INVERSI.ID – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah, yang dirangkai dengan Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (Fortasi) di SMK Muhammadiyah 2 Genteng (SMK Muda Genteng), pada Selasa (15/7/2025) diwarnai dengan pembahasan penting mengenai kesehatan reproduksi remaja dan bahaya kehamilan usia dini.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Panglima Besar Jenderal Soedirman, pihak sekolah menghadirkan narasumber dari Puskesmas Kembiritan, Genteng, Banyuwangi, yaitu bidan Tutik Wijayanti dan perawat Beti Gustaviana. Keduanya hadir untuk memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan diri, khususnya bagi para remaja yang baru memasuki jenjang pendidikan menengah kejuruan.
Di awal sesi, bidan Tutik membuka percakapan dengan pertanyaan sederhana namun penting kepada para peserta MPLS. “Sudah sarapan apa belum?” tanyanya. Ia menjelaskan, menjaga kebiasaan sarapan sebelum berangkat sekolah merupakan salah satu langkah awal untuk menjaga kesehatan tubuh, sekaligus mendukung konsentrasi belajar di kelas.
Menanamkan Gaya Hidup Sehat Sejak Remaja
Menurut Tutik, kehadiran mereka di SMK Muda Genteng merupakan bagian dari kerja sama yang telah terjalin baik antara Puskesmas Kembiritan dengan Unit Kesehatan Sekolah (UKS). UKS, sambungnya, adalah salah satu sarana sekolah untuk menanamkan nilai-nilai hidup sehat, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengembangkan kesadaran kesehatan pada peserta didik.
Tutik mengingatkan bahwa masa remaja adalah periode transisi penting di mana terjadi banyak perubahan, baik fisik maupun emosional. Masa ini juga menjadi fase pencarian jati diri yang membuat remaja kerap terdorong untuk mencoba banyak hal.
“Oleh karena itu, kalian harus selektif dalam memilih teman dan lingkungan pergaulan,” ujarnya mengingatkan para siswa baru.
Ia menekankan bahwa pergaulan yang tidak sehat bisa menjerumuskan pada kebiasaan buruk yang berdampak pada masa depan, termasuk risiko kehamilan di usia muda.
Perubahan Fisik pada Remaja
Dalam pemaparannya, bidan Tutik juga menjelaskan mengenai perubahan-perubahan fisik yang akan dialami oleh remaja baik laki-laki maupun perempuan.
Bagi laki-laki, biasanya ditandai dengan pertumbuhan organ genital, perubahan suara menjadi lebih besar, serta mulai terbentuk otot-otot tubuh. Sedangkan pada remaja perempuan, perubahan meliputi datangnya menstruasi, perkembangan pinggul, dan pembesaran organ tubuh lainnya.
Tutik mengingatkan bahwa perubahan ini merupakan hal yang normal, namun tetap perlu disikapi dengan bijak dan penuh tanggung jawab. Ia juga mengenalkan tanda-tanda awal kehamilan pada perempuan, seperti berhentinya menstruasi, mual, hingga muntah-muntah pada trimester pertama kehamilan.
“Anak-anak perempuan harus lebih hati-hati dalam pergaulan. Jangan sampai terjebak pada hal-hal yang berisiko,” pesannya dengan tegas.
Bahaya Kehamilan Usia Dini
Lebih jauh, bidan Tutik memaparkan dampak buruk kehamilan di usia remaja. Ia menyebutkan bahwa perempuan yang hamil di usia muda rentan mengalami keguguran, gangguan kesehatan fisik, bahkan gangguan mental akibat tekanan psikologis.
Kehamilan di usia dini juga sering kali berujung pada putus sekolah, hilangnya kesempatan menggapai cita-cita, hingga masalah ekonomi di kemudian hari.
“Ingat, pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan kalian meraih kesuksesan. Jangan sia-siakan kesempatan sekolah ini hanya karena pergaulan yang salah,” ujarnya sambil memberi semangat pada para siswa.
Ia menutup paparannya dengan pesan motivasi bagi seluruh peserta MPLS untuk fokus pada pelajaran, rajin belajar, dan membangun cita-cita sejak dini.
“Kalau mau sekolah dan mencapai masa depan, fokuslah pada pelajaran dan pencapaian cita-cita itu,” pungkas Tutik.
Peran Sekolah dan Puskesmas dalam Edukasi Remaja
Kegiatan edukasi kesehatan reproduksi dalam rangkaian MPLS ini menjadi contoh nyata peran sekolah dalam menjaga kesehatan siswa. Kepala sekolah SMK Muda Genteng menegaskan bahwa UKS bukan hanya bertugas menangani siswa yang sakit, tetapi juga sebagai pusat informasi kesehatan bagi seluruh warga sekolah.
Sementara itu, perawat Beti Gustaviana mengatakan pihaknya akan terus mendukung kegiatan-kegiatan serupa di sekolah lain. Menurutnya, edukasi semacam ini sangat penting untuk menekan angka kehamilan usia remaja di Banyuwangi.
“Dengan pengetahuan yang benar, anak-anak bisa lebih paham dan bisa menjaga diri mereka sendiri,” katanya.
Generasi Sehat, Masa Depan Cerah
Masa remaja adalah masa emas untuk membentuk karakter, kebiasaan, dan pola pikir yang sehat. Melalui kegiatan seperti MPLS ramah ini, para siswa diingatkan bahwa menjaga kesehatan diri bukan hanya soal fisik, tetapi juga mental dan sosial.
Edukasi kesehatan reproduksi harus terus diberikan sejak dini, agar remaja tidak salah langkah dan mampu memanfaatkan masa muda mereka untuk hal-hal positif. Dengan begitu, generasi muda bisa tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi masa depan dengan lebih baik.Kegiatan MPLS ramah di SMK Muda Genteng membuktikan bahwa masa orientasi sekolah tidak hanya sebatas mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi momen tepat untuk menanamkan nilai hidup sehat dan bertanggung jawab.
Melalui edukasi kesehatan reproduksi, siswa diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam pergaulan dan tetap fokus pada pendidikan demi masa depan yang lebih cerah. Semoga kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk melakukan hal serupa, demi terciptanya generasi muda yang sehat, tangguh, dan berprestasi.***