INVERSI.ID – Anggota Komisi VII DPR sekaligus desainer Samuel Wattimena membagikan sejumlah cara agar pemakaian kain wastra terlihat menarik selama merayakan Lebaran tahun ini.
Di sisi lain, sektor pariwisata nasional tetap bergantung pada peran masyarakat kelas menengah. Lembaga riset Next Indonesia Center menyebut kelompok masyarakat ini menjadi tulang punggung industri pariwisata domestik.
“Kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah ini merupakan tulang punggung industri pariwisata nasional. Volume pergerakan wisata domestik dan total nilai belanja mereka tetap menjadi yang terbesar dibandingkan kelompok lainnya,” kata Direktur NEXT Indonesia Center Christiantoko dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu.
Christiantoko menambahkan bahwa minat masyarakat kelas menengah untuk berwisata tetap tinggi meski ekonomi sedang mengalami tekanan. Kenaikan biaya hidup justru mendorong mereka mengubah pola perjalanan, dengan memilih destinasi yang lebih dekat dan terjangkau.
Fenomena ini tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,02 miliar pada 2024, tumbuh 21,61 persen dibanding tahun sebelumnya. Tren positif berlanjut pada periode Januari–September 2025, dengan total 901,9 juta perjalanan, lebih tinggi dibanding periode sama dalam dua tahun terakhir.
Data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024 juga menunjukkan bahwa perjalanan liburan dipengaruhi oleh tingginya kelompok ekonomi warga. Dalam setahun terakhir, sekitar 33,47 persen warga kelas atas pernah berwisata keluar kabupaten/kota, sementara kelompok miskin hanya 2,14 persen.
“Ada sekitar 10,4 juta warga kelompok menuju kelas menengah dan 7,6 juta warga kelas menengah yang pernah melancong dalam setahun terakhir,” ujar Christiantoko.
Meski begitu, jumlah perjalanan masih bisa ditingkatkan, karena hanya 7,8 persen penduduk Indonesia yang pernah pergi ke luar kabupaten/kota tempat tinggalnya dalam setahun terakhir.
Christiantoko menekankan bahwa sektor pariwisata tidak memerlukan modal besar karena potensi alam tersedia, namun memiliki efek berganda (multiflyer effect) yang signifikan. Secara nominal, kelompok kelas menengah menyumbangkan dana sebesar Rp132,1 miliar per bulan untuk perjalanan wisata dan Rp226,5 miliar per bulan untuk hotel serta penginapan.
“Angka tersebut membuktikan bahwa tanpa daya beli kelompok ini, industri perhotelan dan transportasi nasional akan kehilangan mesin pertumbuhan utamanya,” katanya.
Perubahan perilaku wisatawan juga terlihat dari pengeluaran rata-rata per perjalanan. Pada 2024, rata-rata pengeluaran wisatawan nusantara turun menjadi Rp2,3 juta, dari sebelumnya Rp2,7 juta pada 2023.
Destinasi favorit masih didominasi Pulau Jawa, dengan Jawa Timur menjadi provinsi asal dan tujuan utama, mencatatkan 218,7 juta kunjungan pada 2024. Keunggulan ini disebabkan jarak yang dekat dan infrastruktur relatif baik. Sebaliknya, wilayah Timur seperti Papua mencatatkan kunjungan terendah karena biaya transportasi tinggi dan fasilitas terbatas.
“Karena itu, kebijakan pariwisata tidak bisa berdiri sendiri tapi perlu terhubung langsung dengan kebijakan ekonomi yang menjaga stabilitas harga dan pendapatan riil rumah tangga, sehingga daya belinya tetap terjaga dan pariwisata domestik tumbuh lebih stabil, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Christiantoko.