SEATTLE – Harapan besar publik Amerika Serikat untuk menyaksikan tim nasional putra melangkah jauh di Piala Dunia 2026 berakhir dengan kepedihan. Di hadapan puluhan ribu pendukung yang memadati stadion di Seattle, Amerika Serikat harus mengakui keunggulan Belgia setelah kalah telak 1-4 pada babak 16 besar, Senin (6/7). Kekalahan itu sekaligus memastikan tidak ada lagi negara tuan rumah yang tersisa dalam perburuan gelar juara.
Sejak awal turnamen, optimisme menyelimuti skuad asuhan Mauricio Pochettino. Bermodalkan pemain-pemain yang tampil di liga-liga elite Eropa, pelatih berpengalaman yang pernah menangani Tottenham Hotspur, Paris Saint-Germain, dan Chelsea, serta keuntungan tampil di kandang sendiri, Amerika Serikat diyakini mampu mencetak sejarah baru.
Perjalanan menuju fase gugur pun memberi harapan besar. Kemenangan atas Paraguay, Australia, dan Bosnia-Herzegovina menjadi catatan terbaik tim putra Amerika Serikat di fase grup Piala Dunia. Dukungan suporter juga luar biasa, dengan stadion dipenuhi puluhan ribu penonton dan jutaan warga mengikuti pertandingan melalui layar televisi.
Namun, semua optimisme itu runtuh saat menghadapi Belgia yang tampil jauh lebih efektif. Tim peringkat kesembilan dunia itu langsung menguasai jalannya pertandingan. Baru sembilan menit laga berjalan, Charles De Ketelaere membawa Belgia unggul 1-0 setelah memanfaatkan kelengahan lini belakang Amerika Serikat.
Harapan sempat muncul ketika gelandang Malik Tillman mencetak gol penyama kedudukan melalui tendangan bebas indah. Sayangnya, kegembiraan itu hanya berlangsung singkat. Kurang dari dua menit kemudian, De Ketelaere kembali mencetak gol untuk mengembalikan keunggulan Belgia menjadi 2-1.
Petaka berlanjut selepas jeda. Kesalahan fatal penjaga gawang Matt Freese yang keluar dari area penalti dimanfaatkan Hans Vanaken untuk mencetak gol mudah pada menit ke-57. Menjelang pertandingan usai, Romelu Lukaku melengkapi pesta Belgia melalui gol pada masa injury time dan memastikan kemenangan telak 4-1.
Pelatih Mauricio Pochettino tak bisa menyembunyikan kekecewaannya usai pertandingan. “Hari ini kami tidak menunjukkan kualitas yang sebenarnya. Sangat menyakitkan harus tersingkir,” ujar Pochettino dikutip dari The Guardian.
Nada serupa disampaikan kapten tim, Tyler Adams, yang mengakui performa tim jauh dari harapan. “Rasanya sangat menyakitkan. Penampilan kami malam ini tidak bagus secara keseluruhan. Ini bukan yang ingin kami capai. Banyak hal yang seharusnya bisa kami lakukan dengan lebih baik,” kata Adams.
Sebelum pertandingan, Amerika Serikat juga diterpa kontroversi terkait striker Folarin Balogun. Ia sempat dijatuhi larangan bermain satu pertandingan setelah menerima kartu merah saat menghadapi Bosnia-Herzegovina. Namun, sehari sebelum laga melawan Belgia, Komite Disiplin FIFA menunda pelaksanaan sanksi tersebut sehingga Balogun tetap bisa tampil.
Keputusan itu menjadi sorotan setelah muncul laporan bahwa Presiden Donald Trump disebut menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan kembali hukuman Balogun. Federasi Sepak Bola Belgia bahkan menyatakan akan mengajukan protes atas keputusan tersebut.
Meski demikian, kapten Tim Ream menegaskan kontroversi tersebut tidak memengaruhi fokus tim. “Kami sepenuhnya fokus pada tim dan pertandingan. Kami tidak terlalu memikirkan apa yang dibicarakan atau diperdebatkan di luar,” ujar Ream.
Pada akhirnya, Belgia membuktikan kualitasnya dan melangkah ke perempat final untuk ketiga kalinya dalam empat edisi Piala Dunia terakhir. Mereka akan menghadapi Spanyol di Los Angeles pada Jumat mendatang.
Sementara bagi Amerika Serikat, kekalahan di Seattle menjadi akhir yang pahit. Bermain di rumah sendiri dengan ekspektasi tinggi, mereka kembali gagal menembus perempat final dan harus menyaksikan mimpi besar para pendukungnya sirna lebih cepat dari yang diharapkan.