INVERSI.ID – Karakter seperti Tralalero Tralala, Bombardiro Crocodilo, hingga Tung Tung Sahur belakangan ini ramai menghiasi linimasa TikTok dan platform game Roblox. Mereka merupakan bagian dari tren yang dikenal sebagai Italian brain rot, sejenis meme internet bergaya surealis yang tengah populer di kalangan remaja dan anak-anak.
Tren ini menghadirkan karakter-karakter unik hasil gabungan antara hewan, benda, makanan, atau senjata, lengkap dengan nama-nama pseudo-Italia serta suara sintetis beraksen Italia. Kontennya sering kali disajikan dalam narasi absurd yang berima dan mudah diingat.
Secara visual, meme ini menggabungkan elemen aneh tapi menghibur, memanfaatkan efek uncanny valley, di mana objek yang hampir menyerupai makhluk hidup tampak ganjil sehingga menciptakan sensasi tidak nyaman—namun lucu bagi sebagian penonton.
Hiburan atau Tanda Bahaya?
Meski terlihat menghibur, pakar menyebut tren ini menyimpan risiko tersembunyi, khususnya jika dikonsumsi secara berlebihan. Fenomena overstimulasi digital atau kelebihan rangsangan dari layar menjadi perhatian utama.
Istilah brain rot secara harfiah berarti “pembusukan otak”, namun dalam konteks digital, istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi penurunan fungsi kognitif akibat paparan konten ringan, cepat, dan tidak menantang secara intelektual secara terus-menerus.
Bagi otak yang sedang dalam masa pertumbuhan—terutama anak-anak dan remaja—fase ini sangat krusial karena menjadi waktu pembentukan koneksi otak yang penting untuk pengembangan bahasa, kontrol emosi, dan kemampuan berpikir.
Konten seperti Italian brain rot yang cepat dan bersifat repetitif dapat mengganggu fungsi dua bagian penting otak yaitu korteks prefrontal (pengatur fungsi eksekutif) dan striatum (pengatur dorongan perilaku dan penghargaan).
Perubahan Pola Konsumsi Hiburan
Meningkatnya popularitas Italian brain rot juga mencerminkan pergeseran pola konsumsi konten digital generasi muda. Konten absurd yang dulu dianggap aneh kini justru menjadi pelarian dari tekanan sehari-hari, seperti berita global yang penuh kecemasan, tekanan pendidikan, hingga ketidakpastian masa depan.
Konten yang spontan, surealis, dan tidak perlu dipikirkan terlalu dalam menjadi pilihan utama banyak remaja. Namun, kenyamanan sesaat ini bisa memicu kebiasaan baru yang berisiko, seperti kecanduan hiburan instan dan penurunan minat terhadap aktivitas yang memerlukan fokus tinggi seperti membaca atau belajar.
Dampak Akademis dan Sosial
Paparan konten dengan stimulasi tinggi seperti ini juga dapat menyebabkan fenomena attention hijacking, di mana fokus seseorang mudah tergeser tanpa disadari. Dalam jangka panjang, ini dapat memengaruhi sistem dopamin di otak, membuat aktivitas yang lebih lambat terasa membosankan.
Studi menunjukkan bahwa multitasking digital misalnya membuka beberapa aplikasi sekaligus, dapat menurunkan kualitas perhatian, memperburuk kemampuan regulasi emosi, serta memengaruhi kemampuan anak dalam menyelesaikan tugas secara mendalam.
Lebih jauh lagi, kecanduan konten seperti brain rot juga berdampak pada aspek sosial. Anak-anak dan remaja menjadi lebih jarang melakukan aktivitas fisik atau bermain di luar, yang penting untuk kesehatan mental dan pengembangan keterampilan sosial.
Meskipun tren seperti Italian brain rot bisa menjadi hiburan sesaat, pendampingan dari orang tua dan guru tetap penting. Membatasi waktu layar, mengenalkan anak pada konten yang edukatif dan seimbang, serta memberikan ruang untuk kegiatan non-digital adalah langkah preventif yang dapat membantu menjaga kesehatan mental generasi muda.***