INVERSI.ID – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memprediksi puncak arus mudik Lebaran 2026 di wilayah tersebut akan terjadi dalam dua gelombang. Perkiraan ini muncul seiring meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Kepala Dishub Kabupaten Bandung Hilman Kadar menyampaikan bahwa dua periode yang diprediksi menjadi puncak arus mudik adalah pada 14 Maret dan 19 Maret 2026.
“Kami memperkirakan akan terjadi dua gelombang puncak arus mudik, yakni pada 14 Maret dan 19 Maret 2026,” katanya.
Hilman menjelaskan, prediksi tersebut disusun berdasarkan hasil evaluasi pengamanan arus mudik dan arus balik pada tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Dishub Kabupaten Bandung, tercatat sekitar 142.620 kendaraan melintas di Jalur Nagreg saat puncak arus mudik H-2 Idul Fitri 2025. Jumlah tersebut diperkirakan membawa sekitar 452.830 pemudik yang melintasi jalur tersebut.
Ia menambahkan bahwa biasanya puncak arus mudik terjadi pada H-2 Lebaran. Namun pada tahun ini, pergerakan masyarakat diperkirakan akan lebih tersebar karena adanya periode libur panjang.
Selain itu, faktor libur nasional dan cuti bersama juga diyakini memengaruhi pola perjalanan masyarakat selama masa mudik Lebaran.
Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan dan memastikan kelancaran lalu lintas, Dishub Kabupaten Bandung menyiapkan sekitar 200 personel yang akan bertugas selama periode mudik dan arus balik Lebaran 2026.
“Personel tersebut akan disebar di 10 posko pada jalur mudik maupun jalur wisata di Kabupaten Bandung,” katanya.
Hilman menjelaskan, dari total posko yang disiapkan, satu di antaranya berfungsi sebagai pos induk dan sembilan lainnya sebagai pos pengamanan yang ditempatkan di sejumlah titik strategis.
“Pos pengamanan ditempatkan di kawasan Cileunyi, Pangalengan, Majalaya, Ciwidey, Ibun-Kamojang, Soreang hingga Ciparay, sementara pos induk berada di Nagreg,” katanya.
Selain menjadi pusat koordinasi, pos induk di Nagreg juga akan difungsikan sebagai pusat pemantauan lalu lintas. Fasilitas tersebut akan dilengkapi dengan kamera pengintai atau CCTV, serta menjadi lokasi pengendalian operasional personel dan sistem traffic counting untuk memantau volume kendaraan yang melintas.