INVERSI.ID – Di sebuah ruang sidang bergaya internasional di Bali, deretan bendera kecil dari berbagai negara berjajar rapi di atas meja panjang. Suara-suara dari berbagai bahasa bergantian terdengar, membahas isu-isu global dengan semangat diplomasi yang membara. Di antara ratusan peserta muda dari berbagai belahan dunia itu, berdiri seorang remaja asal Batam dengan langkah tenang dan pandangan penuh percaya diri. Ia berbicara fasih dalam bahasa Inggris, mewakili Indonesia di forum internasional.
Namanya Gantas Aji Bumandala Wibowo, siswa kelas IX SMP IT Darussalam 01 Batam. Ia menjadi satu-satunya wakil dari Kepulauan Riau yang terpilih dalam Asia World Model United Nations (AWMUN) XII, sebuah konferensi simulasi sidang PBB bergengsi yang mempertemukan lebih dari 700 pelajar dari 20 negara. Bagi Gantas, forum ini bukan sekadar lomba atau kompetisi akademik—lebih dari itu, ini adalah wadah belajar menjadi warga dunia yang sesungguhnya.
“Ini bukan lomba, ini latihan jadi warga dunia,” ujar Gantas dengan nada yakin.
Anak Muda Batam di Forum Diplomasi Dunia
Dalam forum United Nations Economic and Social Council (ECOSOC, Gantas berperan sebagai delegasi Swiss. Topik yang dibahas pun sangat serius, isu malnutrisi di negara berpendapatan rendah dan dampak sosial-ekonominya. Setiap peserta diwajibkan menulis position paper—dokumen berisi analisis dan solusi terkait isu yang diangkat dalam forum.
“Paper itu seperti kebijakan negara. Kita belajar berpikir logis, berempati, dan realistis,” tuturnya.
Menurut Gantas, menulis position paper bukan hal mudah. Ia harus mempelajari kebijakan negara Swiss, mencari data dari sumber kredibel, lalu merumuskan gagasan yang bisa diterima oleh negara lain. Tapi di situlah ia menemukan makna belajar yang sesungguhnya.
“Saya jadi tahu bagaimana diplomasi bukan cuma soal berbicara, tapi juga berpikir dan menulis dengan tanggung jawab,” ujarnya.
Ketika sidang dimulai, suasana berubah menegangkan. Satu per satu delegasi menyampaikan pandangan negaranya di depan forum. Gantas berbicara dengan tenang, suaranya mantap dan terukur. Ia menyampaikan argumen dengan gaya diplomat sejati—tegas namun tetap sopan.
“Rasanya seperti benar-benar jadi diplomat sungguhan. Kita harus cepat berpikir, sopan dalam berdebat, dan berani menyampaikan ide,” kenangnya.
Belajar Diplomasi dan Kerja Sama Lintas Budaya
Di sela-sela sidang, para peserta membentuk coalition block—kelompok negara yang bersekutu untuk menyusun resolusi bersama. Gantas bergabung dengan delegasi dari Inggris, Yaman, dan Swiss lainnya. Mereka berdebat, berdiskusi panjang, dan saling mengoreksi draf resolusi. Prosesnya tidak mudah, tapi Gantas melihat di sanalah letak nilai sejati dari diplomasi.
“Kami belajar mencari titik tengah. Kadang perbedaan pendapat tajam, tapi akhirnya kami menemukan kompromi,” katanya. “Dari situ saya paham, kerja sama lintas budaya itu bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling mau mendengarkan.”
Empat hari konferensi berlalu dengan cepat. Saat penutupan, Gantas membawa pulang bukan hanya sertifikat penghargaan, tapi juga kepercayaan diri baru. Ia menyadari bahwa anak muda Indonesia, bahkan dari kota seperti Batam, bisa bersuara di forum internasional dan berdiskusi sejajar dengan pelajar dunia.
“Kalau ditanya mau jadi apa, saya belum pasti,” ujarnya tersenyum. “Tapi kalau ditanya mau melakukan apa, saya ingin mengadvokasi perubahan—mulai dari Batam, lalu Indonesia, dan dunia.”
Dari Batam untuk Dunia: Dukungan dari Keluarga dan Sekolah
Kesuksesan Gantas tak lepas dari dukungan keluarga. Sang ibu, Tiana Puspita Dewi, bercerita bahwa sejak kecil Gantas sudah menunjukkan ketertarikan pada isu global. “Dia lebih suka baca buku geopolitik daripada komik,” ujar Tiana sambil tertawa bangga.
Di rumah, budaya literasi sudah menjadi kebiasaan. Buku-buku tentang sejarah, hubungan internasional, dan politik dunia berjejer di rak. “Saya percaya, anak yang suka membaca akan punya sudut pandang luas dan berani berpikir,” katanya.
Tak hanya membaca, keluarga juga aktif mencari wadah agar Gantas bisa mengasah kemampuan berpikir kritis dan berbicara di depan umum. “Kami bantu carikan pelatih public speaking dan komunitas debat. Anak kalau punya arah, tinggal diasah,” tambah Tiana.
Ia juga berharap sekolah-sekolah di Batam memberi ruang bagi kegiatan seperti ini. “Kebanyakan peserta Model United Nations berasal dari sekolah internasional. Saya ingin sekolah negeri atau sekolah Islam juga punya kegiatan debat atau simulasi diplomasi. Potensi anak-anak lokal luar biasa, tinggal diberi kesempatan,” tegasnya.
Generasi Z dan Harapan Baru Diplomasi Indonesia
Kehadiran Gantas di forum dunia mencerminkan semangat baru anak muda Indonesia dalam melihat dunia. Di tengah gempuran teknologi dan media sosial, Gantas memilih jalur yang berbeda—berbicara tentang solusi global, membahas diplomasi, dan mencari cara agar dunia lebih adil bagi semua.
Fenomena seperti ini juga sejalan dengan tren meningkatnya minat anak muda terhadap isu internasional dan kepemimpinan global. Banyak pelajar Indonesia kini mulai bergabung dalam kegiatan Model United Nations (MUN), baik secara daring maupun luring. Melalui simulasi ini, mereka belajar berpikir kritis, mengasah kemampuan analisis, dan memahami cara kerja organisasi internasional seperti PBB.
Di balik semua prestasi itu, Gantas tetap rendah hati. Setelah pulang ke Batam, ia diminta berbagi pengalaman di depan teman-teman sekolahnya. Di hadapan ratusan siswa, ia menutup kisahnya dengan kalimat sederhana namun penuh makna.
“Kita nggak harus sempurna untuk bisa melakukan hal hebat. Kita cuma perlu latihan dan konsistensi. Karena latihanlah yang bikin kita percaya diri,” ucap Gantas disambut tepuk tangan meriah.
Kata-kata itu menggambarkan filosofi hidupnya—bahwa mimpi besar dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan tekun. Bagi Gantas, diplomasi bukan sekadar profesi masa depan, tapi cara untuk memahami manusia dan dunia.
Dari Batam, seorang pelajar SMP menanam benih harapan bahwa generasi muda Indonesia siap tampil di panggung dunia. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, Gantas akan benar-benar duduk di kursi diplomat Indonesia di markas besar PBB di New York—bukan lagi sebagai peserta simulasi, tapi sebagai perwakilan resmi bangsa.