INVERSI.ID – Promosi dari mulut ke mulut dulu menjadi kekuatan utama dalam mendongkrak bisnis kecil. Namun, di era digital saat ini, pola konsumsi berubah drastis, terutama di kalangan generasi muda. Survei terbaru dari GoDaddy mengungkapkan bahwa konsumen Gen Z kini lebih mudah dipengaruhi oleh konten influencer ketimbang rekomendasi teman dekat.
Melansir laporan dari AZ, survei terhadap 1.000 konsumen di Amerika Serikat pada September 2025 menunjukkan bahwa Gen Z dan Milenial memiliki pendekatan yang berbeda dalam memutuskan pembelian produk.
Sebanyak 41 persen responden Gen Z menyatakan lebih percaya pada produk atau layanan yang dipromosikan oleh influencer dibandingkan iklan langsung dari bisnis. Menariknya, 57 persen dari mereka terpengaruh oleh konten influencer, disusul oleh postingan dari akun bisnis yang mereka ikuti (54 persen) dan iklan di feed media sosial (49 persen). Rekomendasi teman justru berada di posisi terakhir dengan hanya 40 persen pengaruh.
Milenial Masih Percaya Brand Langsung
Di sisi lain, generasi Milenial menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Mereka lebih dipengaruhi oleh brand yang mereka pilih untuk diikuti, dengan 57 persen menyatakan postingan bisnis menjadi pengaruh terbesar. Disusul oleh iklan di media sosial (51 persen), lalu postingan teman (48 persen). Konten influencer hanya memengaruhi 44 persen dari generasi ini.
Alycia Leno, Direktur Pemasaran GoDaddy, mengatakan bahwa perbedaan perilaku ini menjadi informasi penting bagi pelaku bisnis kecil.
“Mengetahui bahwa Gen Z lebih percaya pada iklan media sosial daripada rekomendasi teman bisa menjadi game changer bagi strategi pemasaran,” ujarnya.
Media Sosial Masih Jadi Wadah Temukan Produk Baru
Meskipun cara mereka menyerap informasi berbeda, baik Gen Z maupun Milenial sama-sama memanfaatkan media sosial sebagai sumber utama untuk menemukan produk baru. Sebanyak 55 persen Gen Z dan 47 persen Milenial secara rutin mencari produk di media sosial.
Bahkan, 53 persen Gen Z dan 57 persen Milenial mengatakan mereka mendapatkan iklan yang mendorong mereka untuk melakukan pembelian setidaknya seminggu sekali. Sekitar 28 persen Gen Z dan 32 persen Milenial juga menyatakan bahwa iklan media sosial membantu mereka mengenal produk atau bisnis baru.
Temuan ini menjadi alarm bagi para pelaku UMKM untuk lebih memahami segmentasi pasar yang mereka tuju. Tanpa pemahaman mendalam tentang perilaku konsumen, strategi pemasaran yang diterapkan berisiko tidak efektif dan membuang biaya.
“Dengan memahami preferensi belanja tiap generasi di media sosial, pelaku usaha dapat menargetkan audiens secara lebih tepat dan memperoleh hasil yang maksimal,” pungkas Alycia.***