JAKARTA — Gejolak harga energi global kembali mengguncang banyak negara. Di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik dan gangguan pasokan internasional, India bahkan terpaksa menaikkan harga BBM hingga tiga kali hanya dalam delapan hari terakhir.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa fluktuasi harga BBM non-subsidi merupakan konsekuensi logis dari mekanisme pasar global, bukan semata-mata kebijakan sepihak pemerintah.
Di India, perusahaan kilang milik negara kembali menaikkan harga bensin dan solar hampir 1% pada Sabtu (23/5/2026). Berdasarkan data Indian Oil Corp., harga bensin di New Delhi kini mencapai 99,51 rupee per liter, sementara solar menyentuh 92,49 rupee per liter atau sekitar Rp18.400.
Kenaikan tersebut menjadi yang ketiga sejak 15 Mei 2026 setelah sebelumnya India menaikkan harga BBM lebih dari 3% akibat lonjakan harga minyak global dan dampak konflik Timur Tengah.
Pemerintah India bahkan mengakui tekanan besar terjadi akibat ketergantungan pasokan energi melalui Selat Hormuz yang terganggu sejak perang Iran pecah.
“Konsumsi yang bertanggung jawab dan kerja sama masyarakat akan membantu menjaga kelancaran pasokan bahan bakar selama periode permintaan tinggi saat ini,” tulis Kementerian Perminyakan dan Gas Alam India melalui akun X resminya.
Di tengah badai energi global tersebut, Indonesia justru dinilai relatif berhasil menjaga stabilitas domestik. Pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi seperti Pertalite untuk melindungi daya beli masyarakat bawah.
Bahkan untuk BBM non-subsidi seperti Pertamax, pemerintah bersama Pertamina masih memberikan bantalan fiskal agar harga tidak melonjak ekstrem mengikuti harga keekonomian dunia.
Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun mengatakan keputusan menahan harga Pertamax dilakukan demi menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat kelas menengah.
“Pemberian subsidi adalah untuk menjaga kestabilan nasional dari sisi menjaga daya beli dan roda perekonomian masyarakat,” ujar Roberth.
Menurutnya, Pertamax sebenarnya merupakan BBM umum non-subsidi yang secara teoritis mengikuti mekanisme harga pasar global. Namun pemerintah tetap melakukan koordinasi dengan Pertamina agar tidak terjadi lonjakan harga mendadak.
“Dalam rangka menjaga kondisi dalam negeri tetap kondusif dan stabil, pemerintah berkoordinasi dengan Pertamina agar tidak dilakukan penyesuaian harga,” katanya.
Roberth bahkan mengisyaratkan harga Pertamax seharusnya bisa jauh lebih tinggi apabila sepenuhnya mengikuti harga keekonomian saat ini. Ia mencontohkan harga Pertamax Turbo kini sudah menyentuh sekitar Rp19.900 per liter.
Karena itu, pemerintah menilai masyarakat perlu memahami secara rasional bahwa BBM non-subsidi memang bergerak mengikuti dinamika pasar energi global. Kondisi serupa juga dialami banyak negara lain, termasuk India yang harus menghadapi lonjakan harga berulang dalam waktu singkat.