INVERSI.ID – Program magang nasional yang baru diluncurkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menarik perhatian publik, terutama kalangan muda yang tengah berjuang mencari pengalaman kerja. Program ini dinilai menjadi langkah nyata pemerintah untuk memperluas akses pelatihan dan pengalaman kerja sekaligus mengatasi angka pengangguran yang masih tinggi di kalangan lulusan baru.
Salah satu apresiasi datang dari Ketua DPP PKS Bidang Pembinaan Masyarakat Rentan dan Disabilitas, Netty Prasetiyani Aher, yang menilai program ini sebagai terobosan penting dalam memperkuat daya saing tenaga kerja Indonesia. Menurutnya, dengan memberikan insentif setara Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), program ini tidak hanya sekadar magang, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap kerja keras dan potensi generasi muda.
“Program magang bergaji ini adalah langkah positif karena memberikan kesempatan kepada anak muda untuk belajar sambil mendapatkan penghargaan yang layak. Ini bagian dari investasi sumber daya manusia yang sejalan dengan visi pemerintah membangun tenaga kerja kompeten dan produktif,” ujar Netty di Jakarta, Jumat (24/10/2025).
Investasi SDM Melalui Program Magang Nasional
Dalam penilaiannya, Netty menekankan bahwa program magang nasional merupakan salah satu bentuk investasi jangka panjang di bidang sumber daya manusia. Melalui program ini, lulusan baru atau fresh graduate tidak hanya mendapatkan pengalaman kerja, tetapi juga memahami dinamika dunia industri secara langsung.
Keterlibatan Kementerian Ketenagakerjaan bersama Bank Indonesia (BI), serta berbagai lembaga negara dan kementerian lain, menurutnya menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam mengembangkan ekosistem magang yang inklusif dan terstruktur. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat membuka peluang magang tidak hanya di perusahaan swasta, tetapi juga di lembaga publik, institusi strategis, hingga sektor sosial yang membutuhkan tenaga muda berkompetensi tinggi.
“Kolaborasi lintas sektor sangat penting agar magang tidak hanya berhenti di sektor industri besar. Lembaga publik dan institusi strategis juga harus ikut membuka pintu bagi para peserta magang,” ujar Netty.
Menurutnya, kehadiran program ini bisa menjadi solusi konkret dalam menghadapi ketimpangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Banyak lulusan muda yang memiliki pengetahuan akademik, namun belum siap secara keterampilan dan etos kerja. Dengan adanya magang bergaji, mereka dapat belajar langsung di lapangan tanpa terbebani masalah finansial.
Magang Sebagai Jembatan Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja
Anggota Komisi IX DPR RI ini menegaskan bahwa magang memiliki peran strategis dalam menyiapkan tenaga kerja siap pakai. Program ini, kata Netty, bukan sekadar aktivitas kerja, tetapi juga proses pembelajaran terstruktur yang menggabungkan teori dan praktik.
“Magang harus menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Peserta perlu dibimbing agar mereka benar-benar memahami proses kerja, bukan hanya melakukan tugas rutin,” tegasnya.
Ia mengingatkan, tujuan utama dari program magang nasional bergaji adalah memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk menimba pengalaman, mengasah keterampilan teknis, serta menumbuhkan budaya kerja profesional. Oleh karena itu, penyelenggaraan magang tidak boleh dilakukan secara asal-asalan atau hanya sebagai formalitas administrasi.
“Magang bukan bentuk lain dari hubungan kerja tanpa perlindungan. Setiap pelaksanaannya harus mengikuti aturan dan memiliki tujuan pendidikan yang jelas,” ujar Netty menekankan.
Perlindungan Hukum Bagi Peserta Magang
Lebih jauh, Netty menegaskan pentingnya pelaksanaan program ini sesuai dengan norma hukum yang telah ada. Ia merujuk pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan serta Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2020 tentang Pemagangan di Dalam Negeri.
Aturan tersebut, katanya, menegaskan bahwa kegiatan magang harus dilaksanakan berdasarkan perjanjian tertulis antara peserta, penyelenggara, dan perusahaan. Selain itu, harus ada kurikulum pelatihan yang jelas dan tujuan pembelajaran yang terukur.
“Pelaksanaan magang wajib tunduk pada ketentuan hukum agar tidak disalahgunakan. Kita tidak ingin magang dijadikan cara untuk mendapatkan tenaga kerja murah tanpa memberikan manfaat pembelajaran bagi peserta,” kata Netty.
Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan selama proses magang berlangsung. Menurutnya, peserta magang seharusnya mendapatkan mentor yang kompeten untuk memastikan mereka memperoleh pengalaman kerja yang berkualitas dan sesuai bidang keahliannya.
“Setiap peserta perlu mendapat pembimbing yang mampu mengarahkan, memberi evaluasi, dan membantu mereka memahami dinamika kerja sesungguhnya. Tanpa pendampingan, magang hanya akan menjadi rutinitas tanpa nilai tambah,” ujarnya.
Dorongan Bagi Anak Muda untuk Aktif Berkarya
Selain aspek hukum dan kebijakan, Netty juga menyoroti nilai sosial dan psikologis dari program magang ini. Menurutnya, magang bergaji bukan hanya memberi pengalaman, tetapi juga membangun rasa percaya diri bagi anak muda yang baru lulus. Banyak dari mereka yang kesulitan mendapatkan pekerjaan pertama karena minim pengalaman.
“Dengan adanya program ini, anak muda bisa menunjukkan kemampuan mereka di dunia kerja nyata. Ketika mereka selesai magang, mereka tidak lagi nol pengalaman,” katanya.
Lebih dari itu, Netty berharap para peserta magang bisa membawa semangat baru bagi dunia kerja Indonesia. Ia percaya, generasi muda dengan pemahaman teknologi, kreativitas, dan semangat kolaborasi dapat menjadi kekuatan utama untuk memperkuat daya saing nasional.
Ia pun mengajak perusahaan dan lembaga publik agar tidak melihat peserta magang hanya sebagai tenaga tambahan, melainkan sebagai aset masa depan yang perlu dibina.
“Magang adalah langkah awal mencetak tenaga kerja unggul. Jika dilakukan dengan benar, manfaatnya akan dirasakan bukan hanya oleh peserta, tapi juga oleh dunia usaha dan negara,” ujarnya.
Membangun Generasi Siap Kerja
Program Magang Nasional bergaji setara UMK ini dipandang sebagai upaya konkret pemerintah untuk menciptakan generasi muda siap kerja di tengah perubahan zaman yang cepat. Bagi Netty, kunci keberhasilan program ini terletak pada keseriusan semua pihak dalam menjalankan fungsinya: pemerintah sebagai pengatur dan pengawas, perusahaan sebagai pelaksana pembelajaran, serta peserta sebagai pembelajar aktif.
“Kalau dijalankan dengan benar, program ini bisa jadi titik balik dalam reformasi ketenagakerjaan nasional. Anak muda kita tidak hanya punya ijazah, tapi juga pengalaman, keterampilan, dan etos kerja yang kuat,” pungkasnya.
Dengan semangat kolaboratif dan dukungan lintas sektor, program magang nasional diharapkan menjadi tonggak penting dalam perjalanan Indonesia menuju negara berdaya saing tinggi. Lebih dari sekadar menyiapkan tenaga kerja, program ini membangun fondasi generasi yang produktif, mandiri, dan siap bersaing di era global.