BANGKA TENGAH–
Di tengah sorotan tajam terhadap industri pertambangan, PT Timah Tbk membuktikan komitmennya yang tak main-main dalam memulihkan lingkungan. Alih-alih meninggalkan lahan kritis, perusahaan plat merah ini justru mengubah area pasca-tambang di perairan Laut Sampur hingga Tanjung Beriket, Bangka Tengah, menjadi bukti nyata bahwa penambangan dan pelestarian alam bisa berjalan beriringan.
Bagi PT Timah, reklamasi bukanlah sekadar kewajiban, melainkan bagian integral dari DNA perusahaan. Program ini menjadi siklus tak terpisahkan dari operasional tambang, yang direncanakan secara matang sejak awal hingga akhir. Hasilnya, Desa Beriga yang berada di lingkar tambang kini menuai manfaat dari keberhasilan program reklamasi darat dan laut yang masif.
Tak kurang dari 3.166,37 hektar lahan bekas tambang telah dihijaukan kembali. Kawasan di lepas pantai Sampur kini disulap menjadi area agrowisata yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Upaya ini menunjukkan kegiatan ekonomi dari sektor pertambangan dapat diselaraskan dengan penciptaan nilai tambah lingkungan dan sosial jangka panjang.
Program reklamasi laut menjadi jawaban atas kekhawatiran dampak penambangan terhadap ekosistem pesisir. Melalui inovasi dan teknologi, kehidupan bawah air di sekitar perairan Sampur dipulihkan secara sistematis.
“Komitmen PT Timah terhadap reklamasi dan pemulihan lingkungan bukan hanya slogan, tetapi implementasi nyata yang terintegrasi dalam setiap aspek operasional kami. Kami memahami bahwa sebagai perusahaan yang beroperasi di wilayah yang kaya sumber daya alam, tanggung jawab kami tidak hanya mengekstraksi, tetapi juga mengembalikan nilai kepada lingkungan dan masyarakat,” ungkap Anggi Siahaan, Departemen Head Corporate Communication PT Timah Tbk.
Menurut Anggi, pendekatan holistik ini mencerminkan visi perusahaan untuk menciptakan dampak positif jangka panjang. “Setiap program reklamasi dirancang dengan riset mendalam dan melibatkan stakeholder lokal untuk memastikan keberlanjutan. Kami tidak hanya fokus pada pemulihan lahan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat yang tinggal di sekitar area operasi kami,” tambahnya.
Program reklamasi laut dilakukan dengan menenggelamkan media buatan, artificial reef untuk menjadi rumah baru bagi ikan dan biota laut sehingga populasi ikan dan keanekaragaman hayati meningkat. Lalu, program pelepasan kembali berbagai jenis biota laut seperti ikan dan kepiting untuk memperkaya ekosistem sekaligus memulihkan rantai makanan dan potensi perikanan. Tak ketinggalan, penanaman ribuan bibit mangrove di sepanjang garis pantai untuk mencegah abrasi dan menjadi area pemijahan demi melindungi pesisir dan meningkatkan tutupan hijau.
Untuk memastikan setiap program reklamasi berjalan optimal, PT Timah turut menggandeng riset dan teknologi terapan. Ini membuktikan setiap langkah pemulihan didasarkan pada kajian ilmiah yang mendalam untuk hasil yang berkelanjutan. Selain, fokus pada pemulihan lingkungan, PT Timah juga secara aktif menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat Desa Beriga.
Program ini dirancang untuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan warga. Pada Desember 2023 lalu, perusahaan menyalurkan 500 paket sembako bagi masyarakat berpenghasilan rendah serta memberikan santunan kepada 50 anak yatim piatu. Bantuan ini menjadi bukti kepedulian perusahaan di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi warga.
Masalah akses air bersih yang kerap menjadi kendala juga tak luput dari perhatian. Bekerja sama dengan TNI AD, PT Timah membangun 15 titik sumur gali di Desa Beriga, memastikan warga dapat menikmati akses air bersih dengan lebih mudah. Untuk mendukung ketahanan pangan dan ekonomi warga, sebanyak 1.200 bibit tanaman produktif seperti mangga dan sirsak diserahkan kepada masyarakat.
Upaya pelestarian lingkungan juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak. Pada Juli 2022, PT Timah bersama Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung menanam 1.000 bibit mangrove. Inisiatif serupa juga dilakukan bersama WALHI dan masyarakat dengan menanam 2.500 pohon mangrove di pesisir Desa Batu Beriga.
Anggi Siahaan menekankan bahwa transparansi dan akuntabilitas adalah kunci dalam menjalankan program-program ini. “Kami secara terbuka melaporkan setiap pencapaian dan tantangan yang dihadapi dalam proses reklamasi. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana kami mengelola dampak lingkungan dari operasi kami. Dengan kolaborasi yang kuat bersama pemerintah lokal, akademisi, dan organisasi lingkungan, kami yakin dapat menciptakan model pertambangan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipatif, PT Timah telah melakukan pemetaan sosial pada tahun 2023. Hasil pemetaan ini menjadi acuan dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat yang lebih terarah, sesuai dengan potensi lokal seperti pertanian dan pemanfaatan sumber daya air laut. Ini bukti prinsip kehadiran IUP PT Timah bertujuan untuk menghidupkan kembali dan memberi nilai tambah, bukan hanya sekadar menambang.