By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Remaja dan Media Sosial, Ketika Scroll Jadi Pelarian yang Membahayakan Mental
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Remaja dan Media Sosial, Ketika Scroll Jadi Pelarian yang Membahayakan Mental

Kesehatan

Remaja dan Media Sosial, Ketika Scroll Jadi Pelarian yang Membahayakan Mental

Jack
By
Jack
9 months ago
Share
6 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Di era digital seperti sekarang, media sosial memang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Namun di balik hiburan dan koneksi yang ditawarkan, ternyata platform seperti TikTok, Instagram, dan Snapchat menyimpan potensi bahaya yang serius terhadap kesehatan mental remaja, terutama mereka yang sedang dalam kondisi rentan.

Contents
Doom Scrolling dan FOMO: Dua Ancaman Baru untuk Mental RemajaDampak Buruk Terlalu Sering Scroll LayarApa yang Bisa Dilakukan Orang Tua dan Sekolah?Suara dari Remaja: “Kami Merasa Terjebak”Refleksi: Apakah Kita Sedang Menghindar?

Sebuah penelitian dari University of Cambridge mengungkapkan bahwa remaja yang mengalami gangguan mental seperti kecemasan dan depresi cenderung lebih kecanduan media sosial dibandingkan rekan-rekan mereka yang sehat secara mental. Hal ini tak hanya memperpanjang durasi mereka dalam berselancar di dunia maya, tetapi juga memperburuk kondisi psikologis yang tengah mereka alami.

Menurut hasil studi yang dilansir dari ScienceDaily, remaja dengan gangguan mental diketahui menghabiskan waktu sekitar 50 menit lebih lama setiap hari di media sosial. Mereka juga cenderung memiliki kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi mereka dengan apa yang terlihat “sempurna” di media sosial, meskipun kenyataannya banyak konten tersebut telah melalui proses seleksi dan edit.

Doom Scrolling dan FOMO: Dua Ancaman Baru untuk Mental Remaja

Fenomena ini dikenal sebagai doom scrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus mengonsumsi konten negatif tanpa henti. Banyak dari remaja ini merasa sulit berhenti menggulir layar, meskipun konten yang mereka lihat justru memperparah kecemasan, rasa minder, bahkan perasaan kesepian.

Tak hanya itu, mereka juga cenderung terlalu fokus pada metrik digital seperti jumlah “like”, komentar, dan jumlah viewers, yang akhirnya menjadi sumber tekanan tersendiri. Hal ini diperparah dengan munculnya perasaan FOMO (fear of missing out), yaitu rasa takut ketinggalan informasi atau tren terbaru yang beredar di media sosial.

Penelitian ini mencatat bahwa sekitar 40% remaja dengan gangguan mental menggunakan media sosial bukan untuk bersenang-senang, melainkan sebagai cara untuk “menghindari kenyataan”. Artinya, media sosial dijadikan pelarian, bukan sekadar hiburan.

Dampak Buruk Terlalu Sering Scroll Layar

Penggunaan media sosial yang berlebihan di kalangan remaja berdampak langsung pada pola tidur yang terganggu, meningkatnya tingkat stres, hingga kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan sosial nyata. Mereka menjadi lebih mudah cemas, sulit fokus, dan merasa rendah diri karena terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain di internet.

Dr. Amy Orben, seorang psikolog anak dari University of Cambridge, menegaskan bahwa teknologi bukan sesuatu yang bisa dihindari, namun penting untuk belajar mengelola dampaknya. Ia juga menyoroti pentingnya edukasi digital sejak dini agar remaja memahami kapan saatnya berhenti, bagaimana membatasi waktu layar, dan belajar membedakan antara dunia nyata dan dunia maya.

“Remaja sekarang menghadapi tantangan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka terhubung 24 jam sehari, tapi juga merasa lebih kesepian daripada sebelumnya,” ujar Orben.

Baca Juga :

Bojan Hodak Pastikan Persib Tak Pilih-pilih Lawan di Final Liga 1 Tahun 2023/2024
Tata Cara Sholat Lailatul Qadar Lengkap Bacaan Niatnya

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua dan Sekolah?

Menghadapi realitas ini, kolaborasi antara orang tua dan sekolah menjadi sangat penting. Mereka perlu menciptakan lingkungan digital yang sehat, aman, dan mendukung kesejahteraan mental remaja. Edukasi soal bahaya overuse media sosial, pelatihan manajemen emosi, hingga pentingnya waktu tanpa gadget, bisa menjadi langkah awal yang signifikan.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Membatasi waktu layar harian, terutama sebelum tidur.
  • Mematikan notifikasi dari aplikasi media sosial untuk mengurangi distraksi.
  • Menyediakan waktu khusus untuk offline activity seperti membaca buku, olahraga, atau ngobrol langsung.
  • Mengajarkan literasi digital agar anak tahu bahwa kehidupan di media sosial sering kali bukan kenyataan sebenarnya.
  • Mendorong remaja untuk berbicara terbuka tentang perasaan dan tekanan yang mereka alami.

Suara dari Remaja: “Kami Merasa Terjebak”

Dalam penelitian ini, banyak remaja yang diwawancarai mengaku merasa “terjebak” oleh media sosial. Notifikasi yang terus-menerus muncul, algoritma yang mendorong konten viral, hingga tekanan untuk selalu terlihat aktif membuat mereka sulit berhenti.

“Kadang aku sadar kalau aku sebenarnya cuma main HP buat menghindari stres atau masalah, tapi malah tambah stres lihat yang lain kelihatan happy terus,” ujar salah satu remaja dalam wawancara.

Mereka juga menyebutkan bahwa konten-konten yang viral sering kali hanya menunjukkan sisi terbaik dari kehidupan seseorang. Padahal di balik layar, kenyataan bisa sangat berbeda.***


Refleksi: Apakah Kita Sedang Menghindar?

Penelitian ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Media sosial bukan sekadar tempat berbagi momen, tetapi juga bisa menjadi ruang yang memperparah gangguan mental jika digunakan secara tidak sehat. Terutama bagi remaja, yang masih dalam masa pencarian jati diri dan sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan.

Sebelum terus menggulir layar tanpa henti, ada baiknya kita bertanya ke diri sendiri: apakah kita sedang mencari hiburan, atau justru sedang menghindari perasaan yang belum terselesaikan?

Menjaga kesehatan mental di era digital bukan hanya tentang menjauh dari teknologi, tapi juga soal kesadaran, batasan, dan dukungan. Yuk, mulai ciptakan ruang digital yang lebih ramah untuk diri sendiri dan generasi muda kita.

You Might Also Like

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak
Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil
Inggris Resmi Larang Anak di Bawah 16 Tahun Akses Media Sosial Mulai 2027
IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Rupiah Melemah, Harga Obat Bakal Melambung: Ketahanan Kesehatan RI Diuji
TAGGED:Kesehatan MentalMedia SosialremajaScroll
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Bootcamp Jadi Jalan Pintas Anak Muda Tembus Industri Digital
Next Article Skill Digital yang Wajib Dimiliki Anak Muda Zaman Sekarang untuk Bertahan di Era Modern
1 Comment
  • Pingback: Media Sosial, Teman atau Musuh? Ini Cara Bijak Anak Muda

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Dokter Ingatkan Bahaya Flu Singapura, Vaksinasi Jadi Perlindungan Penting

4 weeks ago
Kesehatan

Waspada! Diare Tak Kunjung Sembuh Bisa Jadi Gejala Radang Usus Kronis

4 weeks ago
Kesehatan

Ahli Sebut COVID-19 Masih Ada, Tapi Dampaknya Tak Separah Masa Pandemi

1 month ago
Kesehatan

Warga Mulai Khawatir Hantavirus, DPRD DKI Desak Pemerintah Perkuat Edukasi

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index