INVERSI.ID – Rokok sudah lama jadi masalah besar di Indonesia. Tapi yang bikin lebih miris, sekarang justru anak muda yang jadi sasaran utama. Data terbaru Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan jumlah perokok usia 10–18 tahun di Indonesia meningkat drastis, bahkan sudah mencapai 5,9 juta orang.
Angka itu diungkap oleh Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, saat konferensi pers di acara Indonesian Youth Council for Tactical Changes, Kamis (17/7) di Jakarta. Menurutnya, tren ini makin mengkhawatirkan karena kenaikan jumlah perokok muda terjadi bersamaan dengan kenaikan jumlah perokok anak di bawah umur.
Perokok Anak Muda Melonjak Tajam
Siti Nadia menjelaskan bahwa Indonesia saat ini punya sekitar 70,2 juta penduduk dewasa pengguna tembakau, di mana 68,9 juta di antaranya adalah perokok aktif. Dari tahun ke tahun, jumlah ini bukannya turun, justru bertambah jutaan orang.
“Kenapa kita khawatir? Karena dari 2013 sampai 2023, secara persentase memang turun sedikit. Tapi jumlah penduduk kita naik terus, jadi jumlah perokok juga naik. Dalam 10 tahun, perokok naik 5 juta orang, dari 57,2 juta jadi 63,1 juta,” kata Nadia.
Sebagai perbandingan, angka kenaikan itu bahkan setara atau lebih besar dari jumlah penduduk satu negara kecil seperti Singapura, yang total populasinya “hanya” 5,9 juta jiwa.
Anak Kecil Mulai Merokok di Usia Dini
Yang bikin makin ngeri, menurut data terbaru Survei Kesehatan Indonesia 2023, perokok pemula sekarang bahkan mulai di usia di bawah 10 tahun.
Survei itu mencatat:
- 2,6% anak usia 4–9 tahun sudah merokok.
- 44,7% anak usia 10–14 tahun juga sudah terbiasa merokok.
- Bahkan, 52,8% anak usia 15–19 tahun aktif merokok.
Artinya, makin ke sini perokok pemula makin muda usianya. Padahal, dampak rokok terhadap kesehatan fisik dan mental di usia muda jauh lebih berat daripada di usia dewasa.
Kenapa Rokok Masih Mudah Didapat?
Nadia secara khusus menyayangkan lemahnya pengawasan di lapangan. Padahal, sudah jelas ada aturan yang melarang penjual untuk menjual rokok kepada orang di bawah umur.
“Kalau mau tegas, seharusnya penjual rokok tidak memberikan atau menjual rokok ke anak yang kurang dari 21 tahun,” tegas Nadia.
Namun kenyataannya di lapangan, banyak warung atau minimarket yang tetap melayani pembelian rokok oleh anak sekolah, bahkan kadang tanpa cek identitas. Ini menunjukkan rendahnya kesadaran, baik dari pedagang maupun orang tua, untuk melindungi generasi muda dari bahaya rokok.
Rokok: Antara Gaya Hidup dan Tekanan Sosial
Banyak anak muda bilang merokok bikin “gaul” atau “dewasa”. Nggak sedikit juga yang bilang rokok jadi pelarian dari stres sekolah, masalah keluarga, atau tekanan lingkungan. Padahal, semua itu cuma ilusi.
Faktanya, rokok bikin kecanduan, bikin tubuh cepat rusak, dan bikin pengeluaran jebol. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut satu batang rokok mengandung lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, termasuk zat karsinogen penyebab kanker.
Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
Pertanyaan besar buat kita semua: siapa yang harus disalahkan?
Jawabannya bukan cuma satu pihak. Pemerintah jelas punya tanggung jawab untuk memperketat pengawasan dan memperluas kampanye edukasi anti rokok. Penjual juga harus lebih disiplin dan berani menolak pembeli di bawah umur.
Tapi peran keluarga juga nggak kalah penting. Orang tua harus lebih peka sama anak-anaknya. Jangan cuma melarang tanpa memberi contoh yang baik. Kalau orang tua merokok, wajar kalau anak juga merasa itu hal yang normal.
Dan buat kita, para remaja dan anak muda, kita juga harus belajar bilang “nggak” pada rokok. Nggak perlu ikut-ikutan kalau temen ngerokok. Gaya hidup sehat jauh lebih keren daripada cuma kelihatan “dewasa” dengan ngerokok.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kalau kamu peduli sama diri sendiri dan masa depanmu, mulai sekarang stop beli rokok. Jangan malu buat nolak ajakan teman yang ngajak ngerokok. Kalau perlu, ikut kampanye positif di sekolah atau komunitas tentang hidup sehat tanpa rokok.
Kita juga bisa bantu sebarkan pesan ini ke orang-orang sekitar kita. Semakin banyak yang sadar, semakin kecil peluang industri rokok buat ngejerat generasi muda.
Indonesia sekarang darurat perokok muda. Angkanya udah tembus 5,9 juta anak usia 10–18 tahun, dan tiap tahun makin bertambah. Kalau kita terus diam, generasi masa depan kita bakal makin rusak pelan-pelan.
Sebagai anak muda, kita punya pilihan: tetap ikut arus atau mulai berani bilang tidak. Karena hidup sehat itu jauh lebih keren daripada sekadar kelihatan dewasa dengan sebatang rokok di tangan.
Jadi, kamu pilih yang mana?