INVERSI.ID – Isu gangguan penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta bukan sekadar persoalan teknis operasional. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan efek lanjutan terhadap psikologis wisatawan dan kepercayaan mereka terhadap destinasi, terutama karena bandara menjadi pintu pertama pengalaman perjalanan.
Pengamat pariwisata Universitas Andalas, Sari Lenggogeni, menilai keterlambatan hingga pembatalan penerbangan merupakan fenomena yang perlu dilihat secara komprehensif. Menurutnya, persoalan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan berbagai faktor yang harus dijelaskan secara terbuka oleh maskapai dan otoritas penerbangan.
“Yang saya khawatirkan ini bukan masalah dampak tapi adalah pengaruh terhadap psikologis atau emosi. Kalau sudah ditunda, yang pasti itu emosi turis itu pasti akan berdampak mungkin marah, kecewa, marah, kesal, takut, takut segala negatif semua,” ujar dia saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Berdasarkan laporan media perjalanan Travel and Tour World, tercatat sebanyak 4.284 penerbangan mengalami keterlambatan dan 95 penerbangan dibatalkan di berbagai bandara Asia. Dalam laporan tersebut, Bandara Soekarno-Hatta mencatat angka pembatalan tertinggi dengan total 20 penerbangan, disusul Bandara Istanbul Sabiha Gokcen di Turki dan Bandara Imam Khomeini di Teheran, Iran.
Sari menjelaskan bahwa gangguan jadwal penerbangan tersebut dipicu oleh kondisi cuaca dan atmosfer menuju Jakarta, termasuk turbulensi di sejumlah rute. Dampaknya dinilai paling terasa dalam jangka pendek hingga menengah, terutama pada persepsi risiko serta stabilitas emosi wisatawan.
Ia menambahkan bahwa bandara memiliki peran strategis sebagai titik awal yang membentuk kesan pertama wisatawan. Ketika gangguan terjadi di fase ini, pengalaman perjalanan secara keseluruhan berpotensi ikut terpengaruh.
Kondisi tersebut juga dapat memicu perubahan perilaku wisatawan, mulai dari menyesuaikan durasi perjalanan hingga mengambil keputusan pembatalan secara mendadak. Situasi ini berpotensi berdampak pada tingkat permintaan hotel serta kunjungan ke destinasi dan atraksi wisata.
“Bisa berubah atau terjadi namanya itu behavioral change (perubahan perilaku). Wisatawan akan memilih negara lain atau memperpendek waktu untuk berlibur atau perjalanan bisnisnya,” kata dia.
Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azhari menegaskan bahwa faktor keamanan dan kenyamanan perjalanan kini menjadi pertimbangan utama wisatawan dalam menentukan tujuan.
“Bahwa satu syarat bagi pengunjung adalah keamanan dalam perjalanannya hingga selama destinasi yang dituju,” kata Azril, Senin (9/2).
Menurut Azril, gangguan penerbangan secara langsung dapat mengusik rasa aman dan ketenangan wisatawan, yang pada akhirnya memengaruhi minat berkunjung serta citra destinasi secara keseluruhan.