By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Angka Pengangguran Tinggi, Muncul Fenomena ‘Cucu Penuh Waktu’ di China
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Angka Pengangguran Tinggi, Muncul Fenomena ‘Cucu Penuh Waktu’ di China

Ekonomi

Angka Pengangguran Tinggi, Muncul Fenomena ‘Cucu Penuh Waktu’ di China

Jack
By
Jack
1 year ago
Share
6 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Di tengah pasar kerja yang semakin sulit, muncul fenomena unik di kalangan anak muda Tiongkok, yaitu menjadi “cucu penuh waktu”. Mereka adalah generasi muda yang memilih kembali ke kampung halaman untuk merawat dan menemani kakek-nenek, sekaligus mencari makna hidup baru di tengah tingginya angka pengangguran usia muda di China.

Contents
Cucu Penuh Waktu, Pilihan yang Mengubah HidupKrisis Kerja Gen Z China Jadi Latar BelakangRelasi Antargenerasi yang MenghangatkanPro dan Kontra Fenomena Cucu Penuh WaktuAntara Keterpaksaan dan Keikhlasan

Fenomena “cucu penuh waktu” atau full-time grandkids ini viral setelah banyak kisah menyentuh dibagikan di media sosial dan diliput media besar seperti South China Morning Post. Para anak muda ini, sebagian besar dari Generasi Z, memutuskan tinggal bersama kakek-nenek mereka bukan karena paksaan, melainkan panggilan hati dan kondisi sosial yang mendesak. Dengan minimnya peluang kerja dan meningkatnya kebutuhan pendampingan lansia, pilihan ini menjadi alternatif yang penuh makna.

Mereka tidak hanya membantu urusan rumah tangga, tetapi juga hadir sebagai pendamping emosional dan teman berbagi cerita. Tren ini tidak hanya menunjukkan realitas krisis kerja, tetapi juga sisi kemanusiaan yang jarang dibicarakan dalam narasi ekonomi modern.

Cucu Penuh Waktu, Pilihan yang Mengubah Hidup

Berbeda dari istilah “anak penuh waktu” yang biasanya merujuk pada orang dewasa yang merawat orang tuanya, konsep “cucu penuh waktu” dinilai lebih menyentuh karena melibatkan hubungan antargenerasi yang lebih lebar. Mereka merawat kakek-nenek yang lebih rentan secara fisik dan mental, namun justru menemukan kedamaian dalam proses tersebut.

Salah satu kisah viral datang dari perempuan berusia 26 tahun yang gagal dalam seleksi pascasarjana dan ujian pegawai negeri. Alih-alih terus mengejar jalur konvensional, ia menerima tawaran sang kakek untuk tinggal bersama dan merawatnya. Sebagai bentuk apresiasi, sang kakek memberikan sebagian besar uang pensiunnya, sekitar 7.000 yuan (±Rp15 juta), sebagai bentuk dukungan finansial.

“Kalau kamu bisa merawat aku dengan baik dan membuatku hidup beberapa tahun lebih lama, itu jauh lebih berarti dibanding apapun yang bisa kamu lakukan di luar sana,” tutur sang kakek yang menyentuh hati warganet.

Krisis Kerja Gen Z China Jadi Latar Belakang

Fenomena ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Menurut data terbaru, tingkat pengangguran usia 16–24 tahun di wilayah urban China mencapai 15,8 persen per April 2025. Artinya, hampir satu dari enam anak muda tidak memiliki pekerjaan tetap. Banyak dari mereka merasa putus asa dan tidak percaya lagi pada janji dunia kerja yang menuntut tinggi namun memberi hasil yang minim.

“Di tempat kerja, semua usaha saya cuma dibalas janji kosong. Tapi jadi cucu penuh waktu, kalau saya bilang pengen makan sesuatu malam ini, besok pagi nenek saya langsung membelikannya,” ungkap seorang cucu penuh waktu lainnya.

Mereka mungkin awalnya manja dan tidak terbiasa dengan rutinitas rumah tangga. Namun seiring waktu, banyak yang justru berkembang cepat dalam peran barunya. Mereka mengatur kunjungan ke rumah sakit, mengingatkan konsumsi obat, hingga mengelola keuangan rumah tangga dengan disiplin.

Baca Juga :

Fenomena Nolep, Ketika Anak Muda Lebih Nyaman di Dunia Maya daripada Dunia Nyata
Terciduk Main Game Judi Slot saat Rapat, Cinta Mega Anggota DPRD Dicopot dari Jabatannya

Relasi Antargenerasi yang Menghangatkan

Tak sekadar membantu fisik, keberadaan cucu penuh waktu memberi dampak besar secara psikologis bagi lansia. Banyak kakek-nenek merasa kesepian karena anak-anak mereka sibuk bekerja di kota, atau bahkan tinggal di luar negeri. Kehadiran cucu memberi mereka semangat baru, meningkatkan kualitas hidup, dan mengurangi risiko gangguan mental seperti depresi.

Beberapa cucu bahkan mengajak kakek-nenek mereka ke kafe, kedai minuman kekinian, atau restoran baru sebagai bentuk “healing” bersama. Tak sedikit pula yang menyesuaikan gaya hidup mereka dengan kebiasaan sederhana para lansia, namun tetap memberikan perhatian kecil yang bermakna.

“Kita cuma punya sekitar 30 ribu hari dalam hidup. Bagi kakek-nenek saya, setiap hari adalah bagian dari hitungan mundur. Bonus kerja bisa saya kejar nanti, tapi waktu dengan mereka, kalau hilang, gak akan kembali,” kata Xiaolin, seorang cucu penuh waktu berusia 24 tahun.

Pro dan Kontra Fenomena Cucu Penuh Waktu

Fenomena ini memunculkan diskusi publik di China. Banyak yang memuji langkah para pemuda ini sebagai bentuk bakti keluarga.

“Bayar orang luar buat rawat lansia itu mahal. Kalau keluarga sendiri yang rawat, pasti lebih perhatian dan hangat,” tulis seorang warganet di platform Weibo.

Namun tak sedikit pula yang mengkritik bahwa tren ini tak bisa diterapkan secara luas.

“Jadi cucu penuh waktu itu butuh modal juga. Berapa banyak sih kakek-nenek yang pensiunnya cukup buat menghidupi dua orang? Kakek saya petani, pensiunnya cuma 100 yuan (±Rp200 ribu) per bulan.”

Masalah ketimpangan ekonomi dan fasilitas sosial di pedesaan menjadi hambatan utama. Tidak semua keluarga memiliki sumber daya yang memungkinkan pola ini berlangsung jangka panjang. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa fenomena ini justru melanggengkan ketergantungan ekonomi antaranggota keluarga.

Antara Keterpaksaan dan Keikhlasan

Di satu sisi, keputusan menjadi cucu penuh waktu adalah reaksi terhadap realitas sulit: minimnya lowongan kerja, persaingan ketat, dan tekanan sosial. Namun di sisi lain, ini juga jadi momentum reflektif bagi anak muda untuk memaknai ulang relasi keluarga, peran sosial, dan arti produktivitas di luar pekerjaan formal.

Fenomena cucu penuh waktu bukan sekadar tren viral, tetapi gambaran nyata tentang bagaimana krisis membuka ruang solidaritas. Di tengah dunia yang makin individualistik, hubungan antargenerasi yang tulus justru bisa menjadi pelipur lara sekaligus pijakan masa depan yang lebih manusiawi.

You Might Also Like

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat
Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya
Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia
Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih
TAGGED:ChinaCucu Penuh WaktuFenomenaPengangguran
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article FEB UI Dorong Gen Z Siap Hadapi Tantangan Kerja di Era AI dan VUCA
Next Article Profesi Anti Mainstream Tengah Populer di Kalangan Gen Z
1 Comment
  • Pingback: Krisis Pekerjaan di AS, Banyak Anak Muda Jadi Pengangguran

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

Lolos dari Selat Hormuz! Pertamina Jaga Pasokan 2 Juta Barel Minyak Bagi Ketahanan Energi RI

Korupsi Masuk Jantung Penegak Hukum, Polri Bongkar 3 Mega Kasus

Janji Tinggal Janji? Kepercayaan Warga Karo Tergerus di Tengah Sengketa RSUD Kabanjahe

Ekonom Sebut Gebrakan B50 Akan Perkuat Rupiah, Selamatkan APBN dan Stop Impor Solar

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

EkonomiTerkini

Gas CNG Merah Putih Hadir! Hemat 40%, Kompor Lama Tetap Bisa Dipakai

1 week ago
EkonomiTerkini

Bahlil Desak PLN Gerak Cepat Atasi Kegelapan Warga Kalimantan dan Sumatera

1 week ago
EkonomiTerkini

Purbaya Bantah Tuduhan Obligasi Patriot Danantara Jadi Sarana Pencucian Uang

1 week ago
EkonomiTerkini

Gas Murah, PHK Mereda! Jurus Bahlil Selamatkan Industri, Buruh Bernapas Lega

1 week ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index