INVERSI.ID – Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh sejak pertengahan November 2025 terus menyisakan duka mendalam bagi masyarakat. Hingga Rabu malam, Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh mencatat jumlah korban meninggal dunia mencapai 305 jiwa, sementara 191 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Angka tersebut diperbarui berdasarkan laporan resmi yang terus masuk dari berbagai wilayah terdampak.
Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin, dalam keterangannya di Banda Aceh menegaskan bahwa data korban terus bergerak seiring intensitas pencarian dan evakuasi di lapangan.
“Korban meninggal kembali bertambah hari ini berdasarkan laporan dari daerah,” kata Murthalamuddin.
Dampak Bencana Meluas ke 18 Kabupaten/Kota
Bencana hidrometeorologi ini tercatat sebagai salah satu kejadian terbesar yang pernah terjadi di Aceh dalam satu dekade terakhir. Sejak 18 November 2025, banjir dan longsor yang terjadi secara beruntun telah berdampak luas pada 18 kabupaten/kota, mencakup 229 kecamatan dan 3.310 gampong (desa).
Murthalamuddin menjelaskan bahwa intensitas curah hujan ekstrem memicu banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah daerah yang sebelumnya tidak termasuk zona rawan. Banyak wilayah yang awalnya diperkirakan aman justru mengalami kerusakan parah, terutama kawasan yang dilalui aliran sungai besar.
Total warga terdampak kini mencapai 326.800 kepala keluarga (KK) atau setara dengan 1.599.740 jiwa. Dari angka tersebut, 174.476 KK dengan jumlah 688.775 jiwa terpaksa mengungsi dan tersebar di 898 titik pengungsian. Banyak dari mereka harus bertahan dengan fasilitas serba terbatas karena wilayah pengungsian di beberapa daerah tidak dapat dijangkau dengan cepat akibat akses jalan yang terputus.
Dalam laporan terbaru, para korban yang mengalami luka ringan mencapai 1.435 jiwa, sedangkan korban luka berat berjumlah 403 orang. Sementara itu, proses identifikasi korban meninggal terus dilakukan oleh tim kesehatan dan relawan kemanusiaan di berbagai wilayah.
Kerusakan Fasilitas Publik dan Akses Vital
Selain menelan korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan kerusakan besar pada fasilitas publik, infrastruktur, hingga aset pribadi milik warga. Posko Tanggap Darurat mencatat kerusakan yang signifikan pada sejumlah bangunan dan sarana umum, termasuk:
138 unit perkantoran
51 tempat ibadah
201 sekolah
4 pondok pesantren
302 titik kerusakan jalan
152 jembatan
204 unit puskesmas
Kerusakan tersebut menandakan bahwa dampaknya bukan hanya pada keselamatan warga, tetapi juga menyentuh sektor pendidikan, layanan publik, hingga mobilitas masyarakat di berbagai daerah.
Sementara untuk kerugian materi, ribuan rumah warga dilaporkan terdampak dengan berbagai tingkat kerusakan, dari rusak ringan hingga total. Total kerusakan rumah mencapai 78.076 unit. Selain itu, kerugian pada sektor pertanian dan peternakan turut menambah tekanan ekonomi bagi masyarakat. Tercatat:
182 ekor ternak hilang atau mati
55.404 hektare lahan persawahan rusak
12.700 hektare perkebunan terdampak
Kerusakan lahan pertanian ini berpotensi mengganggu rantai pasok pangan di wilayah Aceh dalam beberapa bulan mendatang, mengingat banyak petani kehilangan masa tanam dan peralatan produksi.
Upaya Pencarian dan Penanganan Darurat Terus Dimaksimalkan
Di tengah kondisi yang masih belum stabil, pemerintah dan tim gabungan terus melakukan upaya penanganan darurat. Murthalamuddin menegaskan bahwa para petugas dari berbagai instansi telah dikerahkan untuk mempercepat proses pencarian korban hilang serta menyalurkan bantuan logistik ke wilayah yang sulit dijangkau.
“Fokus kami saat ini adalah evakuasi, pencarian korban hilang, dan pemenuhan kebutuhan dasar warga yang mengungsi,” ujarnya.
Beberapa wilayah yang terisolasi kini mulai dapat diakses setelah alat berat dikerahkan untuk membuka jalur yang tertutup material longsor. Namun, proses evakuasi masih mengalami hambatan karena kondisi cuaca yang tidak menentu serta potensi longsor susulan.
Di pusat-pusat pengungsian, tim kesehatan memberikan pelayanan dasar mulai dari pemeriksaan kesehatan, penanganan luka, hingga distribusi obat-obatan. Sementara relawan bersinergi dengan pemerintah daerah menyediakan kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan air bersih.
Imbauan Tetap Waspada dan Pantau Informasi Resmi
Murthalamuddin mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Ia juga meminta warga terus memantau informasi resmi dari posko bencana untuk menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
“Data ini bersifat sementara dan akan terus diperbarui sesuai perkembangan di lapangan,” demikian Murthalamuddin.
Dengan intensitas cuaca yang masih tinggi, masyarakat di daerah rawan diminta untuk menghindari aktivitas di sekitar lereng perbukitan, bantaran sungai, serta daerah yang sebelumnya dilaporkan rentan longsor. Pemerintah daerah juga telah menyiapkan beberapa titik evakuasi tambahan sebagai antisipasi lonjakan pengungsi apabila kondisi memburuk.
Di tengah tragedi besar ini, solidaritas masyarakat Aceh dan berbagai pihak dari luar daerah terus mengalir. Bantuan logistik, tenaga relawan, hingga dukungan psikososial menjadi bagian penting untuk membantu para penyintas bangkit dari keterpurukan.
Bencana hidrometeorologi yang terjadi kali ini menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana harus terus diperkuat, termasuk penataan lingkungan, normalisasi sungai, hingga edukasi kebencanaan bagi masyarakat. Tantangan penanganan pascabencana juga akan semakin besar, terutama dalam memulihkan infrastruktur dan memastikan masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas normal dengan aman.