By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Stop Doom Spending! Tips Anak Muda Kelola Keuangan demi Masa Depan
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Stop Doom Spending! Tips Anak Muda Kelola Keuangan demi Masa Depan

LifeStyle

Stop Doom Spending! Tips Anak Muda Kelola Keuangan demi Masa Depan

Jack
By
Jack
9 months ago
Share
5 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Doom spending kian populer di kalangan anak muda, khususnya generasi milenial dan gen Z. Istilah doom spending merujuk pada kebiasaan belanja impulsif yang dilakukan untuk merespons stres, kecemasan, atau ketakutan akan masa depan yang tidak pasti. Fenomena ini tidak lepas dari pengaruh media sosial dan gaya hidup yang serba instan.

Contents
Doom Spending dan Pengaruh Media SosialAlternatif Mengelola Emosi Tanpa BelanjaRancang Keuangan dengan Skala PrioritasSiapkan Dana DaruratMiliki Asuransi Kesehatan dan JiwaMulai Berinvestasi Sejak DiniDoom Spending Bukan Solusi Bahagia

Banyak anak muda memilih menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang memberi perasaan lega atau bahagia sementara, seperti belanja online atau mengikuti tren kekinian. Sayangnya, perilaku doom spending anak muda ini bisa menjadi kebiasaan berbahaya jika terus dilakukan tanpa perencanaan keuangan yang matang. Apalagi, saat ini berbelanja bisa dilakukan instan dengan opsi kartu kredit atau pay later.

Menanggapi fenomena ini, Faculty Head Sequis Quality Builder, Sequis Training Academy of Excellence (STAE), Fandi Murdani mengatakan, doom spending berpotensi menjadi masalah serius jika tidak dikendalikan.

“Doom spending sebenarnya tidak mendatangkan kebahagiaan jangka panjang, malah bisa merusak stabilitas keuangan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (9/7).


Doom Spending dan Pengaruh Media Sosial

Belanja impulsif banyak dipengaruhi paparan media sosial yang menampilkan gaya hidup serba mewah atau tren viral. Anak muda sering kali merasa terdorong untuk membeli sesuatu demi terlihat “kekinian” di mata teman-temannya. Akibatnya, banyak yang mengandalkan kartu kredit atau layanan pay later saat dana tabungan tak mencukupi.

Fandi menyebutkan bahwa kondisi ini bisa berdampak buruk pada kesehatan finansial.

“Menghentikan doom spending bukan berarti menghentikan kebahagiaan. Justru dengan mengelola pengeluaran secara sehat, kita bisa menikmati hidup saat ini sekaligus mempersiapkan masa depan lebih baik,” jelasnya.

Alternatif Mengelola Emosi Tanpa Belanja

Salah satu alasan utama doom spending adalah keinginan melampiaskan emosi negatif. Fandi menyarankan agar anak muda mencari alternatif lain untuk mengatur stres. Misalnya dengan meditasi, olahraga, menekuni hobi, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

“Ketika merasa stres, coba jangan langsung buka aplikasi belanja online. Banyak cara lain untuk mengelola emosi tanpa menguras tabungan,” katanya.

Baca Juga :

Kecemasan Iklim, Ancaman Nyata bagi Kesehatan Mental Anak Muda
Mirip Tapi Tak Sama dengan ‘KKN di Desa Penari’, Film ‘Pabrik Gula’ Telah Tembus Lebih dari 1 Juta Penonton

Rancang Keuangan dengan Skala Prioritas

Doom Spending

Generasi milenial yang sudah memiliki penghasilan cenderung lebih mudah tergoda untuk berbelanja. Oleh karena itu, Fandi menekankan pentingnya disiplin membuat perencanaan keuangan yang realistis.

Ia menyarankan untuk membagi anggaran dengan rumus sederhana 40-30-20-10:

  • 40% untuk kebutuhan sehari-hari
  • 30% untuk cicilan atau utang
  • 20% untuk tabungan dan investasi
  • 10% untuk kegiatan sosial

Dengan perencanaan ini, anak muda tetap bisa menikmati gaya hidup seperti liburan, belanja, atau nongkrong, tanpa merusak keuangan.

Siapkan Dana Darurat

Dana darurat adalah salah satu pos terpenting dalam perencanaan keuangan. Fandi menyarankan untuk mengalokasikan minimal 10% penghasilan ke dana darurat, lalu meningkatkannya hingga 20% jika sudah terbiasa.

Dana darurat penting untuk mengantisipasi kejadian tak terduga seperti perbaikan rumah, kendaraan, atau biaya medis mendesak.

“Dana darurat bisa menjadi penyelamat saat kita belum bisa mencairkan investasi atau mendapatkan pinjaman,” ucapnya.

Miliki Asuransi Kesehatan dan Jiwa

Selain dana darurat, asuransi juga menjadi bagian penting dari strategi keuangan sehat. Asuransi kesehatan melindungi dari risiko biaya medis yang mahal, sementara asuransi jiwa membantu menjamin kelangsungan hidup keluarga jika terjadi risiko kematian.

Fandi berpesan agar anak muda tidak skeptis terhadap asuransi.

“Selama kondisi masih sehat dan usia produktif, asuransi adalah salah satu strategi keuangan paling efektif,” tambahnya.


Mulai Berinvestasi Sejak Dini

Daripada uang habis untuk doom spending, anak muda disarankan mulai belajar berinvestasi. Investasi membantu menjaga aset dari inflasi, menyiapkan dana masa depan, dan memperkuat kemandirian finansial.

Bagi pemula, Fandi menyarankan untuk mencoba produk berisiko rendah seperti deposito atau reksa dana. Setelah paham profil risiko, barulah bisa mencoba obligasi atau saham. Yang terpenting, pilih jalur investasi resmi yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Doom Spending Bukan Solusi Bahagia

Fandi mengingatkan bahwa doom spending hanya memberi kesenangan sesaat, tetapi membahayakan dalam jangka panjang. Dengan perencanaan keuangan yang baik, anak muda tetap bisa menikmati hidup tanpa harus terjerat utang atau kebiasaan boros.

“Menghentikan doom spending berarti memilih jalan untuk mencapai masa depan yang lebih baik, bukan mengorbankan kebahagiaan,” tutupnya.***

You Might Also Like

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027
Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta
Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos
Harga Avtur Melonjak, Kemenpar dan Kemenhub Cari Cara Jaga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau
Tak Hanya Bali, Kemenpar Genjot 10 Destinasi Prioritas untuk Tarik Wisatawan Mancanegara
TAGGED:Anak MudaDoom SpendingTips
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article HPV Jadi Ancaman Kesehatan Anak Muda, Kenali Risiko dan Cara Mencegahnya
Next Article Krisis Pekerjaan untuk Fresh Graduate di AS Bikin Banyak Anak Muda Jadi Pengangguran
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Beda dengan Wisata Kuliner, Gastronomi Tawarkan Cerita dan Warisan Budaya Nusantara

1 week ago
Travel

Tak Mau Tertinggal dari Vietnam, Indonesia Siapkan Jurus Baru Dongkrak Pariwisata

1 week ago
Travel

Instalasi Sunflower Angel Jadi Magnet Baru di Candi Prambanan, Pengunjung Membludak

2 weeks ago
Travel

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Layani Lebih dari 1,2 Juta Penumpang

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index