By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Sering Kesemutan atau Kebas? Bisa Jadi Tanda Neuropati, Hati-Hati Bisa Berujung Amputasi!
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Sering Kesemutan atau Kebas? Bisa Jadi Tanda Neuropati, Hati-Hati Bisa Berujung Amputasi!

Kesehatan

Sering Kesemutan atau Kebas? Bisa Jadi Tanda Neuropati, Hati-Hati Bisa Berujung Amputasi!

Jack
By
Jack
9 months ago
Share
5 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Neuropati atau kerusakan pada saraf tepi adalah kondisi medis serius yang sering luput dari perhatian, padahal dapat berdampak besar terhadap kualitas hidup seseorang. Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, neuropati bisa menurunkan fungsi tubuh secara signifikan, bahkan meningkatkan risiko amputasi. Hal yang membuat penyakit ini berbahaya adalah gejalanya yang muncul perlahan dan sering disalahartikan.

Contents
Gejala Berdasarkan Jenis Saraf yang TergangguPenyebab dan Kelompok Risiko NeuropatiPentingnya Deteksi Dini dan Pola Hidup SehatRisiko Komplikasi Jika Neuropati Dibiarkan

Menurut dr. Yeni Quinta Mondiani, SpN, dosen Fakultas Kedokteran IPB University, neuropati didefinisikan sebagai gangguan atau kerusakan pada saraf perifer. Pernyataan ini disampaikan melalui kanal resmi IPB University, Kamis (24/7).

“Neuropati itu bukan satu penyakit tunggal, tetapi sindrom yang bisa disebabkan banyak hal. Karena gejalanya halus dan progresif, banyak orang yang tidak sadar mengalaminya,” jelas dr. Yeni.

Gejala Berdasarkan Jenis Saraf yang Terganggu

Saraf perifer dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu saraf sensorik, motorik, dan otonom. Gejala yang muncul tergantung pada jenis saraf yang mengalami kerusakan.

Pada saraf sensorik, gejala dibagi menjadi dua kategori: gejala positif dan negatif. Gejala positif mencakup sensasi abnormal seperti kesemutan, rasa terbakar, atau nyeri tajam seperti ditusuk jarum. Sementara gejala negatif berupa penurunan atau hilangnya sensasi seperti mati rasa atau kebas.

“Kalau gejalanya muncul seperti kesemutan tanpa sebab yang jelas, atau kebas berkepanjangan, itu sebaiknya segera periksa. Jangan dianggap sepele,” kata Yeni.

Jika yang terganggu adalah saraf motorik, maka akan muncul kelemahan otot. Misalnya, penderita kesulitan menggenggam benda, membuka tutup botol, atau merasa cepat lelah saat melakukan aktivitas fisik ringan.

Sementara pada saraf otonom, gangguan bisa memengaruhi fungsi organ tubuh seperti tekanan darah, denyut jantung, pencernaan, hingga berkeringat. Namun, gangguan pada saraf otonom biasanya lebih sulit dikenali karena gejalanya mirip dengan gangguan lain.

Penyebab dan Kelompok Risiko Neuropati

Neuropati bukan hanya dialami oleh lansia. Faktanya, menurut dr. Yeni, saat ini makin banyak anak muda yang mengalami neuropati akibat gaya hidup tidak sehat atau aktivitas kerja yang monoton dan terus-menerus.

Baca Juga :

Perintah Jokowi pada Kapolri soal Kasus Vina Cirebon, Betul-betul Dikawal
Spesial Hari Kartini, Benarkah Cita-cita Kesetaraan Sudah Terwujud?

“Banyak mahasiswa dan pekerja kantoran yang mengalami neuropati. Bahkan sekarang, usia 20-an pun bisa terkena karena diabetes atau faktor lain,” jelasnya.

Beberapa penyebab utama neuropati antara lain:

  • Diabetes Mellitus
    Ini adalah penyebab paling umum neuropati perifer. Progresi dari diabetes ke neuropati biasanya memakan waktu 3 hingga 5 tahun.
  • Efek Samping Obat
    Termasuk antibiotik jangka panjang, obat jantung, hingga kemoterapi.
  • Kekurangan Vitamin
    Terutama vitamin B kompleks dan vitamin E yang berperan penting untuk sistem saraf.
  • Paparan Zat Berbahaya
    Seperti logam berat dan pestisida, serta kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi alkohol jangka panjang.
  • Aktivitas Monoton
    Mengetik tanpa henti selama berjam-jam tanpa jeda juga dapat menyebabkan tekanan berulang pada saraf.

Pekerja yang duduk di depan komputer seharian tanpa peregangan menjadi kelompok yang sangat rentan. Aktivitas monoton bisa memicu tekanan lokal pada saraf yang, bila berlangsung terus-menerus, menyebabkan kerusakan saraf jangka panjang.

Pentingnya Deteksi Dini dan Pola Hidup Sehat

Neuropati.

Kesadaran masyarakat terhadap gejala awal neuropati masih rendah. Menurut dr. Yeni, masyarakat perlu lebih waspada terhadap gejala seperti kebas dan kesemutan yang muncul mendadak, terutama jika tidak ada sebab yang jelas.

“Kalau gejalanya datang tiba-tiba, tanpa sebab, dan bukan karena duduk terlalu lama, bisa jadi itu tanda awal stroke atau sindrom Guillain-Barré,” ungkapnya.

Ia menyarankan siapa pun yang mengalami gejala seperti itu untuk segera berkonsultasi ke dokter. Terlebih bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti diabetes, obesitas, atau kebiasaan buruk lainnya.

Gejala neuropati yang bertahan lebih dari dua hingga tiga minggu meskipun sudah minum vitamin saraf harus segera dievaluasi lebih lanjut. Deteksi dini akan mencegah kerusakan yang lebih luas dan memperbesar peluang pemulihan.

Pencegahan terbaik tetap pada gaya hidup sehat: makan bergizi, olahraga rutin, tidur cukup, dan membatasi paparan racun seperti rokok dan alkohol.

“Kalau kerja di depan laptop, sebaiknya jangan lebih dari 30-60 menit tanpa jeda. Harus ada stretching, baik itu mata, tangan, ataupun pinggang,” tambah dr. Yeni.

Risiko Komplikasi Jika Neuropati Dibiarkan

Neuropati yang tidak ditangani bisa menimbulkan komplikasi serius. Salah satunya adalah luka kronis yang tidak disadari karena pasien kehilangan sensasi. Kondisi ini sering terjadi pada penderita diabetes dan dapat berkembang menjadi infeksi berat hingga amputasi.

Tak hanya fisik, kerusakan saraf juga dapat memengaruhi kondisi psikologis. Beberapa pasien mengalami depresi akibat rasa sakit kronis atau penurunan kemampuan fisik yang membatasi aktivitas sehari-hari.

“Cegah neuropati sedari dini, jaga sarafmu, jaga kesehatanmu,” pesan dr. Yeni menutup wawancara.

You Might Also Like

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak
Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil
IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Rupiah Melemah, Harga Obat Bakal Melambung: Ketahanan Kesehatan RI Diuji
Dokter Ingatkan Bahaya Flu Singapura, Vaksinasi Jadi Perlindungan Penting
TAGGED:AmputasiKesemutanNeuropati
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Skill Digital yang Wajib Dimiliki Anak Muda Zaman Sekarang untuk Bertahan di Era Modern
Next Article Children See, Children Do: Pentingnya Keteladanan dalam Pembentukan Karakter Anak
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Waspada! Diare Tak Kunjung Sembuh Bisa Jadi Gejala Radang Usus Kronis

4 weeks ago
Kesehatan

Ahli Sebut COVID-19 Masih Ada, Tapi Dampaknya Tak Separah Masa Pandemi

1 month ago
Kesehatan

Warga Mulai Khawatir Hantavirus, DPRD DKI Desak Pemerintah Perkuat Edukasi

1 month ago
Kesehatan

Kemenhut: Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index