JAKARTA — Penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) diproyeksikan membawa dampak ekonomi besar bagi Indonesia. Selain menekan impor energi, peralihan dari LPG subsidi ke CNG juga dinilai mampu menghemat anggaran negara hingga ratusan triliun rupiah.
Guru Besar FEB UI Telisa Aulia Felianty mengatakan penggunaan CNG berpotensi mengurangi tekanan impor LPG yang selama ini membebani devisa negara. Sebab, bahan baku gas untuk CNG tersedia melimpah di dalam negeri.
“Penggunaan CNG bisa menghemat APBN hingga Rp130 triliun. Impor LPG juga otomatis berkurang karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri,” kata Telisa dalam dialog Pro3 RRI, Jumat (8/5/2026).
Saat ini, ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG dinilai semakin mengkhawatirkan. Sepanjang awal 2026, impor disebut sudah memenuhi hampir 84 persen kebutuhan LPG nasional.
Volume impor LPG Indonesia bahkan diperkirakan mencapai 7 hingga 8,6 juta ton per tahun. Kondisi tersebut membuat subsidi energi semakin rentan terhadap lonjakan harga global dan pelemahan rupiah.
Pemerintah sendiri menggelontorkan subsidi LPG sekitar Rp80 triliun hingga Rp87 triliun setiap tahun. Beban besar itu dinilai menggerus ruang fiskal negara untuk membiayai program produktif lain.
Karena itu, penggunaan CNG dinilai bukan sekadar proyek energi alternatif, tetapi strategi ekonomi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya juga menyebut biaya produksi CNG lebih murah dibanding LPG, dengan selisih efisiensi mencapai 30 hingga 40 persen.
Pemerintah bahkan tetap menyiapkan skema subsidi untuk tabung CNG ukuran tiga kilogram agar harga jualnya tetap terjangkau masyarakat seperti LPG subsidi saat ini.
Meski demikian, implementasi CNG diperkirakan tidak mudah. Pemerintah harus menyiapkan investasi besar untuk infrastruktur distribusi, keamanan tabung, hingga penyesuaian peralatan rumah tangga.
“Implementasi penggunaan CNG tidak mudah dan memerlukan anggaran besar. Pemerintah perlu membantu masyarakat menyesuaikan sarana penggunaan energi,” ujar Telisa.
Tabung CNG diketahui membutuhkan tekanan penyimpanan jauh lebih tinggi dibanding LPG, yakni mencapai 200 hingga 250 bar. Karena itu, regulator, kompor, dan perlengkapan rumah tangga harus disesuaikan.
Kementerian ESDM kini mulai menyiapkan pengembangan tabung CNG tiga kilogram untuk kebutuhan rumah tangga dan UMKM. Penggunaan energi tersebut sebelumnya juga sudah diterapkan di sejumlah hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis.
Jika transisi energi ini berjalan sukses, Indonesia dinilai tidak hanya bisa mengurangi impor LPG secara bertahap, tetapi juga menghemat subsidi energi dalam jumlah besar sekaligus memperkuat ekonomi nasional dari tekanan global.