INVERSI.ID – Sahdan Arya Maulana, Ketua RT Gen Z menjadi yang belakangan tengan menjadi sorotan publik setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan kekagumannya pria yang masih berusia 19 tahun itu. Dalam pertemuan di Lembur Pakuan, Subang, pada Selasa malam (15/7), Dedi menyebut Sahdan sebagai contoh nyata generasi muda yang berani mengambil tanggung jawab sosial dengan penuh dedikasi.
“Ini saya bertemu dengan pejabat paling gagah saat ini. Pak Ketua RT Gen Z, Sekretaris RT Gen Z, dan Bendahara RT Gen Z. Usianya masih 20-an, tapi sudah mampu memanfaatkan dana operasional RT untuk pembangunan, bukan untuk beli rokok atau kopi,” ungkap Dedi di hadapan mereka, seperti diunggah di akun media sosial pribadinya, Senin (15/7/2025).
Sahdan Arya Maulana adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta jurusan Teknik Industri, yang kini menjabat sebagai Ketua RT 07, RW 08, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara. Di usia belia, Sahdan menunjukkan bahwa kepemimpinan anak muda bukan hanya wacana, tetapi dapat memberi dampak nyata bagi lingkungan.
Pemimpin Muda yang Membawa Perubahan
Sahdan bersama Sekretaris dan Bendahara RT yang juga seusianya memilih menggunakan dana operasional RT untuk program-program produktif, seperti membeton jalan lingkungan, memperbaiki saluran air, hingga kegiatan gotong royong lainnya.
Saat ditanya pesannya untuk generasi muda Indonesia, Sahdan dengan tegas mengajak anak muda untuk bisa memanfaatkan waktu dengan baik.
“Stop rebahan, stop tawuran, dan stop melakukan hal-hal negatif,” ujarnya.
Pesan senada juga diungkapkan Sekretaris RT yang menekankan pentingnya kebermanfaatan bagi orang lain.
“Karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang sekitarnya,” katanya.
Ketiganya menjadi contoh nyata bahwa kepemimpinan bukan hanya soal usia atau jabatan formal, melainkan keberanian untuk bertanggung jawab dan melayani masyarakat.
Perjalanan Sahdan Menjadi Ketua RT
Menariknya, Sahdan yang masih mahasiswa ini sempat diremehkan karena usianya yang muda ketika mencalonkan diri sebagai Ketua RT. Namun, ia berhasil mematahkan stigma itu dengan meraih kemenangan telak lewat voting: 126 suara berbanding 17 suara untuk lawannya.
Sebagai Ketua RT, Sahdan lebih banyak fokus pada pengabdian di lingkungan tempat tinggalnya daripada aktif di organisasi kampus. Salah satu program unggulannya adalah memperbaiki jalan rusak sepanjang 100 meter dengan dana swadaya warga sebesar Rp 23 juta, tanpa bantuan pemerintah.
Aksinya mendapat dukungan penuh warga yang ikut bergotong royong menyukseskan program tersebut. Sikapnya yang merangkul warga dan memprioritaskan kebutuhan lingkungan membuatnya cepat mendapat kepercayaan masyarakat.
Cita-Cita Jadi Gubernur Jakarta
Sahdan tidak berhenti hanya pada level RT. Ia memiliki cita-cita besar untuk masa depannya: menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Ia ingin membuktikan bahwa generasi muda, khususnya Gen Z, punya kemampuan memimpin dengan cara berpikir yang relevan dengan perkembangan zaman. Semangatnya ini mendapat apresiasi dari Dedi Mulyadi, yang menyebut bahwa pemimpin seperti Sahdan adalah sosok yang membawa harapan baru bagi bangsa.
“Generasi muda seperti Sahdan ini yang membuat saya optimis. Mereka tidak hanya berani mengambil tanggung jawab, tetapi juga mampu memberi dampak nyata bagi lingkungannya,” ujar Dedi.
Pertemuan itu juga diwarnai dengan interaksi hangat antara Dedi dan ayah Sahdan, yang bekerja sebagai pegawai kantor pos. Dedi pun menyingggung terait tunjangan pekerjaan ayah Sahdan dengan candaan.
“Ya, pokoknya pesan bapak satu saja. Karena bapak kerja di kantor pos, mudah-mudahan tunjangannya semakin meningkat,” candanya.
Gen Z dan Tantangan Kepemimpinan di Era Modern
Kisah Sahdan adalah bukti bahwa tantangan generasi muda saat ini bukan hanya pada kreativitas, tetapi juga pada kemauan untuk bertindak nyata. Di era di mana banyak anak muda larut dalam budaya rebahan, media sosial, dan aktivitas yang kurang produktif, hadirnya pemimpin muda seperti Sahdan menjadi inspirasi penting.
Kepemimpinan anak muda saat ini menuntut kemampuan membaca kebutuhan masyarakat, bekerja sama, dan menciptakan solusi yang tepat sasaran. Dengan populasi Gen Z yang besar, Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk melahirkan banyak pemimpin muda yang berdedikasi seperti Sahdan.
Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
Kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan pengabdian. Itu pula yang ditekankan oleh Sahdan dan rekan-rekannya: menjadi pemimpin berarti melayani dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi pengikut tren, tetapi mampu menciptakan perubahan yang positif, dimulai dari lingkungan terdekat. Kisah Sahdan adalah bukti bahwa siapa pun bisa menjadi pemimpin yang baik jika mau belajar, bekerja keras, dan mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.
Semoga semakin banyak anak muda Indonesia yang terinspirasi oleh Sahdan untuk mengambil peran aktif dalam pembangunan bangsa, sekecil apa pun langkahnya.***