INVERSI.ID – Kebiasaan menyantap gorengan saat berbuka puasa ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap remeh. Dietisien dari RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung, Yesi Herawati, mengingatkan bahwa konsumsi makanan tinggi lemak setelah seharian berpuasa dapat membebani kerja organ tubuh.
“Makan terlalu banyak gorengan pada saat berbuka atau sahur dapat memberatkan kerja organ tubuh,” kata Yesi kepada, Sabtu.
Menurut Yesi, berbuka puasa dengan gorengan berpotensi meningkatkan asupan lemak secara signifikan, terlebih jika dikonsumsi dalam jumlah besar. Kondisi ini membuat tubuh yang sebelumnya beristirahat selama kurang lebih 12 jam harus bekerja ekstra keras untuk mencerna lemak.
Organ pertama yang terdampak adalah hati. Lemak berlebih akan disimpan di organ tersebut. Jika penumpukan terjadi terus-menerus, dapat berkembang menjadi perlemakan hati, peradangan, sirosis, bahkan kanker hati.
Selain hati, jantung dan pembuluh darah juga berisiko terdampak akibat tingginya asupan lemak.
“Hal ini dapat meningkatkan kolesterol dalam darah sehingga terjadi penyumbatan berisiko terjadi aterosklerosis dan penyakit jantung koroner,” katanya.
Pankreas dan empedu turut menerima dampak negatif karena konsumsi lemak berlebihan dapat memicu resistensi insulin yang meningkatkan risiko diabetes. Tidak hanya itu, ginjal pun bisa terbebani karena dipaksa bekerja lebih keras, sehingga dalam jangka panjang berisiko menimbulkan penyakit ginjal kronik.
Yesi juga menyoroti dampak pada sistem pernapasan. Penumpukan lemak, terutama di area perut, dapat menekan diafragma dan memicu keluhan sesak napas.
“Efek lainnya terjadi pada sistem reproduksi yang dapat menyebabkan penurunan kesuburan karena ketidakseimbangan hormon,” kata Yesi.
Dari sisi pencernaan, gorengan saat berbuka puasa juga berpotensi menimbulkan gangguan. Setelah berpuasa cukup lama, saluran cerna membutuhkan asupan yang ringan dan mudah dicerna, bukan makanan tinggi lemak yang memperlambat proses pencernaan.
Risiko tersebut semakin besar bagi individu dengan berat badan berlebih atau obesitas.
“Apabila terjadi terus menerus dan tidak diimbangi dengan asupan serat yang cukup dan aktivitas fisik yang memadai, maka terjadi penumpukan lemak di dalam tubuh yang sangat berisiko terjadi obesitas, penyakit jantung, stroke, perlemakan hati, diabetes melitus, kanker dan penyakit lainnya,” katanya.
Meski demikian, Yesi menyebut gorengan masih bisa dikonsumsi dalam batas wajar bagi individu dengan status gizi normal, yakni maksimal dua potong per hari, dengan catatan tidak disertai makanan bersantan atau olahan goreng lainnya dalam menu yang sama.
Sementara bagi yang mengalami kegemukan atau obesitas, konsumsi gorengan sebaiknya dibatasi, bahkan cukup satu kali dalam seminggu. Minyak yang digunakan juga disarankan minyak baru, bukan minyak bekas pakai berulang kali. Selain itu, penting untuk mengimbanginya dengan konsumsi serat yang cukup dan aktivitas fisik teratur.
Sebagai alternatif takjil sehat, Yesi menyarankan memulai berbuka dengan air putih untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Setelah itu, dapat dilanjutkan dengan makanan yang mudah dicerna dan mengandung elektrolit, seperti kurma, air kelapa, buah segar, atau salad buah, agar metabolisme tubuh kembali optimal tanpa membebani organ.