JAKARTA — Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan eskalasi konflik di berbagai kawasan dunia, Indonesia menunjukkan sinyal kuat sebagai negara yang makin disegani dalam sektor pertahanan. Presiden Prabowo Subianto resmi menyerahkan sederet alat utama sistem persenjataan (alutsista) modern kepada TNI, mulai dari jet tempur Rafale, pesawat strategis Airbus A400M Atlas MRTT, hingga misil dan radar canggih buatan Prancis.
Penyerahan alutsista dilakukan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (18/5), dan dinilai menjadi tonggak penting penguatan daya tangkal nasional sekaligus peningkatan wibawa Indonesia di tengah dinamika keamanan global yang semakin tidak menentu.
Dalam prosesi tersebut, Prabowo bahkan terlihat mengecek langsung kokpit pesawat tempur Rafale serta sistem persenjataan yang baru diterima TNI.
“Jadi ya, kita menerima secara resmi dengan adat kita, penambahan alutsista untuk angkatan udara kita. Kita menerima enam pesawat tempur Rafale, dan pesawat angkut Falcon, pesawat angkut VIP, dan A400. Ada radar juga,” kata Prabowo di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Total terdapat 11 pesawat dan 8 sistem persenjataan yang diserahkan kepada TNI. Rinciannya meliputi enam pesawat tempur Rafale MRCA Standard 4.1, empat pesawat Falcon 8X, serta satu Airbus A400M Atlas MRTT.
Kehadiran Rafale menjadi sorotan utama karena pesawat tempur generasi modern tersebut dikenal memiliki kemampuan multi-role combat aircraft (MRCA) dengan sistem radar RBE2 AESA serta dukungan misil METEOR, MICA, dan A2SM Hammer yang mampu meningkatkan dominasi udara Indonesia.
Rafale menggunakan mesin ganda M88 yang memungkinkan manuver tinggi dalam berbagai kondisi tempur. Pesawat itu juga dilengkapi Pod TALIOS, sistem penargetan dan pengintaian optronik generasi terbaru yang biasa digunakan dalam operasi militer modern.
Selain Rafale, Indonesia juga menerima pesawat Airbus A400M Atlas MRTT yang memiliki kemampuan angkut strategis dengan kapasitas maksimum hingga 37 ton metrik. Pesawat ini mampu menjangkau operasi jarak jauh hingga 3.400 mil laut dan terbang di ketinggian 40.000 kaki dengan kecepatan maksimum 0,72 Mach.
Tak hanya armada udara, sistem pertahanan Indonesia juga diperkuat misil METEOR berbobot 190 kilogram dengan sistem panduan terminal otonom, serta enam unit bom pintar AASM Hammer Family yang dikenal memiliki tingkat akurasi tinggi dalam berbagai kondisi cuaca dan lingkungan.
Indonesia juga menerima radar GCI GM403 dengan jangkauan deteksi hingga 515 kilometer yang mampu meningkatkan kemampuan pemantauan ancaman udara nasional.
Penguatan alutsista ini dinilai mempertegas posisi Indonesia sebagai negara dengan kekuatan pertahanan yang semakin modern di kawasan Asia Tenggara. Di tengah konflik global yang memicu perlombaan teknologi militer, langkah Indonesia memperkuat sistem pertahanan dipandang penting untuk menjaga stabilitas kawasan dan melindungi kedaulatan nasional.
Prabowo menegaskan bahwa penguatan pertahanan bukan untuk kepentingan agresi, melainkan sebagai deterrent atau daya tangkal agar Indonesia mampu menjaga wilayahnya sendiri.
“Jadi, Saudara-saudara, ini hanya saya kira salah satu tonggak penambahan kekuatan. Kita harus terus tingkatkan kekuatan pertahanan kita sebagai penangkal, sebagai deterrent. Kita tidak punya kepentingan selain untuk menjaga wilayah kita sendiri,” ujar Prabowo.
Masuknya Rafale, radar modern, hingga sistem misil presisi tinggi juga memperlihatkan transformasi besar pertahanan Indonesia menuju kekuatan militer berteknologi tinggi yang lebih siap menghadapi tantangan zaman.
Di tengah dunia yang semakin penuh ketidakpastian, penambahan alutsista modern ini bukan sekadar penguatan militer, tetapi juga simbol meningkatnya kepercayaan diri dan wibawa Indonesia di mata internasional.