By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Puasa Ramadhan Bantu Regulasi Emosi dan Mental
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Puasa Ramadhan Bantu Regulasi Emosi dan Mental

Kesehatan

Puasa Ramadhan Bantu Regulasi Emosi dan Mental

Jack
By
Jack
5 months ago
Share
4 Min Read
dr Revit Jayanti S, Sp.K. menjelaskan cara meregulasi emosi saat Ramadhan. (Antaranews)
SHARE

INVERSI.ID – Bulan suci Ramadhan bukan hanya momentum spiritual bagi umat Muslim, tetapi juga menjadi fase penting untuk melatih pengendalian diri dan meregulasi emosi. Psikiater yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Internasional Batam, dr Revit Jayanti S, Sp.K, menilai puasa selama satu bulan penuh memberi dampak positif terhadap keseimbangan psikologis seseorang.

“Kenapa Bulan Ramadhan itu terasa menenangkan, karena Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan makna bagi umat Muslim di seluruh dunia,” katanya di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Minggu.

Menurut dia, makna Ramadhan jauh melampaui sekadar menahan lapar dan dahaga. Momentum ini menjadi ruang untuk memperdalam ibadah, meningkatkan kualitas diri, sekaligus meraih berbagai keutamaan yang telah ditetapkan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dari sisi neurologi, Revit menjelaskan bahwa tubuh mengalami sejumlah perubahan saat berpuasa. Penurunan kadar gula darah setelah beberapa jam tidak makan dapat memicu rasa lelah dan meningkatkan sensitivitas emosi. Di fase awal, hormon kortisol atau hormon stres juga bisa meningkat akibat perubahan pola tidur, pola makan, serta proses autophagy.

“Puasa membantu proses ‘pembersihan’ sel, termasuk otak,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses pembersihan sel tersebut mendukung perlindungan dan perbaikan sel saraf, sekaligus meningkatkan brain-derived neurothrophic factor (BDNF) yang berperan penting dalam fungsi kognitif serta regulasi emosi.

Namun demikian, ia menyoroti fenomena yang kerap terjadi selama Ramadhan, yakni meningkatnya perilaku konsumtif. Maraknya pasar Ramadhan dan penjualan takjil dinilai berpotensi mendorong masyarakat berbelanja secara impulsif.

Padahal, secara esensial, puasa mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam urusan konsumsi.

“Mungkin diawal-awal Ramadhan tubuh kita merasakan lemah, letih, dan mudah capek, karena perubahan tadi. Tapi tubuh ini memiliki kemampuan beradaptasi. Setelah lewat tiga hari itu, pasti sudah ‘enjoy’ menjalaninya,” kata Revit yang dosen perguruan tinggi swasta di Kota Batam itu.

Baca Juga :

Bus Lorena Alami Kecelakaan di Jalur Baluran, Lima Penumpang Mengalami Luka dan Dievakuasi ke Rumah Sakit
Jelang PON XXI Atlet dan Pelatih Jabar Tulis Harapan di Wall of Hope

Ia menegaskan, Ramadhan adalah latihan pengendalian diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga menahan amarah, ucapan yang menyakiti, hingga dorongan reaktif.

“Impulsif belanja takjil, persiapan Lebaran itu termasuk dorongan reaktif,” ujarnya.

Terkait emosi, ia menjelaskan bahwa emosi merupakan respons alami tubuh dan pikiran terhadap suatu peristiwa. Meski wajar, emosi tetap perlu dikelola agar tidak meluap hingga melukai diri sendiri maupun orang lain.

“Hubungan antara puasa dan emosi yakni melatih pengendalian diri, meningkatkan kesadaran emosi, membentuk kesabaran dan empati,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa meregulasi emosi adalah kemampuan mengenali, memahami, serta mengelola perasaan agar tetap terkendali dan diekspresikan secara sehat.

“Meregulasi emosi bukan berarti menahan atau menekan perasaan. Tetapi menyadari apa yang sedang dirasakan, memahami penyebabnya, mengontrol respons agar tidak berlebih dan mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat,” ujarnya.

Untuk membantu proses regulasi emosi selama Ramadhan, Revit membagikan sejumlah tips praktis. Pertama, mengenali dan menerima emosi dengan sadar. Teknik pernapasan dalam seperti metode 4x4x4 dapat membantu menenangkan diri.

“Sadari bahwa lelah itu bukan dosa. Atur energi bukan hanya waktu, tidur yang cukup, dan sahur yang berprotein,” katanya.

Selain itu, berbicara dengan teman terpercaya juga bisa menjadi cara efektif untuk meredakan tekanan emosional. Aktivitas fisik ringan, relaksasi, tidur cukup, serta pola makan teratur turut berperan menjaga stabilitas emosi.

Tak kalah penting, ia mengingatkan agar tetap berpikir realistis dalam menjalani puasa dan aktivitas harian.

“Dan berpikir realistis, ganti pikiran negatif menjadi realistis. Misalnya, selama puasa mau istirahat saja tidak kerja, lalu terima gaji THR. Apa bisa begitu? ini kan enggak realistis namanya,” kata Revit.

Dengan memahami aspek psikologis dan neurologis puasa Ramadhan, generasi muda diharapkan tidak hanya menjalankan ibadah secara ritual, tetapi juga menjadikannya sebagai momentum membangun kesehatan mental yang lebih baik.

You Might Also Like

Waspada Stroke Iskemik! Intervensi Vaskular Jadi Solusi Minim Sayatan untuk Kurangi Risiko
Seminggu Belum Padam! Ancaman Bahaya Kebakaran TPA Jatiwaringin Kian Meluas
Daftar 12 Obat Herbal Ilegal Temuan BPOM, Mengandung Bahan Kimia yang Berbahaya bagi Kesehatan
Sakit Kepala Terus-Menerus Bisa Jadi Tanda Tumor Otak, Dokter Ungkap Gejala yang Perlu Diwaspadai
Pengunjung Jakarta Fair 2026 Bisa Cek Kesehatan Gratis di Booth Kimia Farma Apotek
TAGGED:Mental HealthRamadhan
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Libur Imlek 2026, Polisi Terapkan Rekayasa Arus di Puncak-Cianjur
Next Article Ratusan Pelajar Bandung Ikuti Kreativa English Competition 2026
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Psikolog Ungkap Penyebab Pelaku Taufik Hidayat Nekat Menyekap dan Menyiksa Korban

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil

4 weeks ago
Kesehatan

IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index