Inversi Harga sejumlah komoditas pangan strategis di tingkat nasional terpantau bergerak fluktuatif pada Jumat (9/1/2026). Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia, pemantauan harga pada pukul 16.00 WIB.
Menunjukkan adanya kecenderungan penurunan pada komoditas hortikultura, khususnya cabai, sementara harga beras dan sebagian besar komoditas pokok lainnya relatif stabil.
PIHPS Nasional mencatat pergerakan harga rata-rata nasional berdasarkan transaksi di pasar tradisional yang diperbarui secara berkala setiap jam. Data ini menjadi salah satu acuan utama pemerintah dalam memantau dinamika harga pangan dan menjaga stabilitas pasokan di tengah perubahan permintaan masyarakat.
Untuk komoditas beras, harga terpantau tidak mengalami perubahan signifikan di hampir seluruh segmen kualitas. Beras kualitas bawah I tercatat sebesar Rp14.400 per kilogram, sedangkan beras kualitas bawah II juga berada pada level yang sama, yakni Rp14.400 per kilogram. Kondisi ini mencerminkan kestabilan pasokan beras di pasar tradisional pascalibur panjang akhir tahun.
Pada segmen menengah, harga beras medium I berada di kisaran Rp15.900 per kilogram, sementara beras medium II tercatat Rp15.750 per kilogram. Adapun beras kualitas premium juga cenderung stabil, dengan harga beras super I sebesar Rp17.100 per kilogram dan beras super II di kisaran Rp16.700 per kilogram.
Stabilnya harga beras ini menunjukkan bahwa distribusi dan cadangan beras nasional masih berada dalam kondisi terkendali. Berbeda dengan beras, komoditas cabai menunjukkan tren penurunan harga dibandingkan hari sebelumnya. Harga cabai merah besar tercatat sebesar Rp43.000 per kilogram, turun cukup signifikan setelah sebelumnya sempat berada pada level yang lebih tinggi.
Cabai merah keriting juga mengalami pelemahan harga dan kini berada di kisaran Rp44.750 per kilogram. Sementara itu, harga cabai rawit hijau tercatat Rp60.850 per kilogram dan cabai rawit merah berada di kisaran Rp58.250 per kilogram. Meski masih tergolong tinggi, penurunan harga cabai ini menjadi sinyal awal terjadinya normalisasi pasar hortikultura seiring membaiknya pasokan dari sentra produksi.
Pada kelompok komoditas protein hewani, harga daging ayam ras segar terpantau mengalami penurunan tipis. PIHPS mencatat harga daging ayam ras berada di level Rp40.800 per kilogram. Penurunan serupa juga terjadi pada telur ayam ras yang kini tercatat Rp32.450 per kilogram. Kondisi ini dipengaruhi oleh menurunnya permintaan setelah periode libur akhir tahun, serta distribusi pasokan yang kembali berjalan normal.
Sementara itu, harga daging sapi relatif stabil. Daging sapi kualitas I tercatat sebesar Rp142.350 per kilogram, sedangkan daging sapi kualitas II berada di kisaran Rp134.800 per kilogram. Stabilitas harga daging sapi mencerminkan keseimbangan antara pasokan impor dan produksi dalam negeri yang masih terjaga.
Untuk komoditas gula dan minyak goreng, pergerakan harga terpantau cenderung terbatas. Gula pasir kualitas premium tercatat Rp19.800 per kilogram, sementara gula pasir lokal berada di level Rp18.200 per kilogram. Kedua jenis gula tersebut tidak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan hari sebelumnya.
Adapun harga minyak goreng masih berada pada level yang relatif tinggi. Minyak goreng curah tercatat Rp18.850 per liter. Sementara itu, harga minyak goreng kemasan bermerek I berada di kisaran Rp22.600 per liter dan minyak goreng kemasan bermerek II tercatat Rp21.550 per liter. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun stabil, harga minyak goreng belum sepenuhnya mengalami penurunan yang berarti.
Secara umum, pergerakan harga pangan pada 9 Januari 2026 mencerminkan fase penyesuaian pasar setelah tingginya permintaan selama libur Natal dan Tahun Baru. Komoditas hortikultura, khususnya cabai, mulai mengalami koreksi harga, sementara komoditas strategis seperti beras, daging sapi, dan gula pasir relatif terjaga stabil.
Memasuki pertengahan Januari 2026, harga pangan nasional diperkirakan tetap bergerak dinamis dengan volatilitas yang lebih rendah. Pemerintah bersama Bank Indonesia dan kementerian terkait terus memperkuat koordinasi dalam memantau harga, menjaga kelancaran distribusi, serta memastikan ketersediaan pasokan guna melindungi daya beli masyarakat.