INVERSI.ID – Tingkat pengangguran anak muda di Indonesia masih berada pada level yang tinggi, bahkan jauh di atas rata-rata nasional. Berdasarkan data terbaru dari Booklet Sakernas Februari 2025, tingkat pengangguran Indonesia pada usia muda tercatat di angka 16,16%. Meski mengalami sedikit penurunan 0,26% dibanding Februari 2024, angka ini tetap mengkhawatirkan karena hampir empat kali lipat dari rata-rata nasional.
Sebagai catatan, angka tersebut berarti bahwa dari setiap 100 orang penduduk usia 15–24 tahun yang sudah masuk angkatan kerja, sekitar 16 orang di antaranya masih menganggur. Jika melihat proporsi penduduk muda secara keseluruhan, tingkat pengangguran mereka berada di kisaran 8,01%.
Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat bahwa dari total 44,26 juta penduduk muda Indonesia, sekitar 3,6 juta di antaranya masuk kategori pengangguran usia muda. Angka ini menunjukkan bahwa separuh lebih dari total penganggur nasional adalah anak muda yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Pengangguran Usia Muda Mendominasi Setengah Penganggur Nasional
Data BPS Februari 2025 menunjukkan bahwa jumlah pengangguran nasional mencapai 7,26 juta orang atau sekitar 4,76% dari total 153,05 juta angkatan kerja di Indonesia. Dari jumlah ini, anak muda menyumbang porsi terbesar, yaitu 48,77% atau hampir setengah dari total penganggur nasional.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengangguran usia muda masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah maupun pelaku industri. Pasalnya, para lulusan baru yang berusia muda harus bersaing ketat di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan.
Hal ini juga memperlihatkan adanya kesenjangan antara pendidikan formal yang ditempuh anak muda dengan kebutuhan keterampilan yang dicari oleh dunia kerja saat ini.
Mayoritas Lulusan SMA Masih Mendominasi Angkatan Kerja Muda
Jika dilihat dari segi pendidikan, sebagian besar angkatan kerja muda didominasi oleh lulusan SMA atau sederajat. Data menunjukkan bahwa 60,93% anak muda yang masuk angkatan kerja hanya memiliki ijazah SMA.
Sementara itu, hanya sekitar 8,78% dari total penduduk muda yang memiliki pendidikan diploma atau sarjana ke atas. Rendahnya proporsi lulusan perguruan tinggi ini menjadi salah satu faktor yang membuat daya saing anak muda Indonesia di pasar kerja kurang optimal.
Padahal, banyak pekerjaan formal dengan gaji layak kini menuntut pendidikan tinggi atau keahlian khusus yang jarang dimiliki oleh lulusan SMA.
Mayoritas Belum Pernah Bekerja
Dalam laporan BPS pada Agustus 2024, jumlah pengangguran muda bahkan sempat mencapai 3,92 juta orang. Dari angka tersebut, sekitar 2,8 juta orang belum pernah bekerja sama sekali, sementara 1,1 juta sisanya adalah mereka yang sebelumnya sudah pernah bekerja namun kemudian berhenti.
Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak anak muda kesulitan mendapatkan pengalaman kerja pertama yang penting untuk membuka peluang karier berikutnya. Minimnya program magang atau pelatihan kerja yang relevan juga membuat mereka kerap kalah bersaing dengan pencari kerja yang lebih berpengalaman.
Tantangan Besar di Tengah Sedikitnya Lowongan
Tingginya tingkat pengangguran anak muda juga menjadi cerminan dari masih terbatasnya penciptaan lapangan kerja baru. Dengan jumlah pencari kerja yang terus meningkat setiap tahunnya, sementara peluang kerja tidak bertambah secara signifikan, kompetisi menjadi semakin ketat.
Banyak perusahaan juga lebih memilih kandidat dengan pengalaman kerja atau keahlian teknis tertentu yang belum dimiliki oleh sebagian besar anak muda. Akibatnya, banyak lulusan SMA maupun sarjana baru yang akhirnya menganggur lebih lama.
Di sisi lain, perkembangan teknologi dan otomatisasi turut menggeser jenis pekerjaan yang tersedia. Banyak pekerjaan entry-level kini digantikan oleh teknologi, sehingga anak muda perlu lebih cepat beradaptasi dengan keterampilan baru yang relevan.
Perlu Strategi Jangka Panjang
Masih tingginya pengangguran anak muda di Indonesia menjadi tantangan serius yang perlu segera ditangani. Pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor swasta perlu bekerja sama untuk meningkatkan akses pelatihan kerja, memperkuat program link and match antara sekolah dan industri, serta memperluas penciptaan lapangan kerja baru yang ramah bagi lulusan muda.
Bagi generasi muda sendiri, penting untuk lebih proaktif mengembangkan keterampilan yang relevan, baik melalui pendidikan formal, kursus, maupun magang. Tantangan memang besar, tetapi dengan strategi yang tepat, potensi besar anak muda Indonesia bisa menjadi modal pembangunan ekonomi di masa depan.
Kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi dan keterampilan kerja bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk bisa bersaing di era yang makin kompetitif.