Inversi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem bagi masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia pada Jumat (9/1/2026). Peringatan ini disampaikan menyusul dinamika atmosfer terkini yang menunjukkan potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di berbagai daerah, yang berisiko mengganggu aktivitas masyarakat serta memicu bencana hidrometeorologi.
Prakirawan BMKG Ina Indah menjelaskan bahwa potensi cuaca signifikan tersebut diperkirakan terjadi secara merata di sejumlah wilayah dari barat hingga timur Indonesia. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama oleh masyarakat yang bermukim di daerah rawan banjir, tanah longsor, dan genangan air.
“Perlu ditingkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat di wilayah Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Kepulauan Riau,” ujar Ina dalam siaran resmi BMKG, Kamis (8/1/2026).
Selain wilayah tersebut, BMKG juga mencatat potensi hujan lebat di Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Papua Selatan. Dengan demikian, total terdapat sedikitnya 10 provinsi yang masuk dalam kategori waspada cuaca ekstrem pada hari ini.
BMKG mengingatkan bahwa hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi singkat dapat meningkatkan risiko banjir bandang, tanah longsor, serta gangguan transportasi darat, laut, dan udara. Masyarakat diimbau untuk memantau informasi cuaca terkini dan mengikuti arahan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait.
Faktor Pemicu Cuaca Ekstrem
Ina menjelaskan bahwa peningkatan curah hujan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer yang saling berinteraksi. Salah satu faktor utama adalah terpantau adanya daerah tekanan rendah di Samudra Hindia barat laut Aceh serta di perairan timur Australia.
Kondisi tersebut memicu terbentuknya daerah pertemuan angin atau konvergensi yang memanjang di sejumlah wilayah perairan Indonesia, antara lain Selat Malaka, Laut Jawa, hingga Samudra Pasifik utara Papua. Selain itu, teridentifikasi pula daerah pertemuan massa udara atau konfluensi di perairan barat Lampung hingga selatan Jawa Barat, serta di kawasan Laut Flores dan Laut Banda.
“Kondisi atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan, khususnya di sekitar wilayah tekanan rendah, konvergensi, dan konfluensi,” jelas Ina.
BMKG menilai pola atmosfer ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, pemantauan cuaca secara berkala menjadi hal penting, terutama bagi masyarakat yang aktivitasnya bergantung pada kondisi cuaca.
Potensi Hujan Petir dan Angin Kencang
Selain hujan lebat, BMKG juga memperingatkan potensi hujan disertai kilat atau petir di sejumlah kota besar. Untuk wilayah Indonesia bagian barat, hujan petir diprakirakan terjadi di Jambi, Bengkulu, Pangkalpinang, Bandar Lampung, Surabaya, Tanjung Selor, dan Banjarmasin.
Sementara itu, di wilayah Indonesia bagian timur, potensi hujan petir terpantau di Kupang dan Merauke. Kondisi ini berpotensi disertai angin kencang yang dapat menyebabkan pohon tumbang, gangguan jaringan listrik, serta kerusakan ringan pada bangunan.
BMKG juga mencatat hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Serang dan Pontianak. Adapun hujan ringan diprakirakan mendominasi sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua.
Wilayah Relatif Aman dan Imbauan Keselamatan
Meski sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami hujan, BMKG mencatat beberapa daerah yang diperkirakan relatif bebas dari hujan. Kondisi cuaca berawan tebal diprakirakan terjadi di Manado, Ambon, dan Manokwari.
Khusus bagi masyarakat di Palu, Sulawesi Tengah, BMKG mengimbau kewaspadaan terhadap potensi kabut atau asap yang dapat mengganggu jarak pandang, terutama pada pagi dan malam hari. Kondisi ini berisiko bagi keselamatan transportasi darat maupun udara.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, menghindari aktivitas di ruang terbuka saat hujan lebat dan petir, serta memastikan saluran air di lingkungan sekitar tetap berfungsi dengan baik. Pemerintah daerah dan instansi terkait juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.