INVERSI.ID – Belakangan ini, semakin banyak anak muda yang mengalami kecemasan dan ketakutan akibat trauma masa lalu yang belum terselesaikan. Sayangnya, banyak dari mereka yang belum tahu harus mulai dari mana untuk menghadapinya.
Menurut dr. Ira Rositawati, dokter spesialis jiwa di RSI Hasanah Muhammadiyah Mojokerto, trauma bisa muncul dalam berbagai bentuk dan reaksi tiap orang pun berbeda-beda. Hal yang paling penting bukanlah apa yang terjadi, melainkan bagaimana seseorang mengenali dan memproses pengalaman tersebut.
“Masa muda adalah masa pencarian jati diri. Banyak yang masih bingung siapa dirinya, dan kebingungan itu bisa memicu tekanan batin. Maka penting sekali untuk tahu asal mula traumanya—apakah dari keluarga, teman, atau lingkungan sosial lainnya,” ujar dr. Ira.
Trauma Bukan Aib, Tapi Sinyal untuk Lebih Mengenal Diri
Trauma sering kali meninggalkan luka emosional yang mendalam. Mulai dari merasa diremehkan, tidak diperhatikan, hingga mengalami tekanan mental dari orang-orang terdekat. Dalam kondisi ini, langkah awal yang bisa dilakukan adalah menerima dan menghargai diri sendiri.
“Anak muda perlu belajar berdamai dengan kenyataan dan memetik pelajaran dari pengalaman buruk. Selalu ada sisi positif, meski mungkin belum terlihat sekarang, tambah dr. Ira.
Salah satu tantangan terbesar anak muda dalam menghadapi trauma adalah kesulitan untuk terbuka dan mengungkapkan isi hati. Oleh karena itu, dr. Ira menekankan pentingnya peran lingkungan terdekat.
“Kalau keluarga atau teman tidak bisa memberi dukungan yang cukup, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater. Ciptakan suasana yang nyaman agar mereka merasa aman untuk bercerita,” jelasnya.
Selain berbicara dengan orang yang dipercaya, anak muda juga bisa menenangkan diri melalui aktivitas yang menenangkan pikiran. Latihan relaksasi, olahraga ringan, hingga kegiatan kreatif seperti menggambar atau bermain musik dapat mempercepat proses pemulihan.
“Temukan cara paling nyaman untuk menenangkan diri. Entah itu lewat seni, olahraga, atau sekadar duduk menikmati waktu sendiri,” pungkas dr. Ira.
Dengan dukungan yang tepat dan upaya mengenali diri sendiri, proses pemulihan dari trauma bukan hal yang mustahil. Anak muda bisa bangkit dan kembali menjalani hidup dengan mental yang lebih sehat dan kuat.***