Inversi Kota Banjarmasin, yang secara geografis dikenal sebagai “Kota Seribu Sungai”, memiliki tantangan tersendiri dalam pengelolaan tata air dan kebersihan lingkungan.
Menyadari bahwa keberlanjutan ekosistem kota bukan hanya beban pemerintah semata, ratusan pelajar bersama jajaran tenaga pendidik turun ke jalan dalam sebuah aksi massal bersih-bersih lingkungan. Kegiatan ini dipusatkan di kawasan Kompleks Pelajar Mulawarman, sebuah area strategis yang menjadi pusat konsentrasi sekolah di Banjarmasin Tengah.
Aksi yang berlangsung dengan penuh semangat ini bukan sekadar ritual kebersihan biasa. Ia merupakan manifestasi dari sinergitas antara kebijakan pemerintah kota dan implementasi pendidikan karakter di lapangan.
Para pelajar dari berbagai jenjang tampak bahu-membahu membersihkan sampah, mencabut rumput liar, hingga mengeruk sedimen lumpur yang menyumbat saluran drainase di sekitar sekolah mereka.
Pendidikan Karakter Melalui Aksi Nyata
Hadir langsung di lokasi kegiatan, Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Ryan Utama, memberikan penekanan khusus pada esensi dari kegiatan ini. Menurutnya, melibatkan siswa dalam aksi kebersihan adalah metode pedagogis yang paling efektif untuk menanamkan rasa memiliki terhadap kota.
“Kegiatan ini merupakan bagian integral dari edukasi dan pembentukan karakter pelajar. Kita tidak ingin siswa hanya cerdas secara akademis di dalam kelas, tetapi juga peka terhadap kondisi lingkungan di luar kelas.”
“Dinas Pendidikan berupaya membentuk siswa agar menjaga lingkungan dan menjadikannya sebagai budaya yang melekat, sebuah habituasi yang akan mereka bawa hingga dewasa nanti,” tegas Ryan Utama di sela-sela peninjauan lapangan.
Beliau juga menambahkan bahwa pemilihan lokasi di kawasan Mulawarman sangat krusial. Mengingat kawasan ini merupakan kompleks pendidikan, kepadatan aktivitas manusia berbanding lurus dengan risiko penumpukan sampah.
“Kita ingin menyiratkan pesan kuat bahwa kebersihan lingkungan itu bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif kita semua. Pelajar harus menjadi garda terdepan dalam menumbuhkan kembali rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar,” imbuhnya.
Mendukung Normalisasi Sungai dan Drainase
Secara teknis, aksi ini merupakan respons langsung terhadap kondisi topografi Banjarmasin yang rentan terhadap genangan air, terutama saat curah hujan tinggi atau ketika air pasang (rob) terjadi. Ryan Utama menjelaskan bahwa kawasan Mulawarman selama ini sering mengalami kendala genangan akibat pendangkalan drainase yang cukup signifikan.
Hal senada diungkapkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Camat Banjarmasin Tengah, Ignasius Rizki Perdana. Beliau menegaskan bahwa aksi ini dijalankan selaras dengan instruksi Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin, yang menempatkan normalisasi sungai dan drainase sebagai program prioritas pembangunan kota tahun 2026.
“Berdasarkan instruksi Bapak Wali Kota Muhammad Yamin, kita bergerak serentak untuk memastikan saluran air berfungsi optimal. Drainase di kawasan ini memerlukan perhatian khusus karena tingkat sedimentasinya yang tinggi.”
“Melalui kolaborasi dengan para pelajar, kita ingin melakukan percepatan pembersihan agar saat air pasang datang, genangan dapat surut dengan lebih cepat atau bahkan tidak terjadi sama sekali,” jelas Ignasius.
Ignasius juga menyoroti pentingnya edukasi sungai bagi masyarakat Banjarmasin. Menurutnya, merawat drainase adalah langkah awal untuk mencintai sungai-sungai besar yang menjadi urat nadi kehidupan di Kalimantan Selatan. Dengan melibatkan pelajar, diharapkan muncul kesadaran dini untuk tidak membuang sampah ke aliran air, yang selama ini menjadi penyebab utama penyumbatan.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Masa Depan Hijau
Aksi bersih-bersih ini membuktikan bahwa gerakan lingkungan di Banjarmasin telah bergeser dari sekadar program top-down menjadi gerakan sosial yang inklusif.
Pemerintah Kota Banjarmasin kini tidak hanya mengandalkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) teknis seperti Dinas Lingkungan Hidup atau Dinas Pekerjaan Umum, tetapi juga melibatkan unsur kewilayahan, warga, tokoh masyarakat, hingga institusi pendidikan.
Keterlibatan ratusan pelajar ini memberikan dampak ganda. Secara fisik, saluran air di kawasan Mulawarman kini menjadi lebih bersih dan lancar. Secara psikologis, para pelajar mendapatkan pengalaman empiris mengenai sulitnya merawat kebersihan, sehingga diharapkan mereka akan lebih berhati-hati dalam memproduksi sampah ke depannya.
Gerakan normalisasi yang masif ini merupakan langkah antisipatif yang cerdas. Di tengah perubahan iklim global yang tidak menentu, kota-kota air seperti Banjarmasin memang harus memperkuat infrastruktur hijaunya melalui partisipasi masyarakat. Aksi di Kompleks Mulawarman ini diharapkan menjadi pemantik bagi kawasan-kawasan lain di Kota Banjarmasin untuk melakukan hal serupa.
Dengan berakhirnya kegiatan hari ini, Pemerintah Kota Banjarmasin berharap budaya bersih ini tidak berhenti saat seremoni usai. Keberlanjutan adalah kunci.
Sebagaimana yang ditekankan oleh para pimpinan kota, mencintai lingkungan adalah bentuk nyata dari cinta tanah air, dan itu dimulai dari selokan di depan sekolah kita sendiri.