By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Tragedi Siswa SD di Ngada, Komisi X DPR Sebut Alarm Keras bagi Negara
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Tragedi Siswa SD di Ngada, Komisi X DPR Sebut Alarm Keras bagi Negara

Terkini

Tragedi Siswa SD di Ngada, Komisi X DPR Sebut Alarm Keras bagi Negara

Iqbal Prakoso
By
Iqbal Prakoso
5 months ago
Share
4 Min Read
Lokasi kejadian siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR berusia 10 tahun yang harus mengakhiri hidupnya dengan cara tragis bunuh diri. Ia tinggalkan surat perpisahan untuk ibu. (Foto : Beritasatu.com/Pepy)
Lokasi kejadian siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR berusia 10 tahun yang harus mengakhiri hidupnya dengan cara tragis bunuh diri. Ia tinggalkan surat perpisahan untuk ibu. (Foto : Beritasatu.com/Pepy)
SHARE

JAKARTA, INVERSI – Peristiwa meninggalnya seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, memantik keprihatinan luas sekaligus kritik mendalam terhadap peran negara dalam menjamin hak dasar anak.

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menilai tragedi tersebut sebagai alarm keras bagi negara, terutama dalam pemenuhan hak atas pendidikan, perlindungan sosial, dan kesejahteraan hidup yang layak bagi anak.

Korban berinisial YBR, siswa kelas IV sekolah dasar, ditemukan meninggal dunia di kebun milik neneknya di Desa Wawowae, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, pada Kamis 29 Januari 2026.

Peristiwa memilukan ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar, sekaligus menggugah empati publik secara nasional.

Hetifah menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut dan menilai bahwa kemiskinan yang membelit keluarga korban merupakan faktor penting yang tidak bisa diabaikan. Menurutnya, tragedi ini menunjukkan bahwa masih terdapat celah besar dalam sistem perlindungan anak dan penyelenggaraan pendidikan dasar di Indonesia.

“Peristiwa ini sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara mana pun. Anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena,” ujar Hetifah saat dihubungi, Rabu 4 Februari 2026.

Ia menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab konstitusional untuk memastikan setiap anak dapat mengakses pendidikan tanpa hambatan ekonomi.

Politikus Partai Golkar tersebut menilai peristiwa yang menimpa YBR harus menjadi momentum refleksi dan evaluasi menyeluruh bagi pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Ia menekankan perlunya koreksi terhadap sistem pendidikan, kebijakan perlindungan sosial, serta tingkat kepedulian lingkungan sekitar terhadap anak-anak dari keluarga rentan.

Baca Juga :

Bikin Melongo! Ini Dia Sosok di Balik Kebangkitan SMPN 12 Yogyakarta: Dari Sekolah Biasa Jadi Mesin Pencetak Juara Nasional!
Aktivitas Komisi IV DPR Berkunjung ke Swedia, Tinjau Sektor Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan

Menurut Hetifah, pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, bukan hanya dalam aspek biaya sekolah, tetapi juga mencakup kebutuhan penunjang seperti perlengkapan belajar. Negara, kata dia, tidak boleh membiarkan keterbatasan ekonomi menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh hak pendidikannya secara utuh.

“Pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin,” tegasnya.

Ia menilai, jika kebijakan tersebut tidak diterapkan secara konsisten, maka risiko terjadinya tragedi serupa akan terus menghantui daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi.

Selain menyoroti peran negara, Hetifah juga menekankan pentingnya kepedulian masyarakat di lingkungan sekitar. Ia menilai bahwa kondisi seperti yang dialami YBR bukanlah kasus tunggal, melainkan berpotensi terjadi di berbagai wilayah Indonesia apabila tidak ada sistem deteksi dini terhadap anak-anak yang berada dalam tekanan sosial dan ekonomi.

“Ke depan, sistem pendidikan harus benar-benar menjamin sekolah dasar gratis, termasuk perlengkapan belajar,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa guru, pihak sekolah, aparat desa, serta masyarakat sekitar perlu lebih peka terhadap kondisi psikologis dan sosial anak, terutama mereka yang berasal dari keluarga miskin dan rentan.

Tragedi YBR kembali menegaskan bahwa persoalan kemiskinan, akses pendidikan, dan perlindungan anak masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi negara. Pendidikan tidak hanya soal kurikulum dan fasilitas fisik, tetapi juga tentang keberpihakan terhadap anak-anak yang hidup dalam keterbatasan.

Peristiwa ini memicu keprihatinan luas dari berbagai kalangan dan diharapkan menjadi titik balik bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat sistem perlindungan anak. Dengan kebijakan yang lebih berpihak, pengawasan yang lebih sensitif, serta kepedulian kolektif, diharapkan tidak ada lagi anak yang kehilangan harapan dan masa depannya hanya karena keterbatasan ekonomi dan kurangnya perhatian lingkungan.

You Might Also Like

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat
Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur
TAGGED:AnakMeninggal duniaSekolahSekolah Dasar
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Waspadai Kanker dalam Keluarga, Ini Perbedaan Risiko Herediter dan Familia
Next Article Juara Dunia Barongsai Kong Ha Hong Unjuk Gigi di Imlek Nasional 2026
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

6 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

7 hours ago
Pildun 2026Terkini

Belgia Terancam Pulang Lagi, Iran Bikin Kejutan! Grup G Piala Dunia Makin Brutal

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Cape Verde Tinggal Selangkah Ukir Sejarah ke Babak Gugur Piala Dunia

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index