsif terhadap masalah, tetapi juga visioner dalam membangun masa depan daerah. Jika harapan ini mampu diwujudkan, bukan mustahil tingkat kepuasan publik di masa mendatang akan jauh lebih tinggi.