JAKARTA
Gugatan Rp 13,65 miliar yang dilayangkan Ressa Rizky kepada artis Denada ternyata menyimpan luka yang jauh lebih dalam dari sekadar sengketa materi. Di balik angka fantastis itu, terungkap sebuah jeritan hati seorang anak yang hanya menginginkan satu hal: pengakuan dari wanita yang ia yakini sebagai ibu kandungnya.
“Yang penting itu ibu,” ucap Ressa dengan suara bergetar saat ditanya siapa ayah biologisnya di podcast Denny Sumargo yang tayang, Senin (26/1/2026). Baginya, pencarian identitas ini berpusat pada sosok Denada, bukan yang lain.
Drama ini mencapai puncak emosionalnya saat Ressa Rizky mencurahkan perasaannya, membandingkan nasibnya dengan perlakuan Denada terhadap putrinya, Aisha Aurum. Melalui sebuah curhatan yang menyayat hati, Ressa mempertanyakan mengapa takdir mereka begitu berbeda.
“Kenapa sejahat ini? Kenapa aku tidak bisa merasakan kasih sayang yang sama seperti yang diterima Aisha?” ucapnya, seolah bertanya langsung pada Denada.
Perasaan “dibuang” dan tidak dianggap ini menjadi inti dari kerugian imateriil yang ia tuntut. Ressa merasa perih melihat kehangatan keluarga yang tidak pernah ia rasakan. Baginya, ini bukan lagi soal uang, tapi soal status dan pengakuan yang dirampas sejak ia dilahirkan.
Kisah ini diperkuat oleh pengakuan mengejutkan dari Ratih Puspita Dewi , wanita yang mengaku sebagai tante yang merawat Ressa sejak bayi. Ratih bercerita bahwa Ressa dititipkan langsung oleh ibunda Denada, Emilia Contessa, dengan janji akan diurus masa depannya. Saat mengungkap kisah perihnya, Ressa ditemani ibu angkatnya Ratih dan pengacaranya Ronald Armada.
“Awalnya saya merawat karena niat baik. Tapi seiring berjalannya waktu, janji tinggal janji,” ungkap Ratih.
Puncaknya, saat Ratih mencoba menghubungi pihak keluarga Denada karena merasa sudah tua dan tidak sanggup lagi menanggung beban, akses komunikasinya justru diblokir. Niat baik untuk menyerahkan kembali Ressa secara baik-baik malah berbuah penolakan mentah-mentah.
“Saya hanya ingin menitipkan Ressa kembali karena saya sudah tua, tapi kenapa malah diblokir?” keluhnya.
Dari serpihan cerita ini, gugatan Rp 13,65 miliar kini terlihat seperti sebuah alat terakhir bagi Ressa untuk didengar. Angka tersebut menjadi simbol dari nilai sebuah kehidupan yang ia rasa telah diabaikan selama puluhan tahun.
Publik kini terbelah. Sebagian melihat ini sebagai drama yang mencari sensasi, namun tidak sedikit yang bersimpati pada perjuangan seorang anak yang hanya ingin diakui keberadaannya. Satu hal yang pasti, jika terbukti benar, kasus ini telah bergeser dari sengketa hukum menjadi sebuah drama kemanusiaan yang mempertanyakan: Seberapa mahal harga sebuah pengakuan seorang ibu?