JAKARTA
Pasar saham Indonesia dibuat geger hari ini, Kamis (29/1), setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas secara dramatis. Penurunan yang sangat tajam ini bahkan memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengaktifkan “rem darurat” atau trading halt, menghentikan sementara seluruh aktivitas perdagangan saham.
Para investor dibuat panik dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Yang pasti, penurunan IHSG mencapai 8 persen. Pada perdagangan sesi I pukul 09.26 WIB di Jakarta, Kamis, IHSG tercatat melemah 665,89 poin atau 8,00 persen ke posisi 7.654,66. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 62,28 poin atau 7,66 persen ke posisi 750,25. Adapun, perdagangan dilanjutkan sekitar pukul 09.56 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan.
Usut punya usut, kepanikan massal ini dipicu oleh rilis terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI, sebuah lembaga riset dan penyedia indeks saham global yang sangat berpengaruh, mengumumkan perubahan dalam daftar saham (rebalancing) untuk indeksnya.
Dalam pengumuman tersebut, MSCI secara tak terduga mengeluarkan beberapa saham unggulan (big caps) Indonesia dari indeks mereka. Saham-saham yang dikeluarkan ini merupakan saham dengan kapitalisasi pasar besar yang selama ini menjadi favorit investor asing.
“Keluarnya beberapa saham big caps dari indeks MSCI secara otomatis memicu aksi jual besar-besaran dari para fund manager asing yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan investasi mereka,” ungkap seorang analis pasar modal. Aksi jual masif inilah yang membuat IHSG longsor tak terkendali.
Melihat kondisi pasar yang bergejolak hebat, pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak tinggal diam. Mereka segera bergerak cepat untuk menenangkan kepanikan investor.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya dalam kondisi yang kuat dan solid. Ia meminta investor untuk tidak panik dan terpengaruh oleh sentimen sesaat.
“Kami melihat fundamental ekonomi kita masih sangat baik. Ini hanya sentimen sesaat akibat rebalancing MSCI. Kami mengimbau investor untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan kepanikan,” ujar Inarno dalam keterangan resminya.
Pihak OJK juga menyatakan bahwa efek dari rebalancing ini diperkirakan hanya bersifat sementara. “Secara historis, dampak dari rebalancing seperti ini biasanya hanya berlangsung dalam jangka pendek. Pasar akan segera menemukan keseimbangan barunya,” tambahnya.
Meski pemerintah telah berusaha menenangkan pasar, anjloknya IHSG hari ini menjadi pengingat betapa rentannya pasar modal Indonesia terhadap sentimen global. Para netizen di media sosial pun ramai berkomentar, banyak yang mengaku dananya tertahan dan berharap pasar segera pulih.