By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Miris, Jumlah Perokok Anak Muda di Indonesia Tembus 5,9 Juta Orang, Haruskah Kita Diam?
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Miris, Jumlah Perokok Anak Muda di Indonesia Tembus 5,9 Juta Orang, Haruskah Kita Diam?

Kesehatan

Miris, Jumlah Perokok Anak Muda di Indonesia Tembus 5,9 Juta Orang, Haruskah Kita Diam?

Jack
By
Jack
11 months ago
Share
5 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Rokok sudah lama jadi masalah besar di Indonesia. Tapi yang bikin lebih miris, sekarang justru anak muda yang jadi sasaran utama. Data terbaru Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan jumlah perokok usia 10–18 tahun di Indonesia meningkat drastis, bahkan sudah mencapai 5,9 juta orang.

Contents
Perokok Anak Muda Melonjak TajamAnak Kecil Mulai Merokok di Usia DiniKenapa Rokok Masih Mudah Didapat?Rokok: Antara Gaya Hidup dan Tekanan SosialSiapa yang Harus Bertanggung Jawab?Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Angka itu diungkap oleh Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, saat konferensi pers di acara Indonesian Youth Council for Tactical Changes, Kamis (17/7) di Jakarta. Menurutnya, tren ini makin mengkhawatirkan karena kenaikan jumlah perokok muda terjadi bersamaan dengan kenaikan jumlah perokok anak di bawah umur.

Perokok Anak Muda Melonjak Tajam

Siti Nadia menjelaskan bahwa Indonesia saat ini punya sekitar 70,2 juta penduduk dewasa pengguna tembakau, di mana 68,9 juta di antaranya adalah perokok aktif. Dari tahun ke tahun, jumlah ini bukannya turun, justru bertambah jutaan orang.

“Kenapa kita khawatir? Karena dari 2013 sampai 2023, secara persentase memang turun sedikit. Tapi jumlah penduduk kita naik terus, jadi jumlah perokok juga naik. Dalam 10 tahun, perokok naik 5 juta orang, dari 57,2 juta jadi 63,1 juta,” kata Nadia.

Sebagai perbandingan, angka kenaikan itu bahkan setara atau lebih besar dari jumlah penduduk satu negara kecil seperti Singapura, yang total populasinya “hanya” 5,9 juta jiwa.

Anak Kecil Mulai Merokok di Usia Dini

Yang bikin makin ngeri, menurut data terbaru Survei Kesehatan Indonesia 2023, perokok pemula sekarang bahkan mulai di usia di bawah 10 tahun.

Survei itu mencatat:

  • 2,6% anak usia 4–9 tahun sudah merokok.
  • 44,7% anak usia 10–14 tahun juga sudah terbiasa merokok.
  • Bahkan, 52,8% anak usia 15–19 tahun aktif merokok.

Artinya, makin ke sini perokok pemula makin muda usianya. Padahal, dampak rokok terhadap kesehatan fisik dan mental di usia muda jauh lebih berat daripada di usia dewasa.

Kenapa Rokok Masih Mudah Didapat?

Rokok.

Nadia secara khusus menyayangkan lemahnya pengawasan di lapangan. Padahal, sudah jelas ada aturan yang melarang penjual untuk menjual rokok kepada orang di bawah umur.

Baca Juga :

Banda Neira Menuju Level Baru, Dorongan Mendagri Jadi Destinasi Super Prioritas
Rekam Jejak Irine Yusiana, Anggota Komisi V DPR RI 2019-2024

“Kalau mau tegas, seharusnya penjual rokok tidak memberikan atau menjual rokok ke anak yang kurang dari 21 tahun,” tegas Nadia.

Namun kenyataannya di lapangan, banyak warung atau minimarket yang tetap melayani pembelian rokok oleh anak sekolah, bahkan kadang tanpa cek identitas. Ini menunjukkan rendahnya kesadaran, baik dari pedagang maupun orang tua, untuk melindungi generasi muda dari bahaya rokok.

Rokok: Antara Gaya Hidup dan Tekanan Sosial

Banyak anak muda bilang merokok bikin “gaul” atau “dewasa”. Nggak sedikit juga yang bilang rokok jadi pelarian dari stres sekolah, masalah keluarga, atau tekanan lingkungan. Padahal, semua itu cuma ilusi.

Faktanya, rokok bikin kecanduan, bikin tubuh cepat rusak, dan bikin pengeluaran jebol. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut satu batang rokok mengandung lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, termasuk zat karsinogen penyebab kanker.

Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

Pertanyaan besar buat kita semua: siapa yang harus disalahkan?

Jawabannya bukan cuma satu pihak. Pemerintah jelas punya tanggung jawab untuk memperketat pengawasan dan memperluas kampanye edukasi anti rokok. Penjual juga harus lebih disiplin dan berani menolak pembeli di bawah umur.

Tapi peran keluarga juga nggak kalah penting. Orang tua harus lebih peka sama anak-anaknya. Jangan cuma melarang tanpa memberi contoh yang baik. Kalau orang tua merokok, wajar kalau anak juga merasa itu hal yang normal.

Dan buat kita, para remaja dan anak muda, kita juga harus belajar bilang “nggak” pada rokok. Nggak perlu ikut-ikutan kalau temen ngerokok. Gaya hidup sehat jauh lebih keren daripada cuma kelihatan “dewasa” dengan ngerokok.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kalau kamu peduli sama diri sendiri dan masa depanmu, mulai sekarang stop beli rokok. Jangan malu buat nolak ajakan teman yang ngajak ngerokok. Kalau perlu, ikut kampanye positif di sekolah atau komunitas tentang hidup sehat tanpa rokok.

Kita juga bisa bantu sebarkan pesan ini ke orang-orang sekitar kita. Semakin banyak yang sadar, semakin kecil peluang industri rokok buat ngejerat generasi muda.

Indonesia sekarang darurat perokok muda. Angkanya udah tembus 5,9 juta anak usia 10–18 tahun, dan tiap tahun makin bertambah. Kalau kita terus diam, generasi masa depan kita bakal makin rusak pelan-pelan.

Sebagai anak muda, kita punya pilihan: tetap ikut arus atau mulai berani bilang tidak. Karena hidup sehat itu jauh lebih keren daripada sekadar kelihatan dewasa dengan sebatang rokok di tangan.

Jadi, kamu pilih yang mana?

You Might Also Like

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak
Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil
IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Rupiah Melemah, Harga Obat Bakal Melambung: Ketahanan Kesehatan RI Diuji
Dokter Ingatkan Bahaya Flu Singapura, Vaksinasi Jadi Perlindungan Penting
TAGGED:Anak MudaPerokokRokok
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Peluang Kerja ke Jepang untuk Anak Muda, Gaji Layak dan Masa Depan Cerah
Next Article for Revenge dan Stand Here Alone Rilis UKYDS: Dua Genre, Satu Rasa
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Waspada! Diare Tak Kunjung Sembuh Bisa Jadi Gejala Radang Usus Kronis

4 weeks ago
Kesehatan

Ahli Sebut COVID-19 Masih Ada, Tapi Dampaknya Tak Separah Masa Pandemi

1 month ago
Kesehatan

Warga Mulai Khawatir Hantavirus, DPRD DKI Desak Pemerintah Perkuat Edukasi

1 month ago
Kesehatan

Kemenhut: Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index