PAPUA BARAT
Rumah kayu sederhana milik, Arobi Namudat (66) di Fakfak, Papua Barat, mendadak tak lagi sama. Untuk pertama kalinya, lampu listrik menyala terang di ruang tamu beralas papan itu, memantulkan cahaya ke dinding kayu tua dan foto keluarga. Sebuah perubahan drastis bagi keluarga yang puluhan tahun hidup tanpa sambungan listrik mandiri.
Momen bersejarah itu terjadi saat Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meresmikan penyalaan perdana program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) 2025 di Kabupaten Fakfak, Minggu (16/11). Namun peresmian tersebut berubah menjadi kisah personal tak terduga ketika langkah Bahlil terhenti, ia mengenali wajah seorang penerima manfaat.
“Robi? Rumahmu di sini sekarang?” tanya Bahlil. Pria itu adalah Arobi, mantan rekan kerja Bahlil saat masih menjadi kondektur di Terminal Tumburuni. Keduanya berpelukan, mengenang masa lalu. “Dulu saya kondektur dan Pak Robi ini sopirnya. Sekarang kondekturnya sudah jadi menteri,” kata Bahlil, disambut tawa dan tepuk tangan warga.
Arobi adalah satu dari 407 keluarga penerima BPBL di Fakfak, bagian dari upaya pemerintah mengejar rasio elektrifikasi 100 persen dan mempercepat transisi energi hingga pelosok. Bahlil menegaskan target ambisius, tahun 2027 seluruh kampung di Fakfak harus terang.
“Tidak boleh ada generasi yang tumbuh tanpa listrik atau hidup dengan listrik yang sering padam seperti dulu,” tegasnya. Program BPBL pun ditegaskan sebagai langkah nyata keadilan energi—mengubah gelap menjadi terang, dan mengangkat kualitas hidup warga dari pendidikan hingga ekonomi lokal.