INVERSI.ID – Merasa sedih terus-menerus, kehilangan minat pada aktivitas favorit, hingga menarik diri dari lingkungan adalah tanda-tanda kesehatan mental remaja terganggu. Fenomena ini banyak dialami generasi muda, baik milenial maupun Gen Z. Sayangnya, sebagian besar masih enggan ke psikolog, meski gejala sudah cukup berat.
Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional (I-NAMHS) mencatat, 1 dari 3 remaja Indonesia usia 11–17 tahun mengalami masalah mental, seperti kecemasan, depresi, gangguan perhatian, dan hiperaktivitas. Namun, data Kementerian Kesehatan menyebut hanya 10,4 persen dari mereka yang mendapatkan pengobatan formal. Ini menunjukkan kesenjangan besar antara kebutuhan psikologis remaja dan akses layanan yang tersedia.
Mengapa banyak remaja enggan memeriksakan diri ke psikolog? Ada berbagai faktor penyebab, mulai dari literasi kesehatan mental yang rendah, stigma negatif, hingga biaya terapi yang mahal. Semua itu menjadi tantangan yang perlu diatasi bersama.
Penyebab Remaja Enggan ke Psikolog
Ada lima faktor utama yang membuat remaja enggan mencari bantuan psikologis profesional:
- Minim literasi kesehatan mental. Banyak remaja tidak paham bahwa depresi, kecemasan, atau overthinking berkepanjangan adalah masalah medis yang bisa diobati. Mereka lebih memilih curhat ke teman atau keluarga karena merasa lebih nyaman. Media sosial bahkan memperparah kondisi dengan tren diagnosis mandiri yang belum tentu tepat.
- Malu akibat stigma negatif. Di masyarakat, masih ada anggapan bahwa orang yang datang ke psikolog berarti lemah, gila, atau kurang iman. Hal ini membuat banyak remaja ragu atau takut dianggap aneh jika mencari pertolongan.
- Akses layanan terbatas. Fasilitas psikologi atau psikiatri masih minim di banyak daerah, apalagi di perdesaan. Biaya mahal, jarak jauh, dan waktu tunggu lama juga menjadi hambatan.
- Respons negatif tenaga kesehatan. Penelitian menunjukkan masih banyak tenaga kesehatan yang kurang ramah dalam menangani pasien gangguan mental, bahkan meremehkan gejalanya. Ini membuat pasien merasa tidak didengar dan akhirnya menyerah mencari bantuan.
- Biaya terapi mahal. Tanpa BPJS, biaya konsultasi psikolog bisa mencapai Rp300 ribu–Rp1 juta per sesi di fasilitas swasta. Sementara terapi membutuhkan kunjungan rutin yang tidak semua keluarga mampu biayai.
Dampak Jika Tidak Ditangani
Gangguan mental yang tidak ditangani bisa berdampak serius bagi masa depan remaja. Selain menurunkan prestasi akademik, kondisi ini dapat merusak hubungan sosial, meningkatkan risiko penyalahgunaan zat, bahkan percobaan bunuh diri. Studi Clinical Practice & Epidemiology in Mental Health membuktikan gangguan mental pada masa remaja berdampak hingga karier mereka di masa depan.
Beberapa kasus nyata pernah terungkap di media. Seorang remaja perempuan di Jawa Tengah nekat melukai dirinya sendiri setelah dua kali ditolak mendapat rujukan psikiater. Ia akhirnya baru dilayani serius setelah menunjukkan luka fisik akibat depresi yang tak tertangani. Kisah ini jadi contoh nyata betapa respons negatif tenaga kesehatan dan minimnya akses layanan bisa memperburuk keadaan.
Karena itu, penting bagi keluarga dan sekolah untuk menciptakan lingkungan yang suportif. Bukan untuk mendiagnosis, tetapi untuk membantu remaja mengenali tanda-tanda masalah mental lebih awal dan berani mencari pertolongan. Sekolah bisa menyelipkan literasi kesehatan mental dalam kurikulum, menyediakan konselor, dan mengadakan kelas pengelolaan stres secara berkala. Pemerintah pun perlu memperluas layanan psikolog di puskesmas, memperkuat program BPJS, dan mempercepat edukasi literasi kesehatan di sekolah-sekolah.
Tips Menjaga Kesehatan Mental
Meningkatkan literasi kesehatan mental bisa dilakukan dengan cara membaca artikel ilmiah, mengikuti kampanye edukasi, atau mendengarkan seminar dari pakar psikologi. Lingkungan juga berperan penting untuk menghindari stigma negatif dan memberikan dukungan emosional yang konsisten.
Selain itu, gunakan layanan digital untuk deteksi dini, seperti fitur Kesehatan Mental SatuSehat Mobile milik Kementerian Kesehatan. Jika hasil deteksi menunjukkan risiko, jangan ragu untuk berkonsultasi ke psikolog, psikiater, atau konselor.
Cobalah juga langkah sederhana seperti menjaga pola tidur, rutin berolahraga ringan, dan membatasi waktu di media sosial. Menjaga komunikasi terbuka dengan keluarga atau teman dekat dapat membantu kamu merasa lebih didengar dan tidak sendirian menghadapi masalah.
Semakin cepat gejala gangguan mental ditangani, semakin besar peluang untuk pulih. Jangan biarkan stigma, jarak, atau biaya menjadi penghalang untuk mendapatkan bantuan yang layak.***