INVERSI.ID – Doom spending kian populer di kalangan anak muda, khususnya generasi milenial dan gen Z. Istilah doom spending merujuk pada kebiasaan belanja impulsif yang dilakukan untuk merespons stres, kecemasan, atau ketakutan akan masa depan yang tidak pasti. Fenomena ini tidak lepas dari pengaruh media sosial dan gaya hidup yang serba instan.
Banyak anak muda memilih menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang memberi perasaan lega atau bahagia sementara, seperti belanja online atau mengikuti tren kekinian. Sayangnya, perilaku doom spending anak muda ini bisa menjadi kebiasaan berbahaya jika terus dilakukan tanpa perencanaan keuangan yang matang. Apalagi, saat ini berbelanja bisa dilakukan instan dengan opsi kartu kredit atau pay later.
Menanggapi fenomena ini, Faculty Head Sequis Quality Builder, Sequis Training Academy of Excellence (STAE), Fandi Murdani mengatakan, doom spending berpotensi menjadi masalah serius jika tidak dikendalikan.
“Doom spending sebenarnya tidak mendatangkan kebahagiaan jangka panjang, malah bisa merusak stabilitas keuangan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (9/7).
Doom Spending dan Pengaruh Media Sosial
Belanja impulsif banyak dipengaruhi paparan media sosial yang menampilkan gaya hidup serba mewah atau tren viral. Anak muda sering kali merasa terdorong untuk membeli sesuatu demi terlihat “kekinian” di mata teman-temannya. Akibatnya, banyak yang mengandalkan kartu kredit atau layanan pay later saat dana tabungan tak mencukupi.
Fandi menyebutkan bahwa kondisi ini bisa berdampak buruk pada kesehatan finansial.
“Menghentikan doom spending bukan berarti menghentikan kebahagiaan. Justru dengan mengelola pengeluaran secara sehat, kita bisa menikmati hidup saat ini sekaligus mempersiapkan masa depan lebih baik,” jelasnya.
Alternatif Mengelola Emosi Tanpa Belanja
Salah satu alasan utama doom spending adalah keinginan melampiaskan emosi negatif. Fandi menyarankan agar anak muda mencari alternatif lain untuk mengatur stres. Misalnya dengan meditasi, olahraga, menekuni hobi, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.
“Ketika merasa stres, coba jangan langsung buka aplikasi belanja online. Banyak cara lain untuk mengelola emosi tanpa menguras tabungan,” katanya.
Rancang Keuangan dengan Skala Prioritas
Generasi milenial yang sudah memiliki penghasilan cenderung lebih mudah tergoda untuk berbelanja. Oleh karena itu, Fandi menekankan pentingnya disiplin membuat perencanaan keuangan yang realistis.
Ia menyarankan untuk membagi anggaran dengan rumus sederhana 40-30-20-10:
- 40% untuk kebutuhan sehari-hari
- 30% untuk cicilan atau utang
- 20% untuk tabungan dan investasi
- 10% untuk kegiatan sosial
Dengan perencanaan ini, anak muda tetap bisa menikmati gaya hidup seperti liburan, belanja, atau nongkrong, tanpa merusak keuangan.
Siapkan Dana Darurat
Dana darurat adalah salah satu pos terpenting dalam perencanaan keuangan. Fandi menyarankan untuk mengalokasikan minimal 10% penghasilan ke dana darurat, lalu meningkatkannya hingga 20% jika sudah terbiasa.
Dana darurat penting untuk mengantisipasi kejadian tak terduga seperti perbaikan rumah, kendaraan, atau biaya medis mendesak.
“Dana darurat bisa menjadi penyelamat saat kita belum bisa mencairkan investasi atau mendapatkan pinjaman,” ucapnya.
Miliki Asuransi Kesehatan dan Jiwa
Selain dana darurat, asuransi juga menjadi bagian penting dari strategi keuangan sehat. Asuransi kesehatan melindungi dari risiko biaya medis yang mahal, sementara asuransi jiwa membantu menjamin kelangsungan hidup keluarga jika terjadi risiko kematian.
Fandi berpesan agar anak muda tidak skeptis terhadap asuransi.
“Selama kondisi masih sehat dan usia produktif, asuransi adalah salah satu strategi keuangan paling efektif,” tambahnya.
Mulai Berinvestasi Sejak Dini
Daripada uang habis untuk doom spending, anak muda disarankan mulai belajar berinvestasi. Investasi membantu menjaga aset dari inflasi, menyiapkan dana masa depan, dan memperkuat kemandirian finansial.
Bagi pemula, Fandi menyarankan untuk mencoba produk berisiko rendah seperti deposito atau reksa dana. Setelah paham profil risiko, barulah bisa mencoba obligasi atau saham. Yang terpenting, pilih jalur investasi resmi yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Doom Spending Bukan Solusi Bahagia
Fandi mengingatkan bahwa doom spending hanya memberi kesenangan sesaat, tetapi membahayakan dalam jangka panjang. Dengan perencanaan keuangan yang baik, anak muda tetap bisa menikmati hidup tanpa harus terjerat utang atau kebiasaan boros.
“Menghentikan doom spending berarti memilih jalan untuk mencapai masa depan yang lebih baik, bukan mengorbankan kebahagiaan,” tutupnya.***