NEW YORK — Kemenangan Inggris atas Kroasia dengan skor 4-2 pada laga Grup L Piala Dunia 2026 justru memunculkan kontroversi besar. Sorotan bukan hanya tertuju pada tiga poin yang diraih The Three Lions, tetapi juga pada cara kapten tim, Harry Kane, mengeksekusi penalti yang berbuah gol.
Pertandingan yang berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, Selasa (17/6/2026), sempat berjalan sengit. Inggris unggul melalui Harry Kane sebelum Kroasia memberikan perlawanan. Namun, momen yang paling banyak diperbincangkan terjadi saat Kane mengambil tendangan penalti.
Dalam eksekusinya, striker Bayern Munich itu melakukan gerakan perlambatan dan perubahan ritme sebelum melepaskan tembakan. Kiper Kroasia dibuat bergerak lebih dulu sehingga Kane dengan tenang mengarahkan bola ke gawang. Gol tersebut membantu Inggris mengamankan kemenangan 4-2.
Aksi Kane langsung memicu perdebatan luas di media sosial dan kalangan pengamat sepak bola. Banyak pihak menilai teknik tersebut memberi keuntungan tidak adil bagi penendang penalti. Bahkan muncul seruan agar FIFA meninjau ulang aturan dan melarang metode yang dianggap mengecoh penjaga gawang secara berlebihan.
Mantan pemain Liga Primer Inggris, Stan Collymore, menjadi salah satu sosok yang mengkritik keras teknik tersebut. Menurutnya, aturan saat ini terlalu berpihak kepada penendang penalti.
“Penalti harus diambil dalam satu gerakan yang mulus. Kiper sudah berada dalam posisi yang sulit,” tulis Collymore melalui media sosialnya. Ia menilai FIFA perlu mempertimbangkan perubahan aturan agar keseimbangan antara penendang dan penjaga gawang tetap terjaga.
Meski demikian, sejumlah analis menegaskan bahwa tindakan Kane masih berada dalam koridor hukum permainan. Aturan FIFA memang memperbolehkan perubahan kecepatan saat berlari menuju bola selama penendang tidak berhenti sepenuhnya setelah menyelesaikan awalan. Karena itu, wasit tidak memiliki alasan untuk menganulir gol tersebut.
Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, memilih fokus pada hasil pertandingan dibanding kontroversi yang berkembang. Ia memuji mentalitas timnya yang mampu mengatasi tekanan Kroasia dan mengawali turnamen dengan kemenangan penting.
Sementara itu, Kane juga tidak terlalu mempermasalahkan kritik yang muncul. Penyerang berusia 32 tahun tersebut menegaskan bahwa dirinya hanya menjalankan teknik yang selama ini digunakan dan masih sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Kemenangan atas Kroasia menempatkan Inggris dalam posisi kuat di Grup L. Namun di balik hasil positif tersebut, perdebatan mengenai cara Harry Kane mengeksekusi penalti diperkirakan masih akan terus bergulir sepanjang Piala Dunia 2026.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah gol Kane sah atau tidak. Pertanyaan yang ramai dibahas adalah: apakah FIFA akan mengubah aturan penalti setelah kontroversi yang mengguncang panggung Piala Dunia ini?