By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Ramadan Ramah Anak, Psikolog Ungkap Cara Tepat Mengenalkan Puasa
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Ramadan Ramah Anak, Psikolog Ungkap Cara Tepat Mengenalkan Puasa

Kesehatan

Ramadan Ramah Anak, Psikolog Ungkap Cara Tepat Mengenalkan Puasa

Jack
By
Jack
5 months ago
Share
2 Min Read
ilustrasi anak buka puasa. (foto: freepik)
SHARE

Memasuki bulan Ramadan, orang tua kerap menantikan momen ketika anak mulai belajar berpuasa. Namun, pengenalan puasa perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak agar menjadi pengalaman yang positif dan tidak menimbulkan tekanan.

Contents
Pemahaman Puasa Sesuai Usia AnakPeran Orang Tua dan Penggunaan Reward

Psikolog klinis anak dan remaja Universitas Padjadjaran, Mariska Johana H, M.Psi., menekankan bahwa puasa sebaiknya dipahami sebagai bagian dari proses tumbuh kembang anak.

“Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan menunda keinginan, sarana membangun regulasi emosi, serta ibadah yang memiliki nilai spiritual dan manfaat kesehatan. Ketiga aspek ini saling terkait dan perlu dijelaskan secara bertahap sesuai usia anak,” kata Mariska di Jakarta, Sabtu (24/1).

Pemahaman Puasa Sesuai Usia Anak

Mariska menjelaskan, pada usia prasekolah sekitar tiga hingga enam tahun, puasa dikenalkan sebagai latihan menunggu dan belajar sabar, bukan kewajiban penuh. Anak diajak memahami bahwa rasa lapar bersifat sementara dan tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi.

Memasuki usia tujuh hingga sembilan tahun, anak mulai memahami hubungan sebab dan akibat. Puasa dapat dijelaskan sebagai latihan mengendalikan diri sekaligus ibadah yang bernilai pahala.

“Anak diajak melihat bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan emosi, memperbaiki sikap, dan memperbanyak kebaikan,” ujar Mariska.

Sementara pada usia sepuluh tahun ke atas, anak mulai memahami puasa sebagai ibadah yang melibatkan niat, kesadaran diri, dan tanggung jawab pribadi, sekaligus membangun kebiasaan hidup sehat.

Peran Orang Tua dan Penggunaan Reward

Dalam mendampingi anak berpuasa, orang tua disarankan mengajak anak pada aktivitas bermakna, seperti menonton konten edukatif Ramadan, mengikuti kegiatan keagamaan ramah anak, hingga mengisi waktu dengan salat bersama dan berbagi dengan sesama.

Terkait penggunaan reward, Mariska menilai hadiah dapat digunakan sebagai strategi perkembangan, terutama pada usia dini, namun harus dikurangi secara bertahap.

Baca Juga :

AI Jadi Teman Belajar! Tanya Pijar Bikin Tugas Lebih Gampang
Biodata dan Profil Alika Jantinia, Pemeran Rana di Santri Pilihan Bunda

“Anak sudah lebih mampu merefleksikan pengalaman dan memahami makna ibadah,” kata Mariska.

Ia menegaskan, reward sebaiknya menjadi jembatan awal, bukan tujuan utama, agar anak dapat menumbuhkan motivasi intrinsik dan memahami makna puasa secara utuh.

“Dengan pendekatan ini, reward tidak merusak makna ibadah, tetapi menjadi jembatan awal yang membantu anak belajar, tumbuh, dan memaknai puasa sesuai tahap perkembangannya,” katanya.

You Might Also Like

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak
Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil
IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Rupiah Melemah, Harga Obat Bakal Melambung: Ketahanan Kesehatan RI Diuji
Dokter Ingatkan Bahaya Flu Singapura, Vaksinasi Jadi Perlindungan Penting
TAGGED:AnakPuasaRamadhan
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Wamenpora Indonesia, Taufik Hidayat, menyambut kedatangan atlet yang berlaga pada ASEAN Para Games 2025. (Foto : HO-Kemenpora) Wamenpora Taufik Tegaskan Komitmen Pemerintah Perkuat Pembinaan Olahraga Disabilitas Nasional
Next Article Petugas Haji Perempuan Capai 33 Persen, MenPPPA: Terbesar Sepanjang Sejarah
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Waspada! Diare Tak Kunjung Sembuh Bisa Jadi Gejala Radang Usus Kronis

4 weeks ago
Foto : Ibu memberikan Makanan Bergizi Gratis kepada Balita di Posyando Bougenville, Makassar, Sulawesi Selatan (Sumber : https://bgn.go.id/)
MBG

Sinergi Posyandu & SPPG! Kawal Anak dan Kesehatan Ibu dari Program MBG

1 month ago
Kesehatan

Ahli Sebut COVID-19 Masih Ada, Tapi Dampaknya Tak Separah Masa Pandemi

1 month ago
Kesehatan

Warga Mulai Khawatir Hantavirus, DPRD DKI Desak Pemerintah Perkuat Edukasi

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index