INVERSI.ID – Obesitas tidak hanya berdampak pada penampilan fisik, tetapi juga berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan serius. Kondisi kelebihan berat badan ini bahkan dapat memengaruhi sistem reproduksi hingga meningkatkan risiko penyakit kronis.
Dokter spesialis penyakit dalam dr. M. Vardian Mahardika, M.Biomed, Sp.PD, AIFO-K menjelaskan bahwa obesitas dapat mengganggu keseimbangan hormon, khususnya pada perempuan. Ketidakseimbangan hormon ini berpotensi memicu gangguan kesehatan reproduksi.
“Obesitas itu banyak banget datang tiba-tiba dengan fertilitas, misalnya PCOS. Kemudian endometriosis, itu juga bisa terjadi karena kondisi obesitas. Jadi perempuan-perempuan mulai harus lebih aware dengan yang namanya obesitas,” kata Vardian, saat ditemui media di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan bahwa gangguan seperti Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) dan endometriosis kerap dikaitkan dengan kondisi obesitas. Kedua gangguan tersebut dapat memengaruhi kesuburan perempuan apabila tidak ditangani dengan baik.
Dokter yang menyelesaikan pendidikan spesialis penyakit dalam di Universitas Brawijaya itu juga menyoroti perubahan kondisi tubuh perempuan saat memasuki masa perimenopause. Pada fase yang umumnya terjadi pada usia 45 hingga 50 tahun ke atas tersebut, kadar hormon mulai menurun secara alami.
Ketika kondisi ini terjadi, berbagai penyakit lebih mudah muncul, terutama pada perempuan yang sebelumnya mengalami obesitas.
Selain itu, Vardian mengingatkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai obesitas masih sering keliru. Banyak orang hanya mengandalkan angka berat badan atau indeks massa tubuh (BMI/IMT) sebagai indikator utama.
Padahal, menurutnya, BMI belum tentu mampu menggambarkan kondisi lemak tubuh secara menyeluruh, termasuk distribusi lemak di berbagai bagian tubuh.
“Makanya banyak orang yang badannya kelihatannya tidak obesitas, tapi ketika kita cek lingkar perutnya, perbandingan lingkar perut dengan lingkar paha, tinggi badan, ternyata lemaknya sudah tinggi dan masuk ke kategori obesitas,” tutur dia.
Lebih lanjut, Vardian mengungkapkan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2022 telah menetapkan obesitas sebagai penyakit kronis. Hal ini karena obesitas sering kali disertai berbagai penyakit lain yang dapat memperburuk kondisi kesehatan seseorang.
Beberapa di antaranya bahkan berkaitan dengan gangguan kognitif seperti demensia dan Alzheimer.
“Kalau orang dibiarkan obesitas terus menerus, potensi terjadinya pikun atau Alzheimer itu akan meningkat. Turun ke pernapasan, orang obesitas biasanya masuk ke sleep apnea (henti napas saat tidur), ngorok,” ujar dia.
Risiko lain yang juga meningkat akibat obesitas adalah penyakit jantung dan stroke. Pada organ jantung, kondisi obesitas dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan jantung hingga gagal jantung.
Selain itu, obesitas juga menjadi salah satu faktor risiko utama munculnya diabetes tipe 2. Kondisi ini juga berkaitan dengan fatty liver yang dalam jangka panjang berpotensi berkembang menjadi sirosis hingga kanker hati.
Masalah kesehatan lain yang juga bisa muncul akibat obesitas antara lain batu empedu, penurunan libido akibat perubahan hormon, serta gangguan pada sendi karena meningkatnya beban tubuh.
“Kompleks banget kalau kita ngomongin obesitas. WHO sudah meng-highlight obesitas bukan hanya faktor risiko tapi penyakit kronis. Penanganannya tidak bisa niat aja, olahraga, makan dikurangi. Enggak sesimpel itu. Harus ada peran dokter, lifestyle modification, farmakologi (obat-obatan), dan mungkin operasi bariatrik,” imbuh dia.
Melihat berbagai risiko tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih memperhatikan pola hidup sehat sejak dini. Menjaga berat badan ideal melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, serta konsultasi medis jika diperlukan menjadi langkah penting untuk mencegah dampak jangka panjang obesitas.