INVERSI.ID – Sejumlah pedagang grosir bahan bakar di Inggris dilaporkan mulai menerapkan pembatasan penjualan solar kepada para petani. Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan pasokan energi, sebagaimana dilaporkan Telegraph pada Selasa (24/3).
Langkah pembatasan tersebut dilakukan dengan mengurangi volume distribusi agar kebutuhan dapat terbagi lebih merata. Jika sebelumnya petani bisa memesan hingga 10.000 liter, kini jumlah itu dipangkas menjadi sekitar 2.000 liter per pelanggan.
Manajer Pengadaan Bahan Bakar Anglia Farmers, Patrick Crehan, mengungkapkan bahwa kebijakan ini diterapkan guna mengantisipasi lonjakan permintaan di sektor pertanian.
Menurut Crehan, dampak pembatasan ini sejauh ini sudah dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Skotlandia dan Essex yang berada di bagian timur London.
Bahkan, sejumlah petani di Skotlandia mengaku hanya bisa membeli maksimal 500 liter solar per transaksi dari pengecer.
Sementara itu, Serikat Petani Nasional menyatakan masih terus memantau perkembangan di lapangan. Hingga saat ini, belum ditemukan indikasi gangguan pasokan solar maupun pupuk dalam skala luas.
Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar juga mulai dirasakan. RAC, salah satu perusahaan layanan otomotif terbesar di Inggris, mencatat harga solar mengalami lonjakan sekitar 17 persen sejak meningkatnya ketegangan terkait Iran. Adapun harga bensin naik sekitar 9 persen dalam periode yang sama.
Sebagai informasi, sektor pertanian di Inggris umumnya menggunakan diesel merah, yakni jenis bahan bakar dengan tarif pajak lebih rendah yang diperuntukkan bagi keperluan non-jalan raya seperti mesin pertanian.
Situasi ini menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi aktivitas pertanian jika pembatasan terus berlanjut, terutama menjelang musim tanam.