Inversi Ketegangan politik dan keamanan di Venezuela masih menjadi sorotan dunia internasional menyusul penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh otoritas Amerika Serikat. Meski prospek pengambilalihan langsung Venezuela oleh Washington dinilai mulai mereda pada Minggu (4/1/2026), situasi di kawasan Karibia tetap berada dalam kondisi siaga tinggi.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan masih menempatkan sekitar 15.000 personel militer di kawasan tersebut dan tidak menutup kemungkinan melakukan intervensi lanjutan apabila tuntutan mereka tidak dipenuhi oleh pemerintahan sementara Venezuela.
Pasca-penangkapan Maduro pada Sabtu sebelumnya, Delcy Rodríguez ditetapkan sebagai presiden sementara Venezuela. Di hadapan publik, Rodríguez menunjukkan sikap tegas dan menentang keras tindakan Amerika Serikat. Ia menyebut penangkapan Maduro sebagai bentuk kekejaman dan pelanggaran kedaulatan negara.
Namun, hingga kini isi pembicaraan tertutup antara Rodríguez dan pejabat tinggi Amerika Serikat belum sepenuhnya terungkap ke publik.
Sikap Keras Washington
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan bahwa negaranya akan “menjalankan” Venezuela, sebuah pernyataan yang memicu kekhawatiran akan terjadinya pendudukan langsung. Pada Minggu, Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Rodríguez.
Dalam wawancara dengan majalah The Atlantic, Trump menegaskan bahwa Rodríguez akan menghadapi konsekuensi berat jika tidak memenuhi tuntutan Washington. “Jika dia tidak melakukan apa yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal, mungkin lebih besar daripada Maduro,” ujar Trump.
Meski demikian, laporan The New York Times menyebutkan bahwa beberapa pekan sebelum penangkapan Maduro, pejabat pemerintahan Trump telah memandang Rodríguez sebagai figur potensial yang dapat diajak bekerja sama. Hubungannya dengan kalangan Wall Street dan perusahaan minyak internasional dinilai sebagai salah satu faktor utama.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dilaporkan telah melakukan komunikasi langsung dengan Rodríguez. Trump bahkan mengklaim bahwa Rodríguez menyatakan kesediaannya untuk memenuhi kebutuhan Washington. “Menurut saya, dia cukup ramah, tetapi sebenarnya dia tidak memiliki banyak pilihan,” kata Trump, sebagaimana dikutip The Guardian.
Respons dari Dalam Negeri Venezuela
Di Caracas, situasi politik menunjukkan dinamika yang kompleks. Sejumlah pejabat tinggi pemerintahan dan militer secara terbuka menuntut agar Maduro dipulangkan ke Venezuela. Namun, pada saat yang sama, mereka menyatakan dukungan terhadap Rodríguez sebagai pemimpin sementara demi menjaga stabilitas nasional.
Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López dalam pidato yang disiarkan televisi menyerukan agar masyarakat kembali menjalani aktivitas normal. Ia meminta warga untuk tetap tenang dan melanjutkan kegiatan ekonomi, pekerjaan, serta pendidikan dalam beberapa hari ke depan.
Seruan tersebut dimaksudkan untuk mencegah kepanikan dan menjaga ketertiban sosial di tengah ketidakpastian politik yang masih berlangsung.
Penegasan AS soal Pendudukan
Menanggapi spekulasi luas mengenai invasi atau pendudukan Venezuela, Marco Rubio berupaya meredam kekhawatiran publik internasional. Dalam sejumlah wawancara, ia menegaskan bahwa tindakan AS bukan merupakan perang terhadap Venezuela sebagai negara.
“Ini bukan perang. Kami berperang melawan organisasi perdagangan narkoba, bukan melawan Venezuela. Kami tidak memiliki pasukan AS di darat,” kata Rubio kepada NBC. Rubio menjelaskan bahwa keberadaan pasukan AS di Caracas berlangsung singkat dan bersifat penegakan hukum, sehingga tidak memerlukan persetujuan Kongres.
Ia juga menegaskan bahwa AS akan mempertahankan “karantina” terhadap Venezuela untuk membatasi keluar-masuk kapal tanker minyak yang terkena sanksi, sebagai bentuk tekanan terhadap pemerintahan penerus Maduro. “Kami akan menilai berdasarkan tindakan mereka, bukan pernyataan publik semata,” ujarnya.
Reaksi Internasional
Respons dunia internasional terhadap tindakan AS pun beragam. Pemerintah Spanyol, Brasil, Cile, Kolombia, Meksiko, dan Uruguay dalam pernyataan bersama menyebut langkah Amerika Serikat sebagai preseden berbahaya yang mengancam perdamaian dan keamanan kawasan serta membahayakan warga sipil.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa negaranya tidak terlibat dalam operasi tersebut, meskipun ia menolak untuk secara terbuka mengecam tindakan Washington. Sementara itu, hampir seluruh negara Uni Eropa, kecuali Hungaria, menyerukan penahanan diri semua pihak dan penghormatan terhadap kehendak rakyat Venezuela demi pemulihan demokrasi.
Kekhawatiran juga muncul di Kolombia. Presiden Gustavo Petro memerintahkan pengerahan 30.000 tentara ke perbatasan timur untuk mengantisipasi potensi konflik dan gelombang pengungsi.
Dakwaan terhadap Maduro
Gedung Putih merilis rekaman yang memperlihatkan Maduro dalam kondisi diborgol saat digiring ke kantor Badan Penegakan Narkoba AS (DEA) di New York, sebelum dipindahkan ke Metropolitan Detention Center di Brooklyn. Otoritas AS membuka dakwaan empat poin terhadap Maduro, termasuk tuduhan narkoterorisme dan konspirasi impor kokain.
Dakwaan tersebut juga menyeret beberapa pejabat Venezuela serta seorang pemimpin geng Tren de Aragua yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris. Maduro dijadwalkan menjalani sidang pendahuluan di pengadilan federal Manhattan.
Proses hukum ini memperumit posisi Rodríguez, yang kini harus menyeimbangkan tuntutan Washington dengan tekanan dari loyalis Maduro. Situasi tersebut menambah kompleksitas transisi politik di Venezuela, yang hingga kini masih berada di persimpangan antara stabilitas, tekanan internasional, dan harapan akan perubahan demokratis.