JAKARTA — Isu kenaikan harga BBM non-subsidi kembali ramai diperbincangkan. Namun jika dilihat secara objektif, fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang mengejutkan, yakni harga BBM di Indonesia masih menjadi salah satu yang paling murah dan stabil di kawasan Asia Tenggara.
Data perbandingan harga BBM jenis RON tinggi di negara-negara ASEAN memperlihatkan bahwa Indonesia masih berada di posisi kompetitif, bahkan cenderung paling terjangkau untuk segmen non-subsidi.
Lalu bagaimana perbandingan harga BBM non-subsidi di Asia Tenggara? Berikut tabelnya:
- Indonesia (Pertamax Turbo): Rp 19.400 per liter
- Malaysia (RON 97): Rp 22.332 per liter
- Singapura: Rp 55.464 per liter
- Thailand: Rp 34.845 per liter
- Filipina (RON 100): Rp 19.492 per liter
Jika melihat angka tersebut, jelas bahwa harga BBM non-subsidi di Indonesia masih jauh di bawah negara-negara seperti Singapura dan Thailand, bahkan lebih murah dibanding Malaysia. Hanya Filipina yang mendekati, namun tetap sedikit lebih tinggi.
Produk seperti Pertamax Turbo memang masuk kategori BBM non-subsidi yang harganya mengikuti mekanisme pasar global. Artinya, fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar menjadi faktor utama dalam penyesuaian harga.
Namun menariknya, meskipun mengikuti dinamika global, pemerintah tetap mampu menjaga harga di level moderat agar tidak melonjak setinggi negara tetangga.
Perspektif yang Sering Terlewat
Di tengah derasnya kritik soal kenaikan harga, publik sering kali lupa melihat konteks regional. Padahal, di banyak negara, BBM non-subsidi dijual dengan harga jauh lebih tinggi karena sepenuhnya mengikuti pasar tanpa intervensi signifikan.
Sebagai contoh, di Singapura, harga BBM RON tinggi bahkan menembus Rp 55 ribu per liter. Sementara di Thailand mencapai lebih dari Rp 34 ribu per liter.
Bandingkan dengan Indonesia yang masih berada di kisaran Rp 19 ribuan—selisihnya bisa mencapai lebih dari dua kali lipat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia masih berupaya menjaga keseimbangan antara mekanisme pasar dan daya beli masyarakat.
Pemerintah, melalui Kementerian ESDM memastikan BBM non-subsidi tetap mengikuti harga global dan akan dijaga agar tidak melonjak ekstrem. Pendekatan ini diyakini akan menciptakan stabilitas yang relatif lebih baik dibandingkan beberapa negara lain di kawasan.
Selain itu, keberadaan BBM subsidi juga menjadi bantalan penting bagi masyarakat luas, sehingga dampak kenaikan harga non-subsidi tidak langsung dirasakan oleh seluruh lapisan.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk menempatkan isu kenaikan BBM dalam perspektif yang lebih luas. Masyarakat harus memahami, jika kenaikan Harga BBM terjadi naik, maka pemerintah memastikan kenaikan tidak setinggi negara tetangga, masih dalam batas moderat, dan tetap terkendali dibanding pasar regional
Perlu dipahami bahwa BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo adalah komoditas yang tidak bisa sepenuhnya “ditahan” harganya. Tanpa penyesuaian, beban ekonomi bisa bergeser ke sektor lain atau bahkan mengganggu pasokan.
Karena itu, menjaga harga tetap realistis justru menjadi kunci agar distribusi energi tetap berjalan dan tidak membebani keuangan negara secara berlebihan.
Fakta ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap penyesuaian harga, ada upaya menjaga keseimbangan besar antara pasar global, keberlanjutan energi, dan daya beli masyarakat.
Jadi, sebelum ikut panik—coba lihat data dengan leih rinci. Bisa jadi, posisi Indonesia sebenarnya jauh lebih baik dari yang dibayangkan.