JAKARTA, INVERSI – Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berdampak pada peningkatan status gizi masyarakat, tetapi juga memberikan efek ekonomi yang signifikan.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional, program ini telah menciptakan ratusan ribu lapangan kerja baru serta menggerakkan rantai pasok pangan di berbagai daerah.
Hingga Agustus 2025, jumlah tenaga kerja yang terserap di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi telah mencapai lebih dari 250 ribu orang, melampaui target awal.
Tenaga kerja tersebut mencakup kepala SPPG, penata layanan operasional gizi, penata layanan akuntan, hingga tenaga pendukung lainnya di tingkat lokal.
Dari sisi rantai pasok, kebutuhan bahan pangan program ini sangat besar. Untuk 19.188 SPPG, kebutuhan susu tercatat mencapai lebih dari tujuh juta liter per bulan, sementara kebutuhan beras menembus angka 76 ribu ton.
Kebutuhan tersebut melibatkan ratusan ribu petani, peternak, dan produsen pangan di seluruh Indonesia.
Badan Gizi Nasional menilai bahwa program ini berpotensi menjadi penggerak ekonomi daerah, khususnya bagi sektor pertanian dan peternakan. Namun, pengelolaan rantai pasok masih memerlukan perbaikan.
Saat ini, mekanisme pengadaan bahan pangan di sejumlah wilayah masih dikelola masing-masing SPPG, sehingga belum sepenuhnya seragam dan terkontrol.
Pemerintah mendorong pengelolaan rantai pasok berbasis wilayah agar distribusi bahan pangan lebih efisien dan transparan. Langkah ini juga diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan serta kualitas bahan pangan yang digunakan dalam program.
Untuk wilayah terpencil, pemerintah telah menyiapkan desain khusus SPPG, termasuk pengaturan logistik dan kemungkinan penggunaan menu tahan lama bergizi. Pendekatan ini bertujuan memastikan keberlanjutan layanan meski menghadapi tantangan geografis.
Dengan penguatan manajemen rantai pasok dan tata kelola yang lebih terintegrasi, Program Makan Bergizi Gratis dinilai mampu menjadi instrumen strategis pembangunan.
Program ini tidak hanya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal dan ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Baca Juga : https://inversi.id/perluasan-sasaran-dan-akurasi-distribusi-mbg-bgn-lakukan-pembenahan-data-nasional/