By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Gantas Aji, Pelajar Batam yang Belajar Jadi Diplomat Lewat Simulasi PBB
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Gantas Aji, Pelajar Batam yang Belajar Jadi Diplomat Lewat Simulasi PBB

Terkini

Gantas Aji, Pelajar Batam yang Belajar Jadi Diplomat Lewat Simulasi PBB

Jack
By
Jack
9 months ago
Share
7 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Di sebuah ruang sidang bergaya internasional di Bali, deretan bendera kecil dari berbagai negara berjajar rapi di atas meja panjang. Suara-suara dari berbagai bahasa bergantian terdengar, membahas isu-isu global dengan semangat diplomasi yang membara. Di antara ratusan peserta muda dari berbagai belahan dunia itu, berdiri seorang remaja asal Batam dengan langkah tenang dan pandangan penuh percaya diri. Ia berbicara fasih dalam bahasa Inggris, mewakili Indonesia di forum internasional.

Contents
Anak Muda Batam di Forum Diplomasi DuniaBelajar Diplomasi dan Kerja Sama Lintas BudayaDari Batam untuk Dunia: Dukungan dari Keluarga dan SekolahGenerasi Z dan Harapan Baru Diplomasi Indonesia

Namanya Gantas Aji Bumandala Wibowo, siswa kelas IX SMP IT Darussalam 01 Batam. Ia menjadi satu-satunya wakil dari Kepulauan Riau yang terpilih dalam Asia World Model United Nations (AWMUN) XII, sebuah konferensi simulasi sidang PBB bergengsi yang mempertemukan lebih dari 700 pelajar dari 20 negara. Bagi Gantas, forum ini bukan sekadar lomba atau kompetisi akademik—lebih dari itu, ini adalah wadah belajar menjadi warga dunia yang sesungguhnya.

“Ini bukan lomba, ini latihan jadi warga dunia,” ujar Gantas dengan nada yakin.

Anak Muda Batam di Forum Diplomasi Dunia

Dalam forum United Nations Economic and Social Council (ECOSOC, Gantas berperan sebagai delegasi Swiss. Topik yang dibahas pun sangat serius, isu malnutrisi di negara berpendapatan rendah dan dampak sosial-ekonominya. Setiap peserta diwajibkan menulis position paper—dokumen berisi analisis dan solusi terkait isu yang diangkat dalam forum.

“Paper itu seperti kebijakan negara. Kita belajar berpikir logis, berempati, dan realistis,” tuturnya.

Menurut Gantas, menulis position paper bukan hal mudah. Ia harus mempelajari kebijakan negara Swiss, mencari data dari sumber kredibel, lalu merumuskan gagasan yang bisa diterima oleh negara lain. Tapi di situlah ia menemukan makna belajar yang sesungguhnya.

“Saya jadi tahu bagaimana diplomasi bukan cuma soal berbicara, tapi juga berpikir dan menulis dengan tanggung jawab,” ujarnya.

Ketika sidang dimulai, suasana berubah menegangkan. Satu per satu delegasi menyampaikan pandangan negaranya di depan forum. Gantas berbicara dengan tenang, suaranya mantap dan terukur. Ia menyampaikan argumen dengan gaya diplomat sejati—tegas namun tetap sopan.

“Rasanya seperti benar-benar jadi diplomat sungguhan. Kita harus cepat berpikir, sopan dalam berdebat, dan berani menyampaikan ide,” kenangnya.

Baca Juga :

Dampak Gangguan Ponsel Pada Remaja Bisa Alami Kesehatan Mental
Ade Armando Sesalkan Sejumlah Pihak yang Melapor Dirinya Terkait Politik Dinasti di DIY

Belajar Diplomasi dan Kerja Sama Lintas Budaya

Di sela-sela sidang, para peserta membentuk coalition block—kelompok negara yang bersekutu untuk menyusun resolusi bersama. Gantas bergabung dengan delegasi dari Inggris, Yaman, dan Swiss lainnya. Mereka berdebat, berdiskusi panjang, dan saling mengoreksi draf resolusi. Prosesnya tidak mudah, tapi Gantas melihat di sanalah letak nilai sejati dari diplomasi.

“Kami belajar mencari titik tengah. Kadang perbedaan pendapat tajam, tapi akhirnya kami menemukan kompromi,” katanya. “Dari situ saya paham, kerja sama lintas budaya itu bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling mau mendengarkan.”

Empat hari konferensi berlalu dengan cepat. Saat penutupan, Gantas membawa pulang bukan hanya sertifikat penghargaan, tapi juga kepercayaan diri baru. Ia menyadari bahwa anak muda Indonesia, bahkan dari kota seperti Batam, bisa bersuara di forum internasional dan berdiskusi sejajar dengan pelajar dunia.

“Kalau ditanya mau jadi apa, saya belum pasti,” ujarnya tersenyum. “Tapi kalau ditanya mau melakukan apa, saya ingin mengadvokasi perubahan—mulai dari Batam, lalu Indonesia, dan dunia.”


Dari Batam untuk Dunia: Dukungan dari Keluarga dan Sekolah

Kesuksesan Gantas tak lepas dari dukungan keluarga. Sang ibu, Tiana Puspita Dewi, bercerita bahwa sejak kecil Gantas sudah menunjukkan ketertarikan pada isu global. “Dia lebih suka baca buku geopolitik daripada komik,” ujar Tiana sambil tertawa bangga.

Di rumah, budaya literasi sudah menjadi kebiasaan. Buku-buku tentang sejarah, hubungan internasional, dan politik dunia berjejer di rak. “Saya percaya, anak yang suka membaca akan punya sudut pandang luas dan berani berpikir,” katanya.

Tak hanya membaca, keluarga juga aktif mencari wadah agar Gantas bisa mengasah kemampuan berpikir kritis dan berbicara di depan umum. “Kami bantu carikan pelatih public speaking dan komunitas debat. Anak kalau punya arah, tinggal diasah,” tambah Tiana.

Ia juga berharap sekolah-sekolah di Batam memberi ruang bagi kegiatan seperti ini. “Kebanyakan peserta Model United Nations berasal dari sekolah internasional. Saya ingin sekolah negeri atau sekolah Islam juga punya kegiatan debat atau simulasi diplomasi. Potensi anak-anak lokal luar biasa, tinggal diberi kesempatan,” tegasnya.


Generasi Z dan Harapan Baru Diplomasi Indonesia

Kehadiran Gantas di forum dunia mencerminkan semangat baru anak muda Indonesia dalam melihat dunia. Di tengah gempuran teknologi dan media sosial, Gantas memilih jalur yang berbeda—berbicara tentang solusi global, membahas diplomasi, dan mencari cara agar dunia lebih adil bagi semua.

Fenomena seperti ini juga sejalan dengan tren meningkatnya minat anak muda terhadap isu internasional dan kepemimpinan global. Banyak pelajar Indonesia kini mulai bergabung dalam kegiatan Model United Nations (MUN), baik secara daring maupun luring. Melalui simulasi ini, mereka belajar berpikir kritis, mengasah kemampuan analisis, dan memahami cara kerja organisasi internasional seperti PBB.

Di balik semua prestasi itu, Gantas tetap rendah hati. Setelah pulang ke Batam, ia diminta berbagi pengalaman di depan teman-teman sekolahnya. Di hadapan ratusan siswa, ia menutup kisahnya dengan kalimat sederhana namun penuh makna.

“Kita nggak harus sempurna untuk bisa melakukan hal hebat. Kita cuma perlu latihan dan konsistensi. Karena latihanlah yang bikin kita percaya diri,” ucap Gantas disambut tepuk tangan meriah.

Kata-kata itu menggambarkan filosofi hidupnya—bahwa mimpi besar dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan tekun. Bagi Gantas, diplomasi bukan sekadar profesi masa depan, tapi cara untuk memahami manusia dan dunia.

Dari Batam, seorang pelajar SMP menanam benih harapan bahwa generasi muda Indonesia siap tampil di panggung dunia. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, Gantas akan benar-benar duduk di kursi diplomat Indonesia di markas besar PBB di New York—bukan lagi sebagai peserta simulasi, tapi sebagai perwakilan resmi bangsa.

You Might Also Like

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!
Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia
Argentina Terlalu Tangguh untuk Swiss, Jadi Penyelamat Amerika Latin di Piala Dunia 2026
Inggris Tunjukkan Mental Juara, Singkirkan Norwegia dan Melaju ke Semifinal
TAGGED:PBBPelajar
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Press Conference PSSI Erick Thohir Pastikan FIFA Match Day November Jadi Ajang Pemanasan Timnas Menuju SEA Games 2025
Next Article Mau Masuk UI Lewat SNBP 2026? Intip Dulu Jurusan yang Sepi Peminat Biar Peluang Lolos Makin Besar
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

Lolos dari Selat Hormuz! Pertamina Jaga Pasokan 2 Juta Barel Minyak Bagi Ketahanan Energi RI

Korupsi Masuk Jantung Penegak Hukum, Polri Bongkar 3 Mega Kasus

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Internasional

Konflik AS-Iran Memanas, PBB Ingatkan Ancaman bagi Stabilitas Dunia

3 days ago
Internasional

Cuaca Ekstrem Melanda Korea Selatan, Pemerintah Tetapkan Siaga Gelombang Panas Level Peringatan

3 days ago
Pildun 2026Terkini

Mbappe Cs Tampil Super Attacking, Les Bleus Makin Difavoritkan Juara

4 days ago
Pildun 2026Terkini

Messi, Mbappe, Haaland atau Kane? Siapa yang Akan Raih Sepatu Emas Piala Dunia 2026

4 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index