INVERSI.ID – Neuropati atau kerusakan pada saraf tepi adalah kondisi medis serius yang sering luput dari perhatian, padahal dapat berdampak besar terhadap kualitas hidup seseorang. Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, neuropati bisa menurunkan fungsi tubuh secara signifikan, bahkan meningkatkan risiko amputasi. Hal yang membuat penyakit ini berbahaya adalah gejalanya yang muncul perlahan dan sering disalahartikan.
Menurut dr. Yeni Quinta Mondiani, SpN, dosen Fakultas Kedokteran IPB University, neuropati didefinisikan sebagai gangguan atau kerusakan pada saraf perifer. Pernyataan ini disampaikan melalui kanal resmi IPB University, Kamis (24/7).
“Neuropati itu bukan satu penyakit tunggal, tetapi sindrom yang bisa disebabkan banyak hal. Karena gejalanya halus dan progresif, banyak orang yang tidak sadar mengalaminya,” jelas dr. Yeni.
Gejala Berdasarkan Jenis Saraf yang Terganggu
Saraf perifer dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu saraf sensorik, motorik, dan otonom. Gejala yang muncul tergantung pada jenis saraf yang mengalami kerusakan.
Pada saraf sensorik, gejala dibagi menjadi dua kategori: gejala positif dan negatif. Gejala positif mencakup sensasi abnormal seperti kesemutan, rasa terbakar, atau nyeri tajam seperti ditusuk jarum. Sementara gejala negatif berupa penurunan atau hilangnya sensasi seperti mati rasa atau kebas.
“Kalau gejalanya muncul seperti kesemutan tanpa sebab yang jelas, atau kebas berkepanjangan, itu sebaiknya segera periksa. Jangan dianggap sepele,” kata Yeni.
Jika yang terganggu adalah saraf motorik, maka akan muncul kelemahan otot. Misalnya, penderita kesulitan menggenggam benda, membuka tutup botol, atau merasa cepat lelah saat melakukan aktivitas fisik ringan.
Sementara pada saraf otonom, gangguan bisa memengaruhi fungsi organ tubuh seperti tekanan darah, denyut jantung, pencernaan, hingga berkeringat. Namun, gangguan pada saraf otonom biasanya lebih sulit dikenali karena gejalanya mirip dengan gangguan lain.
Penyebab dan Kelompok Risiko Neuropati
Neuropati bukan hanya dialami oleh lansia. Faktanya, menurut dr. Yeni, saat ini makin banyak anak muda yang mengalami neuropati akibat gaya hidup tidak sehat atau aktivitas kerja yang monoton dan terus-menerus.
“Banyak mahasiswa dan pekerja kantoran yang mengalami neuropati. Bahkan sekarang, usia 20-an pun bisa terkena karena diabetes atau faktor lain,” jelasnya.
Beberapa penyebab utama neuropati antara lain:
- Diabetes Mellitus
Ini adalah penyebab paling umum neuropati perifer. Progresi dari diabetes ke neuropati biasanya memakan waktu 3 hingga 5 tahun. - Efek Samping Obat
Termasuk antibiotik jangka panjang, obat jantung, hingga kemoterapi. - Kekurangan Vitamin
Terutama vitamin B kompleks dan vitamin E yang berperan penting untuk sistem saraf. - Paparan Zat Berbahaya
Seperti logam berat dan pestisida, serta kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi alkohol jangka panjang. - Aktivitas Monoton
Mengetik tanpa henti selama berjam-jam tanpa jeda juga dapat menyebabkan tekanan berulang pada saraf.
Pekerja yang duduk di depan komputer seharian tanpa peregangan menjadi kelompok yang sangat rentan. Aktivitas monoton bisa memicu tekanan lokal pada saraf yang, bila berlangsung terus-menerus, menyebabkan kerusakan saraf jangka panjang.
Pentingnya Deteksi Dini dan Pola Hidup Sehat
Kesadaran masyarakat terhadap gejala awal neuropati masih rendah. Menurut dr. Yeni, masyarakat perlu lebih waspada terhadap gejala seperti kebas dan kesemutan yang muncul mendadak, terutama jika tidak ada sebab yang jelas.
“Kalau gejalanya datang tiba-tiba, tanpa sebab, dan bukan karena duduk terlalu lama, bisa jadi itu tanda awal stroke atau sindrom Guillain-Barré,” ungkapnya.
Ia menyarankan siapa pun yang mengalami gejala seperti itu untuk segera berkonsultasi ke dokter. Terlebih bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti diabetes, obesitas, atau kebiasaan buruk lainnya.
Gejala neuropati yang bertahan lebih dari dua hingga tiga minggu meskipun sudah minum vitamin saraf harus segera dievaluasi lebih lanjut. Deteksi dini akan mencegah kerusakan yang lebih luas dan memperbesar peluang pemulihan.
Pencegahan terbaik tetap pada gaya hidup sehat: makan bergizi, olahraga rutin, tidur cukup, dan membatasi paparan racun seperti rokok dan alkohol.
“Kalau kerja di depan laptop, sebaiknya jangan lebih dari 30-60 menit tanpa jeda. Harus ada stretching, baik itu mata, tangan, ataupun pinggang,” tambah dr. Yeni.
Risiko Komplikasi Jika Neuropati Dibiarkan
Neuropati yang tidak ditangani bisa menimbulkan komplikasi serius. Salah satunya adalah luka kronis yang tidak disadari karena pasien kehilangan sensasi. Kondisi ini sering terjadi pada penderita diabetes dan dapat berkembang menjadi infeksi berat hingga amputasi.
Tak hanya fisik, kerusakan saraf juga dapat memengaruhi kondisi psikologis. Beberapa pasien mengalami depresi akibat rasa sakit kronis atau penurunan kemampuan fisik yang membatasi aktivitas sehari-hari.
“Cegah neuropati sedari dini, jaga sarafmu, jaga kesehatanmu,” pesan dr. Yeni menutup wawancara.