Inversi Deretan wajah muda tampak memenuhi sebuah ruang pertemuan di Jakarta, Rabu (21/1). Mereka duduk berjejer rapi, sebagian membawa catatan, sebagian lain sibuk berbincang pelan. Di balik suasana formal itu, tersimpan satu harapan yang sama: menjadi bagian dari masa depan energi Indonesia yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Pada hari itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi meluncurkan Renewable Energy Skills Development (RESD) Fase II, sebuah program pengembangan keterampilan yang dirancang untuk menyiapkan generasi baru tenaga terampil di sektor energi terbarukan. Program ini menjadi kelanjutan dari fase pertama yang dinilai berhasil memperkuat fondasi sumber daya manusia (SDM) di bidang energi bersih.
Bagi pemerintah, transisi energi tidak semata-mata berkaitan dengan penggantian sumber energi fosil menuju energi ramah lingkungan. Lebih dari itu, transisi ini menuntut kesiapan manusia yang mampu merancang, mengoperasikan, merawat, dan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Tanpa SDM yang kompeten, pembangunan infrastruktur hijau berisiko tidak berjalan optimal.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) ESDM, Prahoro Nurtjahyo, menegaskan bahwa kesiapan SDM merupakan kunci utama keberhasilan transisi energi nasional.
“Keberhasilan transisi energi sangat bergantung pada kesiapan SDM yang berkelanjutan,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM.
Menurut Prahoro, RESD Fase II bukan sekadar kelanjutan program sebelumnya, melainkan langkah strategis untuk membangun ekosistem talenta energi bersih yang siap kerja, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu memimpin perubahan di masa depan. Program ini diharapkan dapat menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja terampil seiring percepatan pengembangan energi terbarukan di Tanah Air.
RESD merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Swiss. Kerja sama ini berfokus pada penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi agar selaras dengan kebutuhan industri energi terbarukan yang terus berkembang. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berbasis teori, tetapi juga praktik langsung yang mendekatkan peserta dengan realitas lapangan.
Jejak keberhasilan RESD Fase I menjadi landasan kuat bagi pelaksanaan fase kedua. Program fase pertama yang berlangsung sejak Desember 2020 hingga Juli 2025 telah menghasilkan sekitar 450 lulusan sarjana terapan teknik dengan spesialisasi energi terbarukan. Selain itu, ratusan teknisi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) dilatih di sembilan provinsi.
Tidak hanya peserta didik, kapasitas ratusan dosen dan instruktur juga ditingkatkan agar mampu mengajarkan teknologi energi terbarukan sesuai standar industri. Lebih dari 100 kemitraan strategis dengan pelaku industri berhasil dibangun, sementara tingkat serapan kerja lulusan politeknik mencapai sekitar 80 persen.
Capaian ini menunjukkan bahwa pendekatan vokasi yang terhubung dengan dunia industri mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Bagi Pemerintah Swiss, RESD bukan sekadar proyek bantuan teknis. Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Olivier Zehnder, menyebut program ini sebagai bentuk investasi bersama untuk masa depan energi bersih.
“Kami tidak hanya mentransfer keahlian, tetapi juga memperkuat kapasitas kelembagaan agar dampaknya berkelanjutan. Ini bagian dari upaya bersama menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060,” ujarnya.
Dari sisi pendidikan tinggi, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, menilai RESD berperan sebagai jembatan penting antara dunia akademik dan industri. Melalui program ini, kurikulum pendidikan vokasi tidak lagi berorientasi pada teori semata, melainkan dirancang agar mahasiswa memiliki keterampilan hijau (green skills) yang relevan dan aplikatif.
Memasuki RESD Fase II untuk periode 2025–2028, cakupan program diperluas secara signifikan. Sebanyak 19 politeknik dan lembaga pelatihan di 15 provinsi akan terlibat. Selain teknologi energi terbarukan yang sudah ada, fase ini mulai memperkenalkan teknologi baru seperti sistem penyimpanan energi berbasis baterai.
Laboratorium berstandar industri juga akan disiapkan untuk mendukung pembelajaran berbasis praktik. Aspek kesetaraan gender turut menjadi perhatian dalam pelaksanaan RESD Fase II. Pemerintah mendorong partisipasi perempuan agar memiliki peluang yang setara dalam pengembangan karier di sektor energi, yang selama ini masih didominasi laki-laki.
Di balik berbagai angka, target, dan kebijakan, RESD menyimpan harapan besar. Program ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya menguasai teknologi energi bersih, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. Dari ruang kelas vokasi hingga ladang panel surya, mereka adalah wajah masa depan transisi energi Indonesia yang tengah tumbuh dan berproses.