INVERSI.ID – Kalau dulu orang Jerman mau bilang sesuatu yang benar-benar gila, mereka akan berkata, “Das ist verrückt.” Tapi zaman berubah—dan begitu juga bahasanya. Kini, anak muda di Jerman lebih sering melontarkan kata “Das crazy.” Ungkapan yang kedengarannya nyeleneh ini dipakai ketika seseorang merasa kaget, kehabisan kata, ingin melontarkan komentar sarkastik, atau sekadar menjaga obrolan biar tetap hidup.
Menurut juri yang menilai, “Das crazy” cocok dipakai ketika seseorang bingung mau menanggapi apa, ingin bersikap sopan tapi tetap santai, atau sekadar melucu di tengah percakapan. Meski bagi generasi yang lebih tua ungkapan ini terdengar janggal, justru di situlah letak daya tariknya. Secara tata bahasa Jerman, seharusnya kalimat yang benar adalah “Das ist crazy.” Tapi penggabungan artikel bahasa Jerman “das” dengan kata bahasa Inggris “crazy” menunjukkan humor khas anak muda yang muncul dari budaya meme, internet, dan kehidupan daring sehari-hari.
Sekarang, “Das crazy” sudah jadi bagian dari kosakata keseharian anak muda di Jerman—baik di dunia nyata maupun di media sosial. Di platform seperti TikTok, X, atau Instagram, ungkapan ini sering muncul di caption, meme, atau bahkan video reaksi. Sederhana, tapi punya makna sosial yang kuat: tanda bahwa bahasa terus berevolusi mengikuti budaya pop.
Bahasa Sebagai Cermin Zaman
“Pilihan tahun ini sekali lagi menunjukkan dominasi bahasa Inggris yang terus bertahan dan tren ke arah gaya bahasa yang singkat,” kata Nikolas Hoenig, Kepala Pemasaran PONS Langenscheidt, penerbit di balik pemilihan tahunan Youth Word of the Year.
Ia menambahkan, “Das crazy dengan cerdas merepresentasikan semangat zaman, dan itulah alasan mengapa istilah ini terpilih.”
PONS Langenscheidt sendiri sudah mengadakan pemilihan Youth Word of the Year sejak 2008. Awalnya diputuskan oleh juri, tapi sejak 2020 prosesnya dilakukan secara daring. Setiap tahun, jutaan orang bisa ikut memilih kata yang mereka anggap paling menggambarkan gaya bicara anak muda Jerman. Tahun ini, lebih dari dua juta orang ikut memberikan suara. Siapa pun boleh ikut memilih, tapi hanya istilah yang diajukan oleh anak muda yang akan dipertimbangkan. Kata-kata yang bersifat ofensif, rasis, atau diskriminatif otomatis didiskualifikasi.
Menurut Patricia Kunth, manajer pemasaran sekaligus kepala kampanye Youth Word of the Year, tak ada yang lebih menggambarkan semangat generasi muda selain cara mereka berbicara.
“Setiap tahun muncul istilah baru yang mengejutkan kami di penerbitan, dan menunjukkan betapa cepatnya bahasa berubah,” ujarnya.
Yang menarik, pola partisipasi dalam pemilihan kata ini juga mencerminkan karakter generasi digital.
“Sekitar 88% kunjungan ke halaman pemungutan suara dilakukan lewat ponsel. Wajar saja, karena bahasa anak muda lahir di tempat mereka menggunakannya, baik di perjalanan, di dunia maya, maupun di kehidupan sehari-hari,” lanjut Kunth.
Artinya, fenomena “Das crazy” bukan sekadar tren linguistik, tapi juga simbol gaya hidup digital. Bahasa bagi generasi muda Jerman bukan lagi sesuatu yang kaku atau baku, tapi alat berekspresi yang cair dan bisa memadukan berbagai budaya sekaligus. Seperti halnya meme atau slang internet, kata ini menunjukkan bagaimana globalisasi dan dunia maya membentuk cara manusia berkomunikasi.
Ketika Kata Jadi Identitas Generasi
Pemenang Youth Word of the Year diumumkan pada Sabtu (18/10) lalu di Frankfurt Book Fair—dan hasilnya pun mengejutkan. “Das crazy” berhasil menempati posisi pertama dengan 35,7% suara, unggul tipis dari “goonen” dan “checkst du.”
Istilah “goonen” sendiri sempat jadi sorotan karena maknanya yang cukup kontroversial. Kata ini merujuk pada aktivitas memuaskan diri sendiri secara berlebihan dan berkepanjangan. Dalam pernyataannya, komite Langenscheidt menegaskan bahwa mereka berusaha bersikap terbuka terhadap istilah berkonotasi seksual, tetapi tetap menyoroti risikonya. Mereka memperingatkan bahwa masturbasi berlebihan bisa memicu ketergantungan terhadap dopamin—hormon yang membuat seseorang merasa bahagia—dan bisa menimbulkan hubungan yang tidak sehat dengan seksualitas diri sendiri.
Sementara itu, istilah di posisi ketiga, “checkst du” (yang berarti “Apakah kamu paham?”), merupakan versi modern dari pertanyaan klasik “Do you understand?”. Anak muda biasanya menambahkan “checkst du” di akhir kalimat untuk memastikan lawan bicara benar-benar mengerti—bukan hanya secara logika, tapi juga secara emosional. Gaya bahasa ini memperlihatkan bahwa komunikasi antar generasi muda tidak sekadar berbagi informasi, tapi juga membangun koneksi perasaan.
Kata lain yang sempat masuk nominasi adalah “Digga(h)”, istilah yang sudah lama dikenal di kalangan anak muda Jerman. Ini bukan kali pertama “Digga” masuk daftar finalis. Kata tersebut juga pernah dinominasikan pada 2021, tetapi tidak menang karena dianggap sudah terlalu umum digunakan. “Digga” berasal dari kata “Dicker”, yang secara harfiah berarti “gendut”, tapi bukan dalam konteks menghina. Sebaliknya, kata ini digunakan secara akrab untuk menyapa teman—mirip seperti “bro” atau “cuys” dalam bahasa Indonesia.
Kalau mundur ke tahun sebelumnya, pada 2024, istilah “aura” yang terpilih sebagai Youth Word of the Year. Kata ini dipakai untuk menggambarkan karisma seseorang—baik dalam konteks positif maupun negatif. Ketika seseorang disebut punya “plus 20 aura”, artinya orang itu dianggap keren, percaya diri, dan tahu apa yang dia lakukan.
Bagi penerbit Langenscheidt, pemilihan tahunan ini bukan sekadar hiburan. Mereka melihatnya sebagai cara untuk menyoroti perkembangan bahasa yang terus berubah mengikuti dinamika sosial. Tujuannya sederhana: agar generasi muda merasa diwakili oleh bahasa yang mereka gunakan setiap hari.
Fenomena seperti “Das crazy” juga menunjukkan bahwa batas antara bahasa formal dan informal makin kabur. Anak muda Jerman kini bebas mencampur bahasa Jerman dengan Inggris—bahkan kadang dengan bahasa lain—tanpa merasa bersalah. Justru dari keberanian melanggar aturan itulah lahir ekspresi yang unik dan autentik.
Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tapi juga refleksi dari siapa kita. Dan ketika anak muda memilih kata seperti “Das crazy” untuk menggambarkan perasaan atau situasi, itu menandakan satu hal: mereka sedang menulis ulang aturan, sesuai dengan realitas zaman digital mereka sendiri.