INVERSI.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (7/5/2026), mengikuti tren positif bursa saham Asia dan global di tengah meningkatnya optimisme terhadap potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.
IHSG tercatat naik 68,32 poin atau 0,96 persen ke level 7.160,79 saat pembukaan perdagangan. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga menguat 7,55 poin atau 1,11 persen ke posisi 690,31.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai penguatan IHSG masih berpotensi berlanjut pada perdagangan hari ini.
“Diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menguji level 7.150- 7.200,” ujar Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Dari pasar global, sentimen positif dipicu oleh optimisme bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang melibatkan kedua negara.
Kesepakatan tersebut dikabarkan mencakup moratorium pengayaan nuklir Iran. Saat ini, Teheran disebut masih melakukan evaluasi terhadap proposal yang diajukan Amerika Serikat.
Namun demikian, Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa kesepakatan tersebut belum sepenuhnya pasti. Trump menyebut masih menjadi asumsi besar apakah Iran benar-benar akan menerima proposal dari Washington.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat juga ikut mendukung sentimen pasar. Laporan ADP Employment menunjukkan sektor swasta AS menambah 109 ribu lapangan kerja sepanjang April 2026.
Angka tersebut menjadi peningkatan terbesar sejak Januari 2025 dan melampaui proyeksi pasar yang berada di kisaran 99 ribu lapangan kerja.
Data itu dinilai mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih cukup kuat. Perusahaan-perusahaan di Negeri Paman Sam disebut masih menahan gelombang pemutusan hubungan kerja, meski perekrutan tenaga kerja mulai melambat akibat pertumbuhan angkatan kerja yang lebih rendah.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam lebih dari 7 persen pada perdagangan Rabu (6/5/2026). Saat ini, minyak mentah jenis WTI berada di level 95,57 dolar AS per barel, sedangkan Brent berada di posisi 101,77 dolar AS per barel.
Dari dalam negeri, pemerintah Indonesia tengah menyiapkan penerbitan instrumen utang dalam mata uang Yuan di China atau Panda Bonds sebagai langkah diversifikasi pembiayaan internasional untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah.
Melalui langkah tersebut, pemerintah diharapkan tidak hanya bergantung pada pembiayaan berbasis dolar AS, tetapi juga berpotensi memperoleh tingkat bunga yang lebih kompetitif.
Selain itu, pemerintah juga merevisi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam. Dalam aturan baru tersebut, eksportir diwajibkan menempatkan dana hasil ekspor di bank Himbara serta mengonversi maksimal 50 persen ke dalam Rupiah mulai 1 Juni 2026.
Tak hanya itu, pemerintah juga bersiap meluncurkan insentif subsidi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) pada awal Juni 2026.
Program subsidi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat terhadap kendaraan listrik sekaligus membantu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak.
Pada tahap awal, pemerintah disebut akan menyediakan kuota subsidi untuk 100 ribu unit kendaraan listrik.
Di pasar Eropa, mayoritas indeks saham utama ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya. Indeks Euro Stoxx 50 naik 2,52 persen, FTSE 100 Inggris menguat 2,15 persen, DAX Jerman bertambah 2,12 persen, dan CAC Prancis melonjak 2,94 persen.
Penguatan serupa juga terjadi di Wall Street. Indeks S&P 500 naik 1,46 persen ke level 7.365,12, Nasdaq menguat 2,08 persen ke posisi 28.599,17, sedangkan Dow Jones naik 1,24 persen menjadi 49.910,59.
Sementara di kawasan Asia pada perdagangan pagi ini, indeks Nikkei melonjak 5,59 persen ke level 62.840,00. Indeks Shanghai naik 0,19 persen ke posisi 4.167,89, Hang Seng menguat 1,48 persen menjadi 26.601,00, dan Strait Times bertambah 0,33 persen ke level 4.943,49.