JAKARTA — Di tengah lonjakan harga energi global yang ikut mendorong kenaikan LPG non-subsidi, rumah tangga kini dihadapkan pada pilihan rasional, tetap bertahan dengan gas mahal, atau beralih ke solusi yang lebih hemat dan stabil.
Faktanya, data terbaru menunjukkan kompor listrik bukan sekadar alternatif—melainkan solusi efisiensi yang nyata.
Kenaikan harga LPG non-subsidi yang terjadi belakangan ini membuat beban pengeluaran rumah tangga semakin terasa. Untuk tabung LPG 5 kg hingga 12 kg, harga kini berada di kisaran Rp200.000 hingga Rp220.000 per tabung. Jika dihitung, biaya pemakaian harian bisa mencapai Rp6.000 hingga Rp7.500, atau sekitar Rp180.000 hingga Rp220.000 per bulan.
Bandingkan dengan kompor listrik.
Dengan tarif listrik sekitar Rp1.444 per kWh, biaya memasak harian hanya berkisar Rp1.400 hingga Rp1.800. Dalam sebulan, totalnya sekitar Rp43.000 hingga Rp56.000. Artinya, penghematan bisa mencapai 70% hingga 75% dibanding LPG non-subsidi.
Bahkan jika dibandingkan dengan LPG subsidi 3 kg, kompor listrik tetap lebih efisien. LPG 3 kg yang dijual di kisaran Rp16.000 hingga Rp19.000 per tabung menghasilkan biaya bulanan sekitar Rp48.000 hingga Rp76.000. Sementara kompor listrik tetap lebih rendah, dengan potensi hemat sekitar 10% hingga 20%.
Perbandingan ini menegaskan satu hal, efisiensi energi kini bukan lagi soal gaya hidup, tapi strategi bertahan.
Di tengah ketidakpastian harga gas dunia akibat faktor geopolitik dan pasokan global, listrik menawarkan stabilitas yang lebih terukur. Tidak ada risiko lonjakan mendadak seperti yang kerap terjadi pada LPG non-subsidi.
Selain itu, penggunaan kompor listrik juga dinilai lebih praktis dan modern. Tidak perlu khawatir kehabisan tabung di saat mendesak, tidak ada risiko kebocoran gas, dan kontrol panas lebih presisi.
Kajian yang dirilis oleh lembaga penyiaran publik juga menegaskan bahwa dalam penggunaan harian, kompor listrik mampu memberikan efisiensi biaya yang signifikan dibandingkan LPG, terutama untuk kebutuhan rumah tangga kecil hingga menengah.
Di sinilah perubahan pola konsumsi mulai terlihat.
Jika sebelumnya LPG menjadi pilihan utama, kini semakin banyak rumah tangga mulai mempertimbangkan listrik sebagai sumber energi memasak. Bukan karena tren, tetapi karena hitungan ekonomi yang semakin tidak bisa diabaikan.
Dengan selisih biaya yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah per bulan, transisi ke kompor listrik menjadi langkah cerdas untuk menjaga keuangan keluarga tetap aman.
Pada akhirnya, di tengah harga energi yang terus berfluktuasi, pilihan paling rasional adalah yang paling efisien. Dan saat ini, kompor listrik bukan hanya lebih modern—tapi juga jauh lebih hemat.