By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: ‘Quiet Quitting’ Fenomena Kerja Minimalis yang Jadi Sorotan Gen Z
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » ‘Quiet Quitting’ Fenomena Kerja Minimalis yang Jadi Sorotan Gen Z

Terkini

‘Quiet Quitting’ Fenomena Kerja Minimalis yang Jadi Sorotan Gen Z

Jack
By
Jack
11 months ago
Share
5 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Fenomena quiet quitting yang sempat viral di berbagai platform media sosial kini bukan lagi sekadar bahan candaan atau diskusi ringan. Istilah ini telah menjelma menjadi isu serius yang mencerminkan pergeseran nilai, ekspektasi, dan cara kerja generasi muda di dunia profesional saat ini.

Contents
Bukan Malas, tetapi Sinyal Budaya Kerja BermasalahTantangan Antargenerasi di Dunia KerjaStrategi Menghadapi Quiet QuittingPentingnya Soft Skills di Era ModernKesimpulan: Saatnya Organisasi Berbenah

Quiet quitting menggambarkan kondisi di mana seorang karyawan tetap menjalankan tugas-tugas pokok sesuai dengan deskripsi pekerjaan, tetapi tanpa inisiatif tambahan, tanpa keterlibatan emosional, dan tanpa komitmen jangka panjang terhadap pekerjaan atau organisasi. Dalam dunia akademik, perilaku ini dikenal sebagai bentuk penarikan diri secara psikologis dari pekerjaan.

Fenomena ini kerap dikaitkan dengan generasi Z, yaitu kelompok yang lahir dan tumbuh di era digital, terbiasa dengan komunikasi terbuka, lebih mengutamakan kesehatan mental, serta memiliki ekspektasi tinggi terhadap keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi (work-life balance).

Bukan Malas, tetapi Sinyal Budaya Kerja Bermasalah

Menurut Meika Kurnia Puji Rahayu DA, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus dosen Manajemen Sumber Daya Manusia, quiet quitting seharusnya tidak dipandang sebagai bentuk kemalasan semata.

“Quiet quitting itu sebenarnya perilaku bekerja secara minimalis atau sekadar menjalankan tugas sesuai kewajiban. Generasi Z tidak mencoba melakukan lebih atau melampaui ekspektasi. Dalam organisasi yang dinamis, sikap ini bisa menjadi penghambat pencapaian tujuan,” jelas Meika saat diwawancara pada Rabu (16/07/2025) di Kampus Terpadu UMY.

Ia menekankan bahwa fenomena ini merupakan gejala dari lingkungan kerja yang kurang sehat secara emosional dan struktural. Dengan kata lain, quiet quitting adalah sinyal bahwa ada yang salah dalam sistem kerja maupun budaya organisasi yang membuat karyawan merasa enggan terlibat lebih jauh.

Tantangan Antargenerasi di Dunia Kerja

Meika juga mengungkapkan bahwa fenomena ini makin rumit karena adanya ketimpangan nilai dan ekspektasi antara generasi pimpinan dan staf.

Sebagian besar pimpinan organisasi saat ini berasal dari generasi X yang cenderung lebih loyal, sedangkan staf dan karyawan didominasi oleh generasi Z yang lebih kritis terhadap nilai-nilai kerja yang dianggap tidak selaras dengan kesejahteraan pribadi.

“Quiet quitting bukan berarti mereka malas atau tidak loyal. Ini sinyal bahwa ada yang perlu dibenahi dalam sistem kerja dan budaya organisasi. Kita tidak bisa terus mengeluh dan menyalahkan. Kita harus aware dan accept bahwa ini sudah terjadi, lalu mencari strategi untuk menghadapinya,” tegasnya.

Baca Juga :

Unik, Pedagang UMKM Jualan di Dalam Stadion Haji Agus Salim saat Final Liga 2
Nova Arianto Resmi Latih Timnas U-20: Misi Mulia Cetak Generasi Garuda Masa Depan

Strategi Menghadapi Quiet Quitting

Sebagai solusi, Meika menekankan pentingnya membangun budaya kerja yang mendukung dan lingkungan yang sehat secara emosional, terutama untuk menumbuhkan perilaku Organizational Citizenship Behavior (OCB).

OCB merupakan kontribusi ekstra yang dilakukan karyawan secara sukarela karena mereka merasa memiliki komitmen dan kepedulian terhadap organisasi. “OCB adalah kontribusi lebih dari karyawan yang tidak tertulis dalam jobdesc, namun dilakukan karena rasa kepemilikan dan komitmen terhadap tujuan bersama,” jelas Meika.

Sayangnya, budaya kerja yang suportif tidak bisa dibangun hanya dengan mengandalkan imbalan finansial atau gaya kepemimpinan otoriter. Pola kepemimpinan yang terlalu fokus pada gaji, bonus, atau hukuman justru bisa memperburuk disengagement para karyawan.

“Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang memahami karakter Gen Z, menciptakan ruang yang memungkinkan mereka untuk bertumbuh, belajar, dan merasa dihargai,” tambahnya.

Pentingnya Soft Skills di Era Modern

Selain perbaikan sistem dan budaya kerja, Meika juga menekankan pentingnya penguatan soft skills bagi generasi muda.

Menurutnya, generasi Z memang dikenal sebagai generasi yang cerdas, tetapi kecerdasan saja tidak cukup untuk menghadapi dunia kerja yang dinamis dan kompleks.

“Anak-anak Gen Z itu cerdas-cerdas, tapi kecerdasan saja tidak cukup. Mereka harus dilengkapi dengan keterampilan lunak seperti empati, komunikasi efektif, dan kemampuan kolaborasi lintas generasi agar dapat beradaptasi di dunia kerja,” ujarnya.

Soft skills ini diyakini dapat membantu mereka lebih nyaman bekerja sama dalam tim, memahami nilai organisasi, serta lebih siap menghadapi konflik dan tantangan.

Kesimpulan: Saatnya Organisasi Berbenah

Fenomena quiet quitting yang banyak terjadi pada generasi muda saat ini sejatinya bukan masalah individu, melainkan cerminan budaya kerja yang kurang sehat. Generasi Z hanya memilih cara yang menurut mereka tepat untuk menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup.

Organisasi perlu lebih peka terhadap perubahan nilai-nilai generasi baru dan berupaya membangun lingkungan kerja yang suportif, sehat secara emosional, serta memberi ruang bagi karyawan untuk berkembang.

Di sisi lain, generasi muda juga perlu melengkapi diri dengan keterampilan lunak agar lebih mudah beradaptasi dalam organisasi dan tetap bisa memberikan kontribusi nyata.

Dengan demikian, quiet quitting bukan lagi dianggap sebagai ancaman semata, melainkan sebagai peluang bagi perusahaan untuk bertransformasi menjadi lebih inklusif, adaptif, dan produktif.

You Might Also Like

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat
Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur
TAGGED:Fenomenagen zQuiet Quitting
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Depok Punya! 3 Pemuda Keren Ini Bikin Pelajar SMP IT Nufa Auto Semangat di MPLS: Siap Cetak Generasi Juara Berkarakter!
Next Article Santri Gaspol! 1.560 Santri Terbaik Berebut Beasiswa Indonesia Bangkit 2025: Siap Jadi Generasi Emas Melek Agama dan Teknologi!
1 Comment
  • Pingback: Tren Gen Z Stare di Tempat Kerja, Ekspresi Jujur atau Tanda

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

16 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

17 hours ago
Pildun 2026Terkini

Belgia Terancam Pulang Lagi, Iran Bikin Kejutan! Grup G Piala Dunia Makin Brutal

2 days ago
Pildun 2026Terkini

Cape Verde Tinggal Selangkah Ukir Sejarah ke Babak Gugur Piala Dunia

2 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index