INVERSI.ID – Di era digital seperti sekarang, media sosial memang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Namun di balik hiburan dan koneksi yang ditawarkan, ternyata platform seperti TikTok, Instagram, dan Snapchat menyimpan potensi bahaya yang serius terhadap kesehatan mental remaja, terutama mereka yang sedang dalam kondisi rentan.
Sebuah penelitian dari University of Cambridge mengungkapkan bahwa remaja yang mengalami gangguan mental seperti kecemasan dan depresi cenderung lebih kecanduan media sosial dibandingkan rekan-rekan mereka yang sehat secara mental. Hal ini tak hanya memperpanjang durasi mereka dalam berselancar di dunia maya, tetapi juga memperburuk kondisi psikologis yang tengah mereka alami.
Menurut hasil studi yang dilansir dari ScienceDaily, remaja dengan gangguan mental diketahui menghabiskan waktu sekitar 50 menit lebih lama setiap hari di media sosial. Mereka juga cenderung memiliki kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi mereka dengan apa yang terlihat “sempurna” di media sosial, meskipun kenyataannya banyak konten tersebut telah melalui proses seleksi dan edit.
Doom Scrolling dan FOMO: Dua Ancaman Baru untuk Mental Remaja
Fenomena ini dikenal sebagai doom scrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus mengonsumsi konten negatif tanpa henti. Banyak dari remaja ini merasa sulit berhenti menggulir layar, meskipun konten yang mereka lihat justru memperparah kecemasan, rasa minder, bahkan perasaan kesepian.
Tak hanya itu, mereka juga cenderung terlalu fokus pada metrik digital seperti jumlah “like”, komentar, dan jumlah viewers, yang akhirnya menjadi sumber tekanan tersendiri. Hal ini diperparah dengan munculnya perasaan FOMO (fear of missing out), yaitu rasa takut ketinggalan informasi atau tren terbaru yang beredar di media sosial.
Penelitian ini mencatat bahwa sekitar 40% remaja dengan gangguan mental menggunakan media sosial bukan untuk bersenang-senang, melainkan sebagai cara untuk “menghindari kenyataan”. Artinya, media sosial dijadikan pelarian, bukan sekadar hiburan.
Dampak Buruk Terlalu Sering Scroll Layar
Penggunaan media sosial yang berlebihan di kalangan remaja berdampak langsung pada pola tidur yang terganggu, meningkatnya tingkat stres, hingga kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan sosial nyata. Mereka menjadi lebih mudah cemas, sulit fokus, dan merasa rendah diri karena terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain di internet.
Dr. Amy Orben, seorang psikolog anak dari University of Cambridge, menegaskan bahwa teknologi bukan sesuatu yang bisa dihindari, namun penting untuk belajar mengelola dampaknya. Ia juga menyoroti pentingnya edukasi digital sejak dini agar remaja memahami kapan saatnya berhenti, bagaimana membatasi waktu layar, dan belajar membedakan antara dunia nyata dan dunia maya.
“Remaja sekarang menghadapi tantangan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka terhubung 24 jam sehari, tapi juga merasa lebih kesepian daripada sebelumnya,” ujar Orben.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua dan Sekolah?
Menghadapi realitas ini, kolaborasi antara orang tua dan sekolah menjadi sangat penting. Mereka perlu menciptakan lingkungan digital yang sehat, aman, dan mendukung kesejahteraan mental remaja. Edukasi soal bahaya overuse media sosial, pelatihan manajemen emosi, hingga pentingnya waktu tanpa gadget, bisa menjadi langkah awal yang signifikan.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
- Membatasi waktu layar harian, terutama sebelum tidur.
- Mematikan notifikasi dari aplikasi media sosial untuk mengurangi distraksi.
- Menyediakan waktu khusus untuk offline activity seperti membaca buku, olahraga, atau ngobrol langsung.
- Mengajarkan literasi digital agar anak tahu bahwa kehidupan di media sosial sering kali bukan kenyataan sebenarnya.
- Mendorong remaja untuk berbicara terbuka tentang perasaan dan tekanan yang mereka alami.
Suara dari Remaja: “Kami Merasa Terjebak”
Dalam penelitian ini, banyak remaja yang diwawancarai mengaku merasa “terjebak” oleh media sosial. Notifikasi yang terus-menerus muncul, algoritma yang mendorong konten viral, hingga tekanan untuk selalu terlihat aktif membuat mereka sulit berhenti.
“Kadang aku sadar kalau aku sebenarnya cuma main HP buat menghindari stres atau masalah, tapi malah tambah stres lihat yang lain kelihatan happy terus,” ujar salah satu remaja dalam wawancara.
Mereka juga menyebutkan bahwa konten-konten yang viral sering kali hanya menunjukkan sisi terbaik dari kehidupan seseorang. Padahal di balik layar, kenyataan bisa sangat berbeda.***
Refleksi: Apakah Kita Sedang Menghindar?
Penelitian ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Media sosial bukan sekadar tempat berbagi momen, tetapi juga bisa menjadi ruang yang memperparah gangguan mental jika digunakan secara tidak sehat. Terutama bagi remaja, yang masih dalam masa pencarian jati diri dan sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan.
Sebelum terus menggulir layar tanpa henti, ada baiknya kita bertanya ke diri sendiri: apakah kita sedang mencari hiburan, atau justru sedang menghindari perasaan yang belum terselesaikan?
Menjaga kesehatan mental di era digital bukan hanya tentang menjauh dari teknologi, tapi juga soal kesadaran, batasan, dan dukungan. Yuk, mulai ciptakan ruang digital yang lebih ramah untuk diri sendiri dan generasi muda kita.