SOFIFI, MALUKU UTARA – Momentum Musyawarah Daerah (Musda) ke-VI Partai Golkar Maluku Utara menjadi panggung penting yang menunjukkan keselarasan visi antara pemerintah pusat dan daerah dalam membangun masa depan industri nasional berbasis hilirisasi.
Di hadapan Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menegaskan komitmen daerah untuk mendorong percepatan hilirisasi, khususnya pada komoditas strategis nikel.
Keselarasan antara kebijakan pusat dan visi daerah menjadi kunci dalam membangun ekosistem industri hilirisasi yang utuh, mulai dari hulu hingga hilir.
Sherly menekankan bahwa Maluku Utara tidak ingin hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga menjadi bagian dari rantai industri bernilai tambah tinggi.
“Maluku Utara harus ikut dalam rantai downstreaming, tidak hanya menyuplai bahan mentah, tetapi juga menjadi daerah yang memproduksi,” ujarnya dalam sambutan di Musda Golkar, Minggu (12/4/2026).
Langkah ini sejalan dengan agenda besar pemerintah pusat yang mendorong hilirisasi sumber daya alam untuk menciptakan industri masa depan, termasuk pengembangan baterai kendaraan listrik.
Dari Nikel ke Industri Baterai Global
Maluku Utara selama ini dikenal sebagai salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia. Dengan dorongan hilirisasi, komoditas ini tidak lagi berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk turunan seperti stainless steel hingga bahan baku baterai.
Sherly bahkan mengungkapkan peluang ekspor produk hilir nikel ke pasar global, termasuk India, sebagai bukti bahwa hilirisasi membuka akses ekonomi baru bagi daerah.
Sinergi ini memperkuat arah kebijakan nasional yang menempatkan Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok industri baterai dunia.
Selain meningkatkan nilai tambah, hilirisasi juga diharapkan mampu menjawab tantangan ketenagakerjaan di Maluku Utara.
Sherly menyoroti bahwa jumlah penduduk usia produktif yang besar harus diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja. “Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama, baik pemerintah, dunia usaha, maupun pemangku kepentingan lainnya,” katanya.
Dengan masuknya industri hilir, terutama di sektor pengolahan nikel dan baterai, potensi penyerapan tenaga kerja lokal diperkirakan akan meningkat signifikan.
Terkait hal itu, Menteri Bahlil menekankan pentingnya peran putra daerah, sebagai aktor utama dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) di daerah mereka sendiri.
Akan tetapi ia menyayangkan fakta yang selama ini sektor pertambangan masih didominasi oleh pelaku usaha dari luar daerah.
“Saya merasa prihatin karena mayoritas pelaku usaha di sektor tambang masih berasal dari luar. Ke depan, kita ingin pengusaha lokal bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri, “tegas Bahlil.
Dalam kesempatan tersebut, Sherly juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan Dana Bagi Hasil (DBH) untuk mendukung pembangunan daerah. “DBH jangan sampai dipangkas, karena itu sangat dibutuhkan untuk pembangunan daerah,” ujarnya.
Namun di tengah dinamika tersebut, arah besar pembangunan tetap mengerucut pada satu tujuan utama, mendorong hilirisasi sebagai fondasi ekonomi masa depan.
Pertemuan antara Bahlil Lahadalia dan Sherly Tjoanda di Musda Golkar Malut mencerminkan sinergi kuat antara pusat dan daerah dalam mewujudkan transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam.
Dengan hilirisasi sebagai poros utama, Maluku Utara tidak hanya diposisikan sebagai daerah penghasil, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan industri baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kolaborasi ini menjadi sinyal kuat bahwa masa depan Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, melainkan pada kemampuan mengolah, mencipta, dan memberi nilai tambah di dalam negeri.