INVERSI.ID – Paparan polusi udara saat masa kanak-kanak ternyata berdampak besar pada kesehatan saat remaja. Temuan ini diungkap dalam studi terbaru yang dilakukan peneliti dari University College London (UCL), berdasarkan analisis terhadap lebih dari 9.000 anak muda di Inggris yang tumbuh di lingkungan berpolusi.
Studi ini merupakan bagian dari Millennium Cohort Study, yang melibatkan anak-anak kelahiran tahun 2000 hingga 2002. Para peneliti melacak alamat tempat tinggal peserta sejak lahir hingga usia 17 tahun, lalu mencocokkannya dengan data geospasial mengenai kualitas udara di area tempat tinggal mereka.
Melansir Medical Xpress, Kamis (15/5), studi ini menemukan bahwa remaja yang tinggal di kawasan dengan tingkat polusi udara tinggi saat kecil, cenderung memiliki kesehatan yang lebih buruk di usia 17 tahun dibanding teman sebayanya.
Anak Usia Dini Paling Rentan terhadap Polusi
Penelitian menyoroti tiga jenis polutan utama, yaitu:
- Partikulat kasar (PM10)
- Partikulat halus (PM2.5)
- Nitrogen dioksida (NO₂)
Paparan terhadap partikel halus seperti PM2.5 yang dapat masuk ke paru-paru dan aliran darah, sangat membahayakan kesehatan anak-anak, terutama di usia dini.
Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak yang terpapar polusi tinggi pada usia 2 hingga 4 tahun memiliki risiko 15–30% lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan di usia remaja. Sedangkan mereka yang terpapar saat usia 5 hingga 7 tahun juga menghadapi risiko peningkatan sebesar 14–16%.
“Tahun-tahun awal kehidupan adalah fase yang sangat sensitif. Dampak polusi bisa terasa hingga bertahun-tahun setelahnya,” ujar Dr. Gergo Baranyi, peneliti utama dari UCL.
Anak dari Keluarga Miskin dan Minoritas Etnis Lebih Rentan
Tak hanya soal kesehatan, studi ini juga mengungkap ketimpangan sosial yang mencolok. Anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah dan etnis minoritas lebih sering tinggal di kawasan dengan kualitas udara buruk.
Contohnya, anak-anak non-kulit putih terpapar nitrogen dioksida 51% lebih tinggi dibandingkan anak kulit putih pada masa awal kehidupan mereka.
“Temuan kami mengonfirmasi bahwa polusi udara tidak hanya merusak kesehatan, tapi juga memperburuk ketimpangan sosial,” ujar Dr. Baranyi.
Studi ini memperkuat pentingnya kebijakan lingkungan yang adil dan menyeluruh. Dr. Baranyi menambahkan bahwa pengurangan tingkat polusi sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dapat memberikan manfaat besar dalam jangka panjang, khususnya bagi anak-anak di daerah kurang mampu.
Polusi dan Risiko Penyakit Lain
Paparan jangka panjang terhadap polusi udara di masa kecil juga dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan seperti:
- Penyakit pernapasan
- Tekanan darah tinggi
- Obesitas
- Gangguan kesehatan mental
- Penurunan fungsi kognitif
Dengan meningkatnya urbanisasi dan kendaraan bermotor, risiko paparan polusi semakin tinggi, terutama di kota besar. Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata dari pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan aman bagi anak-anak.***